Bekal Untuk Sahabat | Tips Mengelola Emosi Orang tua

Alhamdulillah masuk pekan terakhir kelas bunda cekatan kami diminta untuk mencari buddy yaitu sahabat yang akan mendampingi kami dalam perjalanan konsisten selama 30 hari kita diminta untuk melamar dan mencari buddy dengan hati

Saya di tengah kegalauan untuk meninggalkan kelas perkuliahan ini malah didatangi langsung oleh seorang buddy dan dilamar untuk menjadi buddy beliau selama 30 hari wah tak kuasa aku menolaknya.

Buddy ku

Untuk kedua kalinya saya dilamar lagi oleh warga Tanjung Pinang. Iya buddy ku yang istimewa ini tinggal di Tanjungpinang. Bertepatan dengan kunjungan kami ke Tanjungpinang pekan lalu saya jadi bisa mengalirkan banyak rasa sekaligus mendengarkan aliran rasa beliau di rumah mama mertua. Memang jodoh pasti bertemu yes

Kami mempunyai fokus yang sama yaitu dalam manajemen emosi. Dan kami ternyata juga akan mempraktekkan hal yang sama selama 30hari masa kepompong. Bedanya saya ingin lebih fokus di pemahaman emosi pada anak serta respon terhadap perilaku disektar dan beliau ingin memiliki rentang waktu lebih lama dalam menghadapi anak-anak.

Mood tracker

Mengalirkan rasa selama kurang lebih satu jam kami bahagia banget. Rasanya sudah sering ngobrol padahal aslinya mah baru beberapa kali bertatap muka. Semua obrolan rasanya berkesan, hehehe semuanya penuh makna.

Sampai lah pada obrolan kenapa masuk ke keluarga emosi. Bagaimana menjaga emosi kita tetap stabil. Tetap dalam track nya. Ternyata semua kuncinya adalah ibadah yang lurus. Jika ibadah harian seorang ibu baik dan sempurna maka baik juga lah emosi nya pada hari ini.

Maka kami berdua sepakat bahwa Mutaba’ah yaumiyah adalah salah satu hal yang penting dan tidak boleh kurang apalagi tertinggal. Untuk memudahkan maka saya buatkan tabel sederhana ini.

7 Tips Sabar Menjadi Orangtua

Kami sekelas di keluarga Manajemen Emosi. Ada banyak diskusi yang bermanfaat di grup keluarga kami. Termasuk diskusi bagaimana menjadi orang tua yang sabar. Ini berat Mak, gak mudah. Huhuhu rasanya jika menemukan rasa ini pengen nangis-nangis. Berikut 7tips yang di dapat dari hasil salah diskusi grup kami bersama bunda Euis slaah satu member keluarga kami.

1. Tips pertama agar level sabar kita bisa naik beberapa level mencoba terus mengingatkan diri sendiri klo anak itu titipan Allah. Bukan milik kita. Jadi mau “senakal” apapun seunik apapun sifatnya, jangan sampe dibentak, jangan sampe dipukul.

2. Bunda Euis menyampaikan “Keinget banget saat ikut sesi trainingnya ust fauzil adhim, bahwa rasulullah memperbolehkan anak dipukul nanti pas umur 10thn. Itupun karena alasan sholat, tdk keras dan harus memenuhi syarat bahwa penanaman ttg sholat sdh dianggap tuntas. Hikmahnya apa? Pertama : gak boleh mukul anak dibawah 10 thn. Apalagi klo mukul bkn krn alasan sholat. Entah krn piring pecah, entah karena beret mobil, apalagi cuma krn pipis di celana. Kedua : boleh mukul asal bekal tentang sholat sdh kita berikan. Bukankah rasulullah meminta agar anak diajarkan sholat sejak umur 7thn dan baru boleh dipukul (dg tdk keras) pada usia 10 thn? Anggap aja kita mengajak anak sholat 5 waktu selama 3 thn, artinya ada 5 x 3 tahun x 360 hari = 5400x reminder. So intinya jangan memukul anak dengan alasan apapun sebelum usia 10tahun.

Nah perlu kita lihat apakah marah kita sudah on track ?

Dalam agama kita, sesuatu dikatakan baik jika memenuhi 2 syarat

  1. Niatnya baik
  2. Caranya baik (mengikuti Quran dan Sunnah bagi seorang Muslim)

Mungkin di titik ini niat kita sudah clear, baik. Tapi perlu kita gali lagi, apakah cara kita marah juga sudah baik ? Kembali ke pertanyaan di awal, niat kita baik saat marah atau memukul anak untuk mendisiplinkan mereka. Namun apakah 2 syarat ini telah terpenuhi sebagai kriteria cara baik?

3. Terus me-reminder diri klo anak dibentak atau dipukul, milyaran sinaps di otak bisa putus. Susah-susah kita bangun itu sinaps dan pengen anak pinter, jangan sampe putus karena emosi sesaat kita. Jadi kalau anak susah mudeng, jangan-jangan memang karena banyak sinaps yg putus akibat bentakan atau pukulan kita. Ini warning buat kita.

Kalau sudah terlanjur bagaimana ?
Apakah sinaps yang putus bisa balik lagi ? Ada yang bilang gak bisa. Karena memang sudah rusak. Ada yang mengatakan masih bisa asal segera diperbaiki dalam beberapa jam (meminta maaf, membangun pengertian, dan tidak terulang lagi)

4. Awasi kecanduan omelan. Hah ini bahaya lho ternyata. Contoh yang disampaikan bunda Euis bikin merinding.

Posisi 1: Pertama kali anak dimarahi dulu mungkin responnya ketakutan, nunduk, grogi, merasa bersalah dll. Tapi karena ortunya ngomel lagi, ngomel lagi, ngomel lagi.
Anak yg di posisi 1 akan pindah ke posisi 2 : dia akan merasa biasa saja saat diomelin ayah bundanya. Makanya ada anak yg ketika dimarahi malah nantang istilah bunda Euis “Ngece” atau mengejek ortunya meski tidak terucap hanya terbaca dari gesturenya.

Nah ini kalau diteruskan, orangtua ngomel lagi lagi dan lagi, anak busa pindah ke posisi 3: Kecanduan omelan. Ini yang berbahaya.

Bunda Euis lalu bercerita, saat saya diminta mengisi training ke sumatra, ke sulawesi, di jawa, selalu ketemu sama ortu yg tanya : kenapa sih anak saya ini ? Kok ada aja ulahnya. Gak bisa bikin mamahnya damai sentosa ga marah-marah barang 1 hari aja. Bisa jadi anaknya sudah level 3. Kecanduan omelan.

Kalau ga denger omelan mamahnya, ga enak. Makanya anak bikin ulah biar denger omelan ortunya lagi

Nah, ini jd warning buat kita Tahan diri agar tidak ngomel dan marah2. Marah itu boleh. Tapi yg elegan.

Jangan sampai karena ketidaktahuan kita, omelan kita justru malah bikin ananda kecanduan.

Jadi susah ya gak bisa marah? Tapi bunda Euis lalu menyampaikan boleh kok kita marah. Yang ga boleh itu marah-marah.

Wajar saja kok manusia itu marah. Bahkan Rasul yang mulia saja juga pernah marah. Tapi marahlah dengan wajar. Marahlah dengan cara yang elegan. Marah yang justru bukan merusak otak anak kita dan meninggalkan luka pengasuhan dalam hidupnya 😢😭

Latihan marah yg elegan Dibiasakan setidaknya selama 3 bulan. Latihan terus, berulang selama 90 hari. Agar jadi habbit. Biar jadi kebiasaan.

5. Kenali sebab emosi kita mudah terpancing. Sebagian besar jawaban para bunda adalah karena faktor lelah.

Ada juga yang karena terburu-buru, dikejar dead line, lagi ada masalah dan sebagainya. Kebanyakan buat para ibu, bisa jadi karena kita terlalu lelah, terlalu capek. Yang lelah fisik, tapi emosi jg bisa ngatut. Maka bisa dibicarakan dg pasangan untuk menemukan solusi terbaiknya. Entah berbagi tugas. Entah delegasi tugas. Atau pilihan lain. silahkan dikomunikasikan bersama pasangan. Intinya adalah kenali stimulannya dan minimalisir. Seringkali kita dapat menahan emosi diluar dan bersikap baik kepada banyak orang tetapi dirumah mudah sekali tersulut emosi nya. Padahal keluarga adalah prioritas utama kita.

Gambar dari bunda Euis juga

Perlu untuk mengagendakan sesi “me time” agar tetap “waras”. Ini adalah bab penting kata bunda Euis. Aktivitas rutin dan berulang itu bikin area otak pre frontal cortex jadi stagnan. Efeknya apa? Otak amygdalanya cenderung akan memanas. Kalau sudah panas, emosi jadi susah terkontrol. Karena urusan emosi itu letaknya di bagian otak ini.

Me time perlu mahal, tidak harus jauh. Sesuaikan saja dengan diri masing-masing. Apa yang pengen bunda lakukan, lakukan saja. Ada yg me time dengan baca buku, menjahit, baking, atau bahkan makan mie instan pakai extra cabe dan telor ceplok itu aja sudah sesuatu saat disantap tenang tanpa anak-anak.

6. Saat emosi memuncak apa yg dilakukan ? Duduk menggantung – nafas perut – self talk.

Ini contoh dari bunda Euis

Ini duduk dengan kaki tergantung. Bukan digantung. Ini posisi yang benar. Ketika duduk, otomatis kaki tidak menyentuh tanah. Aslinya ini penjelasannya panjang banget hehehe.

Singkatnya duduk dengan kaki menggantung itu kalau kita duduk di tempat tsb maka otomatis kaki kita tak menapak tanah. Bisa berayun. Seperti posisi dek itqon dalam foto diatas.

Memang kenapa kok harus posisi kaki menggantung ? Jadi saat marah, tubuh kita memproduksi hormon kortisol alias hormon stres. Hormon ini akan mengalir ke seluruh tubuh. Kalau ngalir ke mata, bisa jadi matanya bakal melotot merah. Kalau ngalir ke tangan, saat mukul bisa jadi akan sangat keras tak terkendali. Kalau keseringan marah, bisa jadi ia akan meninggalkan bekas hitam pada lipatan-lipatan wajah. Nah duduk dengan posisi menggantung memungkinkan kita untuk menghambat penyebaran hormon kortisol ini. Biar dia kembali ke tempat diproduksinya dan batal beredar ke seluruh tubuh.

Trus kalau sudah duduk dengan kaki menggantung, what next ? Kalau masih ngomel ngoceh gak karuan mah kayaknya gak terlalu ngefek. BACA TA’AWUDZ  (hadist bukhori nomer 3282) dan lakukan PERNAFASAN PERUT -bukan pernafasan dada.

Kalau bingung gimana pernafasan perut, coba lihat bayi yang sedang tidur. Saat mengambil nafas, perutnya akan mengembung. Dan saat membuang nafas, perutnya mengempis.

Jadi, sudah punya spot emergency exit saat marah? Bakal duduk dimana saat marah melanda? Kalau tidak punya dudukan tinggi, bisa cari subtitusinya. Dipan tinggi misalnya. Atau seperti saya. Duduk di bak cucian piring. Lol

7. Langitkan doa. Berharap agar kita diberi kesanggupan dengan amanah yang tak ringan ini. Kalau perlu habis sholat malam bs ditambah sholat hajat 2 rokaat. Khusus berharap agar kita bisa jadi orang tua yg lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengasuh buah hati kecuali dengan bimbingan serta petunjukNya. Sekaligus memohon ampun untuk semua salah khilaf saat mengemban amanah ini. 😭
Kenapa sholat hajat, karena ini hajat yg tidak ringan. Ini misi yang tdk sederhana. Maka butuh back up Allah dalam mengembannya.

Nah dari 7 tips yang sama-sama kami peroleh di grup maka kami berdua sebagai sahabat seperjuangan akan mencoba mempraktekkan hal ini dirumah. Ada juga cara praktek yang disampaikan bunda Euis tapi masih panjang lagi hehehe.

Semoga tips ini tidak hanya jadi reminder buat kami berdua namun juga bermanfaat untuk banyak ibu lainnya.

31 thoughts on “Bekal Untuk Sahabat | Tips Mengelola Emosi Orang tua

  1. Mbak Ekaaaa,
    aku waktu buat mindmap dan memutuskan harus fokus ke kelas yang mana itu bingung. Manajemen waktu? Kerumahtanggaan? Manajemen emosi? Parenting? Blog? ah semuanya sungguh menarik. Trus baca bekal ini jadi ingin main ke manajemen emosi tapi khawatir malah terdistraksi.

    Intinya adalah makasih banyak ya. Baru punya bayi dan ngurus balita itu emosiku mudah naik turun. Ingatku ya istighfar. Ternyata kudu cari tempat duduk tinggi sementara di sini gak ada kursi atau dipan tinggi. Sepertinya ku ikuti jejakmu naik ke wastafel. Eh tapi trus si anak melihat emaknya demikian malah nanti dicontoh. Heuuu…

    Selamat menjadi kepompong!

  2. Ya Allah Mbak bagus banget tips nya ini. Bener-bener yang kubutuhkan. Aku juga mengenali diriku, marah kalau dalam kondisi apa. Ternyata kalau aq lapar, gerah belum mandi, ngantuk, lelah, wah bisa mudah tersulut. Jadi sebelum anak-anak diingatkan mandi, aku duluan hrs mandi. Gitu misalnya. Soal kaki menggantung aku belum pernah coba nih

  3. aku tahu jadi orang tua itu sangat susah dan sukar. banyak sekali tantangan dan cibiran, tetapi 7 tips ini benar-benar bagus bagi orang tua yang baru memiliki anak. sangat informatif banget dan berguna

  4. Orang tu harus jadi lautan sabar ya. Apalagi menghadapi anak-anak. Mengenal emosi anak dan kita harus bisa mengendalikan emosi kita. Makasih sharingnya ya mba, jadi reminder buat diri saya. Pembelajaran lagi sebagai orang tua.

  5. Mbaaa terima kasih banyak untuk pengingatnya ya. Memang harus kuat ya kontrol diri kita sebagai orangtua. Marah boleh, tapi caranya juga harus benar ya. harus terus belajar nih mengelola emosi. Jadi adem banget baca artikel Mb Eka ini.

  6. Iya banget, kak…
    Sejak anak-anak sudah bisa diajak diskusi, sudah engga lagi marah. Ini juga perlu latihan siih…gak serta merta bisa nge-rem marah.
    Jadi lebih seneng baca buku dan jauh-jauh dari tulisan unfaedah. Soalnya gampang banget jadi gak lurus niatnya.

    Intinya memang, Allaah sudah memberikan amanah terbaik.
    Jadi pasti kita juga bisa belajar banyak pada amanah tersebut.

  7. wah, makasih banget mba tips-tipsnya..
    saya nih kadang gak sabaran banget, padahal anak saya baru 2 tahun.
    tapi ya itu, karena rasa penasarannya lagi tinggi banget. terkadang melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. kadang ku suka geram, langsung ku cubit.. wkwk.. tapi kalo ku lagi waras ya cuma ku nasehati aja.. hihi..

  8. Aku kena banget sama ini mbak jadi biasa marah2 dan anak2 mulai kebal. Sekarang lagi proses nih biar makin bijak dan elegan di rumah. Kasian juga anak2 ke depannya. Memang doa di atas segalanya ya mbak.

  9. Bagus banget ini tulisannya mbak, semua ortu sepertinya wajib ikut kelas ini. Masih banyak ortu yang suka bentak dan ngomelin anak, padahal dampaknya hingga anak besar nanti toh ortu yang pertama merasakan. Semoga kita bisa memanage emosi kita ya.

  10. Ini kok pas bangeeett artikel yg daku butuhkan sih Mbaaa
    Thanks for sharing ya.
    Iya nihh, sering lupa untuk melangitkan doa secara sungguh2 dan penuh keberharapan kepada ALLAH

  11. Mbak Eka, saya mau save untuk 7 tips menjadi orang tua sabar ya. Izin menyimpan. Susah banget kalau tidak dikontrol, dipelajari dan direview bagaimana penerapannya. Semoga bsia belajar lagi.

  12. Fahmi putra saya sekarang tujuh tahun. Dia selalu bilang malas kalau besok delapan tahun, sembilan tahun apalagi sepuluh tahun. Saya tanya kenapa? Katanya nanti kalau sudah 10 ga solat bisa dipukul. Hehehe…
    Kami memang menanamkan ajaran itu sejak ia usia tiga tahun lebih dan sepertinya sampai sekarang teringat terus

  13. Terima kasih tips nya mbak. Itu mbak cerita datang ke Tanjungpinang yg di Kepri? Saya orang Tanjungpinang mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *