Kadang Kita Terlalu Keras Pada Diri Sendiri. Menjadi dewasa ku kira itu mudah. Tapi saat kujalani ternyata semua berliku, bahkan untuk memahami emosiku sendiri kadang aku masih kesulitan. Dewasa yang kumaksud adalah dewasa secara emosi. Hingga tahun lahirku memasuki tahun ke 40 ini aku masih merenungkan ada arti kedewasaan emosi itu.
Saat menulis inipun aku masih sulit menjelaskan emosiku hari ini. Aku tak suka, tapi tak sepenuhnya bisa mengungkapkannya. Apa benar aku belum dewasa secara emosi? Kurasa sepertinya iya. Jika kedewasaan emosi diangkap bisa hadir dalam setiap perasaan yang dirasakan tanpa dikuasai dan tanpa menyangkalnya maka iya aku kurang dewasa.
Semakin banyak kubaca semakin banyak label yang kuterima tentang perasaan dan emosi ini. Jadi lebih baiknya ku tuliskan saja dulu.
Hari ini Alhamdulillah aku berhasil pergi sendiri mengurus sekolah Faqih di Jepang. Aku peri ke kantor City Hall Toyonaka Osaka dengan bermodalkan google map. Sesampainya disana aku bermodalkan google translate.
Kegalauanku akan sekolah TK terdekat yang sudah penuh membuatku ingin mengajukan formulir di sekolah yang masih terbuka peluangnya untuk masuk ditahun ajaran ini.
Sepulangnya dari City hall aku rencananya ingin belanja, maka aku bersepeda hampir 6KM pulang pergi. Kelelahan sekali kerena jalur pulang ku mendaki. Mungkin ini yang membuat emosiku jadi kurang stabil. Sepulang belanja aku memasak makan malam, aku tak sempat menyimak semua celotehan anak-anakku.
Saat mereka tidur, aku lanjut food prep untuk besok pagi agar tidak ada yang terlambat kesekolah. Salah satu tantangan sekolah di Jepang ini adalah, kami tidak bisa ikut menikmati MBG di sekolah karena sudah pasti hampir semua menu utamanya tidak halal.
Apakah kelelahan fisik bisa menimbulkan kelelahan mental? Mungkin juga itu yang membuat emosiku campur aduk. Mungkin hari aku terlalu cepat menilai diriku sedang tidak baik secara emosional.
Padahal aku tahu mungkin tubuhku hanya sedang kelelahan. Ternyata, aku lelah dan butuh istrirahat.” Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri tanpa mau menerima sinyal tubuh.
Sinyal tubuhku sudah menyerah dan mengibarkan bendera putih tapi masih tetap kupaksakan. Seperti tadi saat aku pulang berbelanja. Setelah mengayuh sepeda 1.5KM aku kelelahan melalui tanjakan yang cukup terjal. Aku tetap berusaha mengayuh sepedaku walau pahaku panas, napasku ngos ngosan dan keringat ku bercucuran. Padahal suhu Jepang saat ini 3 derajat.
Osaka- 3 April 2026
