Pengalaman Melahirkan Bayi Prematur

Pengalaman Melahirkan Bayi Prematur. Saat memasuki fase kehamilan, saya tidak pernah mengingat hal buruk maupun hal yang tidak menyenangkan saat kehamilan sebelumnya. Yang saya ingat hamil itu selalu menyenangkan. Padahal saat hamil saya sama seperti ibu yang lainnya, mual, muntah, sulit makan dan yang seputar itu. Tapi tak pernah terfikir kan jika itu bagian yang sulit. Toh hampir semua ibu mengalami nya. Jadi ya dinikmati saja.

Apalagi jika hamil saya sangat luar biasa di istimewa kan, apa-apa rasanya menyenangkan sekali. Rasanya pengen hamil terus kalau sudah seperti itu. Namun semua berbeda ketika tiba-tiba saya harus di opname pada kehamilan kedua saya pada Februari 2017 yang lalu. Semuanya menjadi tidak sesederhana apa yang saya fikirkan sebelumnya. Cerita nya ada disini. Dilanjutkan opname kedua setelah itu yang akhirnya anak kami harus “hadir” ke dunia ini lebih cepat dari seharusnya yang biasa disebut bayi prematur.

Melahirkan Bayi Prematur Secara Normal

Setelah di opname di usia kehamilan 25miggu, saya kembali kontrol bulanan ke klinik bersalin favorit kami. Datang seperti ibu yang lainnya, antri dengan sabar dan dipanggil nomor antrian pada pukul 21.00 malam. Tiba-tiba wajah dokter kandungan tidak sesantai biasanya. Beliau langsung berkata malam itu juga saya harus masuk ke IGD RSBP, tempat beliau bertugas pada siang hari. Jadi maksudnya saya masih dalam pantauan beliau walau telah masuk rumah sakit.

Saya dan suami bingung. Kenapa harus ke rumah sakit. Dengan tenang beliau menjelaskan jika air ketuban saya semakin sedikit dan bayinya harus segera dikeluarkan. Kami berdua langsung berpandangan. Memang sebelumnya beliau sudah meminta saya bedrest total alias harus cuma berbaring di tempat tidur. Namun ibu sedunia juga tau, jika masih ada balita dirumah dan kita hanya berdua maka berbaring total itu sangat sulit.

Akhirnya tengah malam saya dan suami sampai di IGD. Kami ternyata sudah ditunggu para perawat IGD karena sebelumnya dokter kandungan saya sudah menelepon dan meminta mereka bersiap. MasyaAllah, ini termasuk nikmat dan kemudahan yang luar biasa bagi kami.

Setelah 2hari di rumah sakit (saya masuk hari Rabu), tidak ada tanda bayi kami dapat lahir secara normal. Akhirnya saya dicoba di induksi. Setelah 24jam di induksi tanda-tanda bayi ingin keluar juga belum ada, yang ada malah saya selalu ingin tidur. Sampai perawat yang piket berkata kepada temannya “Ibu ini sepertinya gak ada reaksi apapun setelah di induksi, malah makin enak tidur”.

Induksi sebenarnya agak menakutkan bagi saya. Karena dari cerita orang lain yang saya dengar dan bidan yang menjaga saya saat melahirkan anak pertama bahwa induksi itu sakit sekali. Lebih baik tidak di induksi. Maka saya sudah mempersiapkan diri bahwa ini akan sakit sekali. Tetapi MasyaAllah, rasa sakit itu tidak ada saya rasakan. Malah seperti tidak diberikan apa-apa.

Hari Siang siang, seperti hari sebelumnya pukul 12 siang adalah jadwal calon bayi kami di cek jantung./ (Karena saya masuk IGD pukul 12 malam, dan pengecekan dilakukan setiap 12 jam). Saat pemeriksaan jantung bayi, ternyata saya sudah ada bukaan. Pantas saja pinggul saya sudah terasa nyeri. Bidan senior mulai menelpon dokter kandungan saya, mengatakan baru mulai bukaan. Apa ditambah saja induksi nya. Rasanya nyeri pinggul saya makin bertambah.

Saat pemeriksaan jantung bayi, saya di dampingi bidan magang. Saya meminta bidan tersebut untuk memanggil suami saya, karena saya haus sekali. Bidan itu berbaik hati ke kamar dan mengambilkan minum untuk saya, tapi suami saya tidak bisa ikut. Karena ada peraturannya yaitu “di ruangan pemeriksaan ini suami tidak boleh masuk. Nanti saat di ruangan bersalin baru suami boleh mendampingi“.

Tapi buk.. lanjut sang bidan magang, suami ibuk sedang makan nasi Padang. Antara mau nangis sama ketawa dengarnya. Lugu banget. Hahaha, iya sih tadi sebelum saya masuk ruang pemeriksaan saya minta di belikan nasi Padang ke suami. Wajar saja jika dia sedang menikmati nya dan tidak tau istrinya sudah hampir melahirkan.

Tapi saya tetap butuh di dampingi. Saya bertanya di mana ruang bersalin, lalu bidan magang tersebut menunjuk satu ruangan tepat di depan kami dan hanya dipisahkan sekat. Tanpa memberikan aba-aba saya langsung berdiri dan berjalan ke arah ruangan bersalin. Membuat bidan magang tersebut kaget dan berteriak memanggil seniornya. Saya cuma mau suami saya masuk dan mendampingi saya, jadi jika hanya pindah tempat tidur sedikit toh tak masalah. Hahaha ternyata tidak begitu Eka…., karena saya sudah mulai ada bukaan, maka berjalan ke ruangan dekat itu membuat bayi saya hampir keluar.

Para bidan kelabakan menaikan saya ke tempat tidur melahirkan (apa ya itu namanya). Mereka tergopoh-gopoh memasang penyangga kaki. Bayi saya sudah mulai kelihatan. Tidak berapa lama suami saya sudah ada di sebelah saya. Ya.. saya cuma mau ada dia. Sambil berbisik menyuruh istiqhfar dan berdoa dia memegang erat tangan saya. Saya cuma butuh itu biar kuat. Tapi selain mengajak istiqhfar dia juga membisikkan kepada istrinya “habis ini kita makan nasi Padang ya”. Ya.. inilah alasan kenapa dia harus ada di dekat saya, hahaha ada aja yang membuat rasa sakit jadi berkurang.

Para bidan senior langsung menelpon dokter kandungan saya, mereka semua kaget. Akhirnya di instruksi kan dari telepon untuk membantu saya, karena beliau masih di gedung sebelah. Alhamdulillah, setelah pada bidan bersuara terus untuk saya menahan bayi saya sebentar lagi sampai peralatan siap (biasanya disuruh ngeden biar bayi nya keluar, ini malah disuruh tahan), akhirnya bidan berkata “ya Bu silahkan di lepaskan pelan-pelan”. Bayi kami lahir dengan sehat dan mungil. Iya mungil sekali dengan berat 1,7kg dan kami hadiah kan nama Maryam Syaffira Mufasa. MasyaAllah luar biasa nahannya, bukan ngeden nya.

IMD (Inisiasi Menyusui Dini) Yang Tertolak

IMD (Inisiasi Menyusui Dini) adalah proses penting setelah melahirkan dan menjadi impian saya. Tapi tidak untuk kali ini. Berat badan bayi kami masuk ke dalam kategori BBLR (berat badan lahir rendah) yakni dibawah 2,5kg maka bayi saya harus segera masuk ke ruangan NICU (ruangan perawatan insentif untuk bayi baru lahir).

Para bidan mengatakan bayi kami terlalu kecil dan akan sangat kedinginan jika melakukan IMD. Selain itu IMD membutuhkan waktu yang tidak sebentar sedangkan kondisi bayi belum di observasi sepenuhnya. Jadilah saya mengikuti saran para bidan, namun sebelum nya saya ingin memeluk bayi kami dan meneteskan ASI pertama saya ke mulutnya langsung. Itu sudah cukup membuat bahagia.

Berapa Banyak Jahitan Melahirkan?

Setelah melahirkan seperti biasa, para bidan akan menjahit lagi jalan lahir atau sekedar membersihkan nya jika tidak ada jahitan. Ternyata bidan yang membantu saya adalah adik kelas saya saat SMP. Jadilah dia memulai percakapan tentang dimana saya sekolah karena sepertinya tidak asing, ya sebenarnya wajah dia juga tak asing bagiku hanya pikiran kan cuma ke anak yang mau keluar ya. Alhamdulillah prosesnya jadi tidak terasa karena ngobrolnya asik.

Ada yang tau gak Mak berapa banyak jahitan yang di dapatkan setelah melahirkan? Saya tidak pernah mengetahuinya. Karena dokter dan bidan yang membantu saya tidak pernah mengatakannya walaupun saya tanya.

Saat melahirkan anak pertama saya pernah bertanya kepada dokter tentang berapa banyak jahitan saya. Dokternya hanya menjawab “ratusan” ala iklan tango. Dan akhirnya menjelaskan jika jumlah jahitan itu tidak penting dan malah akan menggangu jika kita tau dan memikirkannya.

Padahal saya ingin tau sekali berapa jahitan anak pertama saya dulu. Karena saya anak pertama dan ibu selalu bisa menceritakan dengan seru betapa dulu saya dilahirkan menghasilkan 18jahitan di jalan lahir. Hahaha jadi ceritanya saya pengen punya cerita yang sama ke anak. Tapi benar kata dokternya, itu jadi tak penting saat kita dan bayi sehat selamat.

Alhamdulillah pengalaman yang luar biasa melahirkan dibantu oleh dokter, bidan dan perawat yang luar biasa baik semuanya. Mendapatkan perawatan serta yang luar biasa memuaskan tapi tanpa biaya apapun. Semuanya tentu tidak akan mudah jika tidak Allah mudahkan. Next insyaallah akan menuliskan bagaimana merawat bayi prematur dirumah.

21 thoughts on “Pengalaman Melahirkan Bayi Prematur

  1. Aku baca postingan ini deg-degan mulu, maklum aku belum pernah mengalami yg namanya lahiran (yee, nikah aja belooman :p wkwk) Memang benar ya, ibu melahirkan itu luar biasa sekali. Baik yg lahiran normal, sesar, atau melahirkan bayi prematur. Jasanya tidak pernah bisa dibeli oleh apapun.

  2. Mba eka ;( saya lagi hamil dan meneteskan air mata membaca perjuangan mb dan si buah hati, hiks….
    Selamat atas kelahirannya serta semoga Tuhan senantiasa menjaga si kecil dan bundanya agar selalu sehat walafiat

  3. Sama Mbak nggak pernah tahu ebrapa jahitan setelah melahirkan itu. Bidannya nggak menghitung juga. Pas saya tanya bialngnya banyak. Karena ada jahitan di dalam dan di luar. Duh nggak mengerti hehe.

  4. Kalau soal jahitan aku selalu dikasih tahu lho mba. Dua kali melahirkan, jahitanku banyak semua. Apalagi anak kedua yang lahirnya hampir 4 kilogram. Jadi ingat, mirip gitu sama dirimu mba, mau jalan aja ke ruang bersalin. Eeh ga taunya rasanya si bayi udah mau mbrojol.

  5. Masyaallah, pengalaman yg luar biasa mba.. hebat bener di induksi gak berasa sakit mbaa? hehehe

    Alhamdulillah, yg penting ibu dan bayinya sehat yaa..

  6. Pengalamannya luar biasa mbak, apalagi si kecil dengan BB yang kecil dan selalu sehat ya. Saya juga anak pertama gagal IMD mbak tapi hari ketiga dia mau dan puji Tuhan sehat sampai saat ini.

  7. Wah, kebayang deh aku kalo ngelahirin bayi prematur. Paniknya kayak apa. Saat ngelahirin pas waktu aja, aku selalu panik. Alhamdulillah ya, akhirnya semua lancar. Pastinya, ini jadi pengalaman tak terlupakan.

  8. MaasyaaAllah
    Selamat y Mba semoga jd anak kebanggan ayah bundany aamiin
    Cerita melahirkan selalu unik dan seru y, Mb
    Apalagi BTS-nya
    Setiap ibu adalah pejuang
    Selamat memulihkan diri juga y, Mba 🙂

  9. Kak Ekaaa…
    Barakallahu fiikum untuk kak Eka, bayi, kakaknya dan suami.
    semoga sehat-sehat selalu.

    Aku merinding penuh haru saat kak Eka menuliskan pengalaman melahirkan prematur ini. Semoga Allah beri sebaik-baik pahala untuk seorang Ibu yang melahirkan penerus agamaNya.
    Aamiin~

  10. Whoaaaa..pengalaman luar biasa ya mbak. Sehat-sehat selalu mbak dan dedek, eh sekeluarga deh semua. Aku pun sekitar 3 bulan lalu melahirkan anak kedua, jadi ingat lagi kenangan kala itu.

  11. Wah saya harus tos nih sama Maryam. Hehehe. Karena saya juga dilahirkan secara prematur, tapi caesar.

    Kata ibu saya, beliau melahirkan saya dalam usia kandungan 7 bulan lebih satu minggu. Berat badan saya saat dilahirkan 1kg 3ons. Hehehe.

    Terus ibu saya balik duluan, sementara saya masih perlu perawatan di inkubator selama satu bulan. Dulu Kata ibu saya juga saya minum susunya khusus. Mereknya lupa apa hehee

    Semoga Maryam sehat selalu ya Mba 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *