Bismillah kita mulai lagi bercerita di 2025 ini ya. Kali ini aku mau bercerita tentang rasa sepi yang kadang hadir setelah jadi ibu ini. Mungkin ini efek LDM juga yang baru sebulan ini dimulai lagi.
Kali ini cerita nya versi pertemanan saja ya. Karena ada nih perasaan kayak gini hadir di aku akhir-akhir ini. Biasanya kita diwaktu muda (sekarang nggak muda lagi ceunah) itu kan punya cukup banyak teman ya. Ada yang dekat sejak SMA, ada yang jadi teman curhat saat kuliah, ada juga teman-teman kerja yang sering hangout bareng sepulang kantor.
Rasanya, mudah saja jika ingin mencari teman (tapi itu dulu). Kadang ya, kita duduk sebentar di kantin, ngobrol di pantri, atau sekadar balas status lucu di media sosial—dan pertemanan pun tumbuh.
Tapi setelah jadi ibu rumah tangga, kok rasanya semua nggak semudah itu ya (apa aku aja huhuhu). Perasaanku semuanya berubah.–Ini pertemanan luring ya bukan berteman versi daring.
Kalau dulu bisa ngatur waktu luang nya bebas, kok rasanya sekarang sudah penuh dengan aktivitas bareng anak, pekerjaan rumah, dan daftar tugas yang kayaknya tu kok nggak pernah selesai.
Nggak bisa dipungkiri ini mungkin karena sekarang hari-hariku berputar di sekitar rumah: dapur, kamar tidur, ruang tamu.
Teman-teman lama mulai menjauh, bukan karena kami bertengkar ya—tapi karena ritme kami tak lagi sama. Kadang aku sampai bertanya sendiri, “Apa aku terlalu sibuk sampai lupa memberi kabar?” Tapi pernah aku coba menyapa lebih dulu, tak jarang pesanku hanya dibaca, tak dibalas (atau lupa dibalas).
Ada juga yang membalas, tapi kok pembicaraan nggak bisa mengalir seperti dulu. Kaku. Hambar. Pernah juga aku tuh sampai berpikir, mungkin aku yang salah. Mungkin aku kurang pandai berteman, kurang ramah. Atau justru terlalu cuek. Mungkin aku nggak pandai menempatkan diri. Dan banyak self talk lain ramai kayak pasar.
Bahkan kadang yang ku anggap teman, ternyata kadang menganggap ku teman. Tapi cuma kenalan. Ini aku yang terlalu ge-er kali ya.
“Kesepian bukan karena kita sendiri, tapi karena kita merasa tak ada yang benar-benar memahami.” – Umijourney
Apalagi tranding media sosial sekarang, melihat ada ibu-ibu yang tetap punya lingkaran pertemanan solid. Nongkrong bareng, tukar kado, liburan bareng anak-anak. Kok aku nggak punya bestie ini. Ini efek buruk kebanyakan scroll sosmed jeung.
Tapi serius lho ada perasaan gitu. Aku tuh bukan mikir pengen gaya hidup seperti mereka—tapi pada kehangatan yang mereka miliki. Kayak kok bisa orang-orang berteman baik gitu kok aku nggak. Instrospeksi diri ajalah (kata burung disana).
Ya intinya self talk aku sudah macam-macam riuh ramai dalam kepala dan dalam kesendirian. Setelah menulis beberapa paragraf ini malah hati ku lega dan terbuka. Ahaaa itu hanya self talk negatif ku, coba sejenak aku putar menjadi self talk positif dan melihat hal baik disekitar ku kali ya.
Namanya juga kita hidup ya, Allah selalu punya caranya sendiri untuk menunjukkan kasih sayang-Nya. Saat ini aku mulai melihat sekeliling dan aku mulai menyadari, bahwa teman tidak selalu datang dari luar.
Alhamdulillah, aku ada suami yang mendengarkan ceritaku di malam hari, Alhamdulillah ada anak-anak yang mulai mengerti saat aku terlihat lelah, dan bonus luar biasa dari Allah, saat ini ada adik-adikku yang jadi tempatku curhat—mereka semua adalah teman sejatiku. Bestie tutie frutie.
“Teman sejati bukan hanya mereka yang tumbuh bersama kita, tapi mereka yang tinggal saat dunia terasa menjauh.”
Bismillah kembali men-set diri sendiri bahwa berteman sebagai ibu bukan soal banyaknya jumlah teman, tapi siapa yang benar-benar hadir, walau jarang bertemu. Kadang hanya satu-dua orang. Tapi cukup untuk membuat hati hangat.
Hei.. aku benar-benar bahagia lho setelah menulis ini. Diawal menulis aku seperti membawa kisah sedih nelangsa banget. Namun diakhir tulisan ini aku merasakan kehangatan pada diriku sendiri. Alhamdulillah ternyata menulis selalu jadi obat kemasan sachet untuk hatiku. Kecil tapi topcher.
Oh iya itu cerita ku hari ini. Aku ingin tahu, bagaimana dengan kamu? Pernah ngga sih kamu merasakan perubahan seperti aku ini?
Berapa banyak waktu yang kamu punya untuk berteman? Lalu gimana cara kamu mengatur waktumu sebagai ibu agar tetap bisa terhubung dengan teman?
Yuk tulis di kolom komentar. Mungkin kita bisa jadi teman. Hehehe
Karena jadi ibu bukan berarti kita harus sendiri. Kadang, satu pelukan hangat atau satu kalimat “aku juga merasakannya” bisa menyelamatkan hari.
Misalkan hari ini kamu merasa tak punya teman—percayalah, mungkin kamu hanya belum bertemu mereka yang benar-benar melihatmu. #penutup ini untuk diriku sendiri sih.
Salam Sayang. //Umijourney
