Menghadapi Anak yang Suka Mengadu Tanpa Mematahkan Kepercayaan Mereka

“Umi… Adik pakai barang kakak tanpa izin!”
Belum sempat aku menjawab, suara lain ikutan menyusul.
“Cuma pakai sebentar lho..”.
Pagi hari, kalimat seperti ini bisa kudengar berkali-kali, sahut menyahut. Aku yang memasak di dapur, kadang baru duduk sejenak untuk menyeruput kopiku yang mulai dingin pun bahkan tak sempat langsung meriubah ekspresi wajahku. Adegan selanjutnya, kakak mulai berlari mengejar adik, adiknya lari ke arahku di dapur. Tidak pernah ada masalah yang mendesak (dimataku) tapi kenapa kejadian seperti ini membuat tenagaku terkuras. – Menghadapi Anak yang Suka Mengadu Tanpa Mematahkan Kepercayaan Mereka.

Sering aku berfikir, bagaimana ya cara merespon ini dengan baik, namun yang bisa ku lakukan akhirnya hanyalah menarik nafas panjang. Jika napas panjang tak sempat lagi ku lakukan maka tahap selanjutnya adalah wajah tak bahagiaku. Kadang hatiku kacau bukan karena ini bukan masalah besar, tapi karena aku merasa ini kok nggak habisnya ya.

Menghadapi anak yang suka mengadu, membuat hatiku sering bertanya
“Apakah ini karena mereka bergantung padaku?”
“Gimana kalau mereka mengadu karena mereka yakin aku pasti mendengarkan?”
“Bagaimana kalau aku yang membuat mereka suka mengadu?”
“Kapan mereka berhenti…”

Aku dan Cerita-ceritaku

Aku suka sekali bercerita, kepada ayahku, kepada ibuku dan kepada suamiku. Bahkan aku sering mengatakan pada suamiku, aku ingin anak-anak tumbuh dengan kebiasaan bercerita. Mereka mau menceritakan segala hal yang mereka alami hari ini di meja makan saat makan malam. Mereka mau berbaring di kamarku sebelum tidur untuk bercerita. Bukankah aku yang ingin anakku menceritakan segala hal padaku.

Sekarang, saat mereka mengadukan ini itu aku kesal. Saat adik menceritakan kakaknya melakukan salah atau kakak menceritakan adiknya merepotkan guru di sekolah kenapa aku kesal. Malah di dalam hatiku, aku ingin mereka berhenti dengan aduan-aduan ini.

Bagaimana jika responku yang salah malah membuat mereka tidak mau banyak bicara dan malah tidak mau menceritakan apa-apa sama sekali.

Mengadu vs Bercerita

Setelah menulis paragraf diatas, akhirnya aku pahami. Ternyata ada beberapa ketakutanku sehingga aku tidak totalitas dalam bersikap dan kejadian ini berulang dan berulang terus terjadi. Lalu bagaimana bersikap bijak dan tidak terlalu membesarkan dalam menghadapi aduan dan laporan-laporan kecil?

Aku ingin merefleksikan apa yang telah terjadi selama ini.

  • Pertama, aku merespon terlalu cepat setiap aduan. Sehingga langsung berpikir anak mengadu itu melelahkan.
  • Kedua, karena aku lelah mendengarnya akhirnya aku menilai setiap laporan kecil sebagai kebiasaan mengadu yang harus dihentikan. Padahal setelah kupikir lagi, tidak semua cerita lahir dari keinginan menjatuhkan. Ada yang hanya karena anak-anakku ingin didengar, ingin ditemani, atau belum tahu bagaimana menyampaikan perasaannya dengan tepat.

Jadi… Apa Bedanya?

Aku mencoba mencari cara untuk menjelaskan kepada anak-anakku tentang sikap mereka selama ini. Apa itu bercerita dengan seru dan apa itu bercerita untuk mengadukan orang lain. Berikut beberapa catatan yang ku buat untuk ku bahas bersama anak-anak.

Mengadu karena ingin menjatuhkan. Apa itu mengadukan karena ingin menjatuhkan? ika ada anak yang mengadukan anak lain biasanya tujuannya:
1. Ingin membuat orang lain dimarahi.
2. Mencari posisi “aku yang benar”.
3. Ingin menang.
Contoh: “Umi, Kakak tadi nggak sikat gigi!” Padahal tidak berdampak langsung.

Bercerita karena ingin berbagi. Apa itu bercerita karena ingin berbagi? Yaitu saat kamu hanya ingin:
1. Umi mendengarkanmu.
2. Kamu ingin Umi tahu hal yang kamu lakukan/ terjadi.
3. Kita bisa ngobrol seru dan berbagi pengalaman.
Contoh: “Umi, tadi aku dan Kakak ada ujian dadakan!”
Tidak ada agenda tersembunyi, apalagi yang membuat orang lain tidak nyaman🙂

Terus gimana caranya agar anak-anak selalu ingat? Aku membuatkan catatan dan kutempel di dinding. Ini berlaku beberapa hari ini. Jadi saat ada kejadian, aku hanya menunjuk dinding itu. Kata yang ku tuliskan.

“Kalau kamu cerita supaya seseorang dimarahi, itu namanya mengadu.
Tapi kalau kamu cerita karena butuh bantuan atau ingin berbagi, itu namanya bercerita.
Umi selalu mau dengar cerita.”

Aku nggak tahu apakah cara ini tepat dan akan bekerja dengan baik. Tapi aku ingin mereka bisa membedakan mana cerita yang perlu kupeluk sebagai bentuk kepercayaan, dan mana yang perlu perlahan kuarahkan agar mereka belajar menyelesaikan hubungan, bukan sekadar melaporkan kesalahan orang lain gitu.

Terima kasih untuk diriku dan tulisan yang kupaksakan untuk hadir ini. Malam ini aku sadar, apa ketakutanku, apa yang telah ku lakukan dan apa yang akan terus ku usahakan.Aku akan terus belajar, bagaimana caranya anak-anak tetap mau mengadu. Tapi mengadukan hal hal baik, hingga mereka yakin ada niat baik di balik kata-katanya.

Ternyata dalam setiap aduan mereka itu tidak hanya hal buruk tapi hal hal kecil tapi bermakna. Seperti memahani niat sendiri saat bercerita/mengadu. Karena kelak di dunia yang luas ini , nggak hanya kemampuan berbicara yang harus menjaga mereka tapi juga kejujuran di dalam setiap kata-kata.

Osaka- 2 Februari 2026