Bertambahnya usia adalah hal yang tidak bisa dihindari dalam proses kehidupan, termasuk saat memasuki usia dewasa yang kadang masyarakat menyebut usia matang. Ada cukup banyak pembahasan yang menjelaskan jika usia dewasa madya singkatnya bisa mulai dari 40 tahun hingga 60 tahun. Perubahan saat memasuki usia dewasa madya ini juga tidak bisa ditolak mulai dari perubahan fisik hingga kesehatan. Lalu bagaimana usia dewasa ini memaknai cita-cita? Apakah masih bisa perempuan di usia yang sematang ini memiliki cita-cita?
Perubahan Memaknai Cita-Cita
Dalam buku Identity and the Life Cycle karya Erikson, dia menjelaskan bahwa di usia dewasa awal yaitu 20-40 tahun, individu sedang membangun identitas dewasa melalui pencapaian, relasi, dan peran sosial. Ambisi dan pencapaian menjadi bagian penting dari pembentukan diri. Itu adalah darah muda, punya ambisi besar, cita-cita yang banyak dan keingian untuk diakui.
Semua akan berubah saat memasuki usia 40 tahun keatas yang lebih dikenal dengan paruh baya. Diusia ini banyak orang yang sudah mulai bergeser fokusnya. Yang dulunya mengejar pencapaian sekarang mulai ingin lebih banyak berkontribusi. Yang penuh dengan ambisipun mulai adem dan ingin menikmati keberlanjutan hidup. Lalu yang lebih bermakna, dari yang hanya memikirkan diri sendiri, aku aku aku beralih ke ingin berdampak bagi orang lain.
Memasuki fase ini, individu terdorong untuk memberi makna melalui kontribusi seperti menikmati melihat anak yang semakin besar, membangun komunitas yang sesuai dengan minat diri, ingin berbagi pengetahuan di lingkungannnya. Fase ini benar-benar fase emas, jika umat islam memaknai memasuki fase 40 tahun benar-benar menjalani misi terbaik hidup seperti conoth terbaik yang ada yaitu nabi Muhammad SAW.
Pergeseran arah hidup ini mulai terasa walau terkadang sangat pelan. Sebuah teori dari Laura Carstensen yaitu Socioemotional Selectivity Theory, menjelaskan bahwa seiring bertambahnya usia, manusia cenderung mengubah tujuan hidupnyayang dulu ambis dengan membuat beragam tujuan jangka panjang dan prestasi menjadi kearah tujuan yang lebih emosional, bermakna, dan bernilai relasional. Lebih ingin bermanfaat sebanyak-banyaknya.
Perubahan-perubahan ini terjadi bukan karena kemampuan yang menurun, melainkan karena cara otak memproses waktu ikut berubah. Ketika seseorang memasuki usia sekitar 40 tahun, waktu tidak lagi dipersepsikan sebagai sesuatu yang tak terbatas. Akibatnya, perhatian bergeser bukan lagi pada seberapa jauh ingin melompat, tetapi pada apa yang sudah ada saat ini, hanya ingin dmenjaga dan merawat.
Memudarnya Cita-Cita Perempuan
Pada banyak perempuan, pergeseran di usia ini kerap terasa sebagai “memudar”. Dimana perempuan terutama yang telah menjadi ibu merasa impian lama terasa menjauh, dorongan untuk mengejar sesuatu dengan cara yang sama seperti dulu mulai melemah.
Bagi perempuan yang sudah menjadi ibu, perasaan ini sering muncul bersamaan dengan rutinitas yang panjang. Bertahun-tahun menemani anak, mengurus rumah, mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding diri sendiri, membuat perhatian terhadap diri sendiri sering berada di urutan terakhir. Bukan karena tidak punya mimpi ataupun cita-cita, tetapi karena hidup sehari-hari sudah menyita banyak tenaga dan pikiran.
Rasa “memudar” dalam diri perempuan juga tak lepas dari cara masyarakat memandang antara usia dan perempuan. Perempuan mencapai masa emasnya saat usia muda. Setelah usia perempuan bertambah, maka dianggap ruang untuk bermimpi sudah cukup apalalagi jika ditambah sudah memiliki gelar istri dan ibu.
Saat kamu membaca tulisan ini, apa kamu juga mulai bertanya,
“Apa aku masih punya cita-cita?”
“Atau apa aku hanya sedang menjalani peran yang ada?” Cukup jalani saja peranmu itu.
Narasi-narasi seperti ini membuat perempuan menganggap ruangnya untuk bermimpi sudah semakin sempit, dan mengira dirinya sudah tidak memiliki kemampuan dan kesempatan. Padahal semua itu hanya perubahan fokus hidup.
Sebagai contoh, perempuan yang sudah menjadi istri berubah cita-citanya untuk menciptakan kenyamanan terbaik bersama pasangan. Perempuan yang menjadi ibu berubah cita-citanya untuk menjadi guru pertama dan guru terbaik untuk anak-anaknya.
Mari tetap Menghidupkan Mimpi
Semua orang siapapun dan dimanapun, pasti pernah memiliki mimpi. Sebagai seorang perempuan, kita juga pasti memiliki banyak mimpi. Karena itu, diusia yang memasuki dewasa ini, mari kita tetap menjaga, merawat bahkan menciptakan mimpi baru untuk dijalani.
Menghidupkan mimpi di usia dewasa tidak selalu berarti memulai sesuatu yang besar. Namun itu bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana seperti kembali menulis, belajar menu baru, membangun ruang yang lebih sehat untuk diri sendiri, atau sekadar memberi waktu untuk hal yang selama ini tertunda seperti berolahraga atau sekadar merawat wajah lagi.
Di usia ini, mimpi dan cita-cita kita tidak lagi untuk dibuktikan kepada siapa pun. Mimpi ini cukup hidup sebagai penanda bahwa kita masih terhubung dengan diri sendiri. Mari mulai dengan “Yach, aku sangat peduli pada diriku”.
Apa pun peran yang sedang kita jalani saat ini, perempuan single, istri, ibu, atau ibu tunggal, dulu mungkin hidup sering kali membuat mimpi kita ditempatkan di bagian yang paling belakang. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena ada banyak hal lain yang lebih dulu harus diselesaikan. Tapi selalu ada kesempatan untuk memulai lagi.
Yakinlah, di balik peran-peran yang kita jalani setiap hari, selalu ada ruang untuk kita bertumbuh, dengan cara yang lebih membahagiakan dan penuh kesadaran. Mari terus hidupkan mimpinya dan sambut usia dewasa ini dengan bahagia.
Selemat memasuki usia 40 tahun bagi para perempuan kelahiran 1986. Kita hanya menjadi dewasa, bukan menjadi tak bisa apa-apa.
