Memilih Dokter Kandungan Yang Pas | Apa saja pertimbangannya?

Memilih Dokter Kandungan Yang Pas | Apa saja pertimbangannya?. Alhamdulillah setelah membuka IUD di akhir 2019, sudah pasti resolusi 2020 nya adalah hamil lagi. Alhamdulillah tidak menunggu lama sekarang sudah memasuki usia kandungan 8pekan. Ngegas banget ya hehehe, tapi sebenarnya lebih ke pertimbangan usia saya ya hampir masuk ke 35 tahun tapi target 5 anak belum tercapai jadi memang harus ngegas biar dapat target minimal 4 anak sebelum 36 tahun.

Jadi ini adalah kehamilan ke-3 saya dan rasanya luar biasa berbeda dari kehamilan 2 Princess sebelumnya. Pada kehamilan sebelumnya saya menggunakan jasa dokter kandungan paling favorit di kota kami yang antriannya panjang banget dan harus mengambil nomor antri 2 hari atau tiga hari sebelum. Ada yang dikeluarkan tentu ada kelebihannya dari dokter tersebut yang membuat banyak ibu di kota kami memilih bersabar antri bersama beliau dan rencananya Saya ingin bertukar dokter yang lebih dekat dari rumah karena lokasi dokter kandungan sebelumnya ini lumayan jauh.

Namun dalam memilih dokter kandungan saya memiliki beberapa pertimbangan, yang mungkin bisa bermanfaat juga bagi teman-teman yang lain

1. Menanyakan rekomendasi dari teman-teman. Saya menanyakan rekomendasi beberapa teman di sekitar rumah alias tetangga (karena kami baru pindah juga ke Komplek ini) dokter kandungan yang sering dikunjungi oleh teman-teman Kebetulan juga tetangga depan rumah dan samping kanan belum lama melahirkan. Tapi ternyata yang direkomendasikan teman-teman belum tentu cocok di kita ya.

2. Jenis kelamin dokter. Saya pribadi sebenarnya tidak masalah jenis kelamin dokter yang menangani saya tetapi Pak suami tidak mau istrinya di tangani oleh dokter laki-laki terutama dokter kandungan harus bersinggungan dengan organ intim. Demi suami senang dan nyaman dan saya juga senang memutuskan memilih dokter kandungan perempuan. Eh jumpa info tambahan di Tirto.id.

3. Memilih dokter yang membuat kita nyaman dan mau menjawab semua pertanyaan dan keluhan kita. Akhirnya saya jumpa dokter kandungan yang dekat dengan rumah saat usia kandungan masih 5 Minggu saya mencoba mendatangi dokter tersebut Jadi kalau mengikuti HPHT-nya saya baru telat satu pekan tapi ternyata respon dan jawaban dokter itu membuat saya tidak nyaman bahkan saya merasa seperti mengolok-ngolok saya yang ngebet pengen hamil. Ya pasti ngebet lah kalau enggak ngapain juga saya buka IUD. -_- Ya sudah lah ya, ini jadi tambahan informasi saja bahwa saya tidak akan balik ke sana lagi.

4. Memilih dokter, Apakah Pro lahiran spontan. Tidak dipungkiri lagi mungkin setiap kota ada ya, dokter yang kalau kita nanya tuh langsung di vonis SC, hampir semua pasiennya disarankan untuk SC. Sedangkan saya pribadi lebih memilih sesuai keadaan dan situasi saja jika memang harus SC ya tidak apa-apa yang penting ibu dan bayi selamat tapi bukan berarti pilihan lahiran spontan tidak dipertimbangkan. Seperti kehamilan saya sebelumnya saya melahirkan saat usia kandungan kurang lebih 32 minggu anak saya lahir dalam keadaan prematur tapi saya melahirkan secara spontan karena dukungan dari dokter kandungan dan bidan di rumah sakit. Alhamdulillah.

5. Mempertimbangkan rumah sakit atau klinik tempat dokter bertugas. Kita tentu tidak hanya memikirkan saat kita mau periksa kandungan tapi juga sampai proses kita melahirkan. Melahirkan kedua putri kami di 2 tempat berbeda namun dengan dokter yang sama. Jadi dokter kandungan sebelumnya bekerja di sebuah rumah sakit besar pada siang hari dan praktek di klinik pribadinya pada malam hari dan di kedua tempat tersebut kita bisa melahirkan dengan nyaman.

6. Mencari dokter yang bisa menangani kondisi khusus dan berpengalaman dengan kondisi serupa. Dua kehamilan saya sebelumnya sangat istimewa yang pertama bayi saya lahir kondisi jantung bocor bawaan lahir tapi tidak diketahui hingga bayi saya berusia 3 bulan sedihnya masih terasa hingga saat ini. Lalu pada kehamilan kedua itu menjadi pelajaran bagi saya dan kami mencari dokter kandungan yang bisa memeriksa hingga seluruh organ bayi saat di dalam kandungan ternyata dokternya laki-laki. 🙁 Sedangkan bayi kedua kami lahir lebih cepat daripada seharusnya sehingga lahir dalam kondisi prematur yang dokter laki-laki tersebut sudah memperingatkan jika kondisi saya dan suami bisa menyebabkan bayi kami lahir dalam keadaan prematur. Karena suami memiliki golongan darah rhesus negatif dan dokter ini terbiasa menangani kondisi khusus orang-orang yang rhesus negatif. Dikehamilan ini saya tetap akan kembali ke dokter laki-laki ini mungkin 1x saja selama kehamilan untuk melihat kondisi calon bayi kami seperti sebelumnya.

7. Biaya pemeriksaan dan persalinan. Biaya pemeriksaan di kota kami rata-rata sama di dokter mana pun, hanya biaya persalinan nya yang mungkin berbeda antara satu dokter dan dokter yang lainnya Jadi jika memilih dokter pastikan juga tempat bersalinnya dan biaya bersalin nyaman di kantong keluarga.

Itu beberapa pertimbangan saya dan suami dalam memilih dokter kandungan, setelah pengalaman di awal kehamilan mencoba dokter kandungan yang lain ternyata saya tidak bisa pindah ke lain dokter tapi tetap juga kembali ke dokter kandungan yang sebelumnya karena pertimbangan diatas. Kenyamanan dan ketenangan hati tentu lebih utama.

Doakan ya dikehamilan ke tiga ini kami selalu sehat dan kuat hingga proses melahirkan. Tidak ada kurang satu apapun. Kalau yang sudah berpengalaman adakah pertimbangan lain dalam memilih dokter kandungan selain yang saya tulis diatas?

32 thoughts on “Memilih Dokter Kandungan Yang Pas | Apa saja pertimbangannya?

  1. Selamat atas kehamilan yang ke-3 nya mbak. Semoga sehat-sehat selalu debay dan ibunya. Semoga lancar persalinannya ya kak. Ku jadi tahu pertimbangan apa saja untuk memilih dokter yang pas saat hamil. Hehe 🙂

  2. Memilih dokter kandungan biasanya saya juga berdasarkan rekomendasi orang-orang, saya pilih dokter yang komunikatif , mau ditanya-tanya, bisa memberi solusi jika ada masalah

    1. Bener banget mba. Dokter kandungan yang ku kunjungi ramai banget itu karena komunikasi nya ngademin para ibu. Bicara lembut dan keibuan karena sudah sepuh. Selalu bikin hati tenang padahal ketuban ku sisa sedikit waktu anak kedua.

  3. Semoga sehat selalu ya Eka di kehamilan ketiga ini. Lancar semua sampai proses persalinan. Sehat semua, ya mama, ya baby.
    Btw infografis di tirto.id itu ngeri amat sih. masak pasien dengan dokter obgyn laki-laki lebih potensial meninggal? hiks

  4. Selamat atas kehamilan anak ke 3, smoga ibu dan janinnya sehat terus sampai persalinan.
    Saya juga lebih suka dokter cewe, ngga ngebayangin organ intim diperiksa sama dokter laki. Ngebayanginnya aja merinding.
    Biasanya dokter SpOG cewe antriannya banyak ya dan jumlahnya ngga sebanyak dokter laki, kudu sabar nunggu antrian.

  5. Aku juga begitu mbak memikih dokter kandungan biasanya yang jadi pertimbangan dokternya laki-laki dan sesuai referensi teman yang sudah. emakai jasa dokter tersebut sebelumnya.

  6. Kalau dulu, saya lebih dulu pilih rumah sakit baru dokternya. Pertimbangannya, selama masa kehamilan hingga melahirkan, kami akan bolak-balik ke tempat tersebut.

    Setelah pilih rumah sakit, kami baru pilih dokter. Tetapi, saat pilih dokter kandungan ataupun anak, kami justru menghindari dokter yang favorit. Alasan utamanya malas antre hahaha.

    Pernah juga nyobain pilih yang favorit karena penasaran. Ternyata, malah gak cocok. Akhirnya kembali ke dokter pilihan awal.

  7. Aku juga minta rekomendasi dokter terbaik karena semua cesar. Dokternya juga laki semua. Kalau antri nggak masalah, meski panjang banget tapi nggak perlu nongkrongi karena kalau sudah dekat giliranku, ditelpon susternya disuruh berangkat. Paling harus betah melek aja karena pernah dapat giliran jam 23.00 gara2 suami lupa daftarin.

  8. Selain pas di hati, harus cari dokter yang pas di kantong juga ya mbaa.. hehe..
    kadang tuh pengen ditangani sama dokter favorit, tapi sebelnya dokter favorit tu antriannya panjang banget , jadi malesss.. Alhasil, saat ku cari dokter kandungan, ku cari sama yg pas hari nya aja. pas aku gak kerja, pas dokternya ada. hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *