Tentang Jarak yang Pernah Aku Minta Sendiri. Pernahkah kau punya doa, yang kadang kau takut saat doa itu dikabulkan? Itulah yang ku alami selama 8 tahun ini dan beberapa bulan lagi akan menjadi 9 tahun. Ada fase dimana hatiku terluka, luka yang aku sendiri tidak ingin menerimanya dan ingin mengabaikannya. Namun, yang namanya luka dia akan selalu ada jika tak kau obati. Saat hatiku terluka di kelahiran putri kedua ku, 9 tahun lalu, aku meminta kepada Allah dengan air mata dan menyampaikannya dengan terisak kepada kekasih hatiku bahwaku aku ingin jarak yang jauh sekali.
Pikiran dan Hati yang Tak Sepakat
Memang manusia itu layak ditertawakan untuk menjadi pilihan, kadang dia egois sekali, kadang dia tamak, sering juga dia berbuat baru menyesali. Semuanya dengan dalih “namanya juga manusia tempatnya khilaf”. Terdengar ringan bagi yang mengucapkan tapi belum tentu ringan bagi yang menjadi “korban” dari dalih tersebut. Seperti itulah saat kita terluka. Sulit sekali menerima dalih dan juga merasa diri sebagai korban. Namun ada kalanya kita di posisi sebaliknya.
Saat hatiku terluka, aku sering kali mengambil sisi yang berbeda untuk melihat lukaku. Contohnya saat aku marah dan benci karena ada yang melukai perasaan ku, maka aku akan berfikir “Mungkin aku pernah juga melukai perasaannya, tapi dia tidak menyampaikan amarahnya padaku. Mungkin dia memaafkan ku karena kasih sayang di hatinya. Maka kali ini aku juga tidak akan menyampaikan rasa amarahku dan akan ku maafkan”. Terdengar baik ya?
Tapi ternyata tidak seperti ini, kurasa. Tidak membicarakan perasaan kita ternyata tidak membuat semua hal menjadi baik-baik saja. Aku sempat mengira, memaafkan tanpa bicara adalah jalan terbaik. Mari kita lupakan saja luka-luka seperti angin yang baru berembus dan berlalu. Namun ternyata pikiran dan hatiku tidak sepakat tentang itu.
Perlukah Luka diberi Ruang Bicara?
Saat menulis ini, aku mulai berfikir apakah benar aku seperti yang kutulis diatas? Apakah aku orangnya yang memilih untuk diam dan melupakan tanpa memberikan ruang bicara untuk luka-luka ku. Hampir sembilan tahun berlalu dan air mataku masih ada saat aku menceritakannya. Haruskah sekarang kuberi dia ruang agar air mataku berhenti dan luka ku sembuh?
Yang mengenal ku saat usia belia ku mungkin tak akan percaya membaca aku sekarang memilih diam. Yang tak tahan melihat orang lain di pojok dan tak diajak saat bersama, yang tak tahan melihat sesuatu yang tak adil berlaku sekarang memilih diam. Ternyata sembilan tahun bisa mengubah banyak hal.
Luka yang tidak diberikan ruang untuk bicara kurasa dia bisa berubah bentuk. Kadang mungkin bisa berubah bentuk menjadi jarak, kadang berubah bentuk untuk pergi menjauh atau mungkin menjadi doa dan harapan yang membuat itu bisa dengan mudah terkabul.
Doa yang Dikabulkan
Dilukai oleh orang yang kau yakin akan mencintaimu sepanjang napasmu dan orang yang selalu kau doakan dalam sholatmu itu adalah hal yang tak mudah. Banyak pertanyaan yang muncul, kenapa mereka bersikap seperti itu, kenapa semuanya terasa aneh bagiku, bukankah katanya setelah melahirkan perempuan itu harus dijaga dan dirawat tapi kenapa aku berbeda. Dimana salahnya? Dan puluhan pertanyaan lainnya.
Saat hatimu terluka, sahabat terbaik yang bisa kamu genggam salah satunya mungkin adalah doa. Paling tidak itu yang dulu ku rasakan. Meratapi perasaan ku dalam doa. Lalu saat kekasih hatiku pulang bekerja dan dia sampai dirumah maka dia akan mendengarkan celoteh istrinya yang berurai air mata menceritakan kembali isi doa-doanya. Sambil mendengarkan dia akan mengusap kepala istrinya ini sambil berkata “Oke nanti kita pergi jauh ya ke negara yang indah”.
Akhirnya, harapan pergi jauh itu Allah kabulkan. Melewati tiga negara, Allah memudahkan perjalananku menjauh dan terbang. Allah tetapkan negara indah, dengan perantara suamiku tercinta. Tentu saja rasa bahagianya tak terhingga. Tapi apakah dengan pergi ke negara yang jauh ini, otomatis mengobati lukaku?
Aku tak bisa jawab sekarang, saat ini aku akan mengobati lukaku dengan doa serta jarak yang telah Allah bentangkan ini sesuai dengan apa yang kuminta. Apakah aku egois semuanya ku minta dengan doa? Aku yakin Allah suka.
Sekarang jarak itu sudah menjadi nyata. Aku malah tak mengerti perasaanku sendiri, aku juga tak paham untuk melabelinya dengan kata-kata. Apakah bahagia?. Rindu, sedih tapi juga ada perasaan lain yang masih tidak kupahami. Aku rasa itu mungkin tak apa-apa.
Aku akan memberikan ruang nyaman itu untuk hatiku memahaminya. Seperti dengan berani menuliskannya disini setelah hampir sembilan tahun berlalu. Aku merasa cukup baik dengan progres ku ini.
Mendekat ke Diri Sendiri
Ditempat nan jauh dan indah ini, Allah berikan aku waktu, kesempatan dan ruang yang nyaman untuk aku melihat ke dalam diriku sendiri. Saat ini akan ku nikmati proses ini dengan perlahan. Akan ku bujuk hatiku dan akan ku rangkai lagi doa-doa untuk meminta pada Allah.
Akan ku pulihkan diri dan akan ku pilihkan kata-kata indah agar Allah melirik ku. Aku akan melihat kasih sayang Allah itu begitu nyata, kuat dan dekat. Aku akan mengambil banyak kesempatan untuk bermanja-manja.
Luka dihatiku mungkin tidak langsung sembuh, dan aku juga tak ingin bersegera dia untuk sembuh. Aku akan coba memahami segala perasaanku yang ada ini. Mungkin tidak semua perasaan itu harus dinamai. Terima kasih untuk waktu yang kumiliki ini. Semoga Allah selalu menyayangiku.
Osaka – 31 Januari 2026
@Umi.Journey
