Ketika Jodoh Menghampiri| Ta’aruf, Bagaimana Persiapannya?

Ketika Jodoh Menghampiri| Ta’aruf, Bagaimana Persiapannya. Alhamdulillah MasyaAllah hari ini bersua lagi dengan tanggal 2 Maret. Tepat 6tahun yang lalu di tanggal ini, saya bertemu untuk pertama kalinya dengan lelaki yang sekarang menjadi pendamping hidup saya. Dalam cerita ta’aruf. Sudah lama ingin menuliskan perjalanan ta’aruf kami (ya iyalah sudah keburu 6tahun hehehe). Akhirnya hari ini harus menuntaskan kisah seru kami. Kenapa ingin dituliskan? Karena banyak yang penasaran bagaimana proses ta’aruf itu berjalan. Bagaimana proses ta’aruf yang singkat bisa membawa melangkah jauh. Apalagi saat saudara suami saya yang kebetulan sekantor dengan saya kaget kami menikah. Kok bisa dia tidak tau. Hihihi

Menurut Wikipedia, Taaruf adalah kegiatan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan dengan penghuninya. Taaruf dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan dua keluarga yang akan menjodohkan salah satu anggota keluarga. Taaruf dapat pula dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke pernikahan. Tapi ta’aruf yang saya dan suami jalani di fasilitasi oleh guru mengaji kami masing-masing.

Sebelum memulai proses ta’aruf kita harus saling bertukar biodata dan profil pribadi yang ditulis dengan jujur agar si calon dapat memiliki gambaran tentang orang yang akan dipilihnya. Dan jika yang lain pada berlomba membuat biodata profil semenarik mungkin dan sedetail mungkin maka saya sebaliknya. Biodata saya hanya berisi informasi umum dan cukup 1 lembar saja. Guru mengaji saya selalu memprotes dan mengatakan ini untuk melamar kerja bukan untuk ta’aruf. Xoxoxo tak apa-apa jika memang jodoh pasti akan menghampiri juga walau melihat yang 1 lembar itu dan saya tidak berniat menambah lembarannya.

Pertengahan bulan Februari, guru mengaji saya mengirimkan SMS, meminta saya istikharah sepekan full karena ada yang ingin berta’aruf dengan saya. Saya masih bawa bercanda dan belum istikharah. Hingga akhirnya saya beneran istikharah full sepekan baru saya kabari beliau. Setelah saya istikharah baru saya dikirimkan email biodata calon lelaki nya. Ya Allah, ini lah proposal pernikahan yang benar-benar asli, hampir 10 lembar dan detail serta rapi banget. Apa kabar punya saya yang 1 lembar (langsung terbayang kertas selembar melayang di udara).

Saya langsung SMS guru mengaji saya. “Mba, ini gak salah orang kan ya mba? Maksudnya memang Eka saya kan? Mana tau Eka yang lain. Nanti saya keburu ke geeran mba.” Dan cuma dibalas “Iya bener Eka Mustika Sari”

Saya dulu selalu berdoa kepada Allah ingin di jodohkan dengan lelaki yang tidak saya kenal sama sekali. Yang tidak pernah saya jumpai walau hanya sekedar berpapasan dijalan. Kalau bisa kirimkan dia yang dari jauh. Dan ajaibnya saya masih speechless saat Allah kabulkan itu. Lelaki yang memilih saya itu, baru saja pulang ke Indonesia selama 6bulan. Baru pindah ke kota tempat saya tumbuh. Baru saja hadir dan langsung ingin ta’aruf.

Persiapan Hari Ta’aruf

Saat kami sepakat melanjutkan proses, guru mengaji saya bertanya kapan ingin berjumpa. Saya memilih tanggal 2maret karena besok kebetulan saya milad. Pertemuan ini adalah penentuan. Jika tidak berjalan lancar maka cukup sekian terimakasih. Jika berjalan lancar ayo kita ke pelaminan. Jadi saya persiapkan apa saja yang saya lakukan?

1. Persiapan ruhiyah. Ini sudah dipesan kan dan diwanti-wanti sejak awal kepada saya. Libatkan Allah sebanyak mungkin. Puasa, sholat nya dibanyakin, sedekah pokoknya apa aja yang bisa dibuat selama proses dibuat sebanyak-banyak nya.

2. Baca biodata dan proposal calon dengan baik. Saya saat mendapat proposal nikah calon suami langsung saya print 2rangkap apa 3 lupa. Dan saya serahkan ke ayah. “Yah ada lelaki yang ingin ta’aruf sama saya. Ayah baca dulu ya”. Jadi yang baca detail itu ayah sedangkan saya malah di jelasin ayah #jagantiru

3. Berpenampilan seperti biasa. Taukan namanya juga wanita. Jika untuk pertama kali berjumpa bakal calon suami pasti ingin terlihat menawan. Tapi ini proses ta’aruf bukan pacaran. Biasanya lelaki yang melewati proses ini adalah dia yang menyukai wanita sederhana dan bersahaja #stahh. Yach kesan pertama gitu kan, cukup sederhana saja.

4. Siap kan pertanyaan. Ini saya yang biasa selow ya santai aja sih pertanyaan nya disimpan di dalam hati. Ternyata si dia sudah menyiapkan pertanyaan komplit dibuku catatan nya dan di tanyakan dengan urut satu persatu. Hmm saya kok ga kefikiran mencatat pertanyaan ya. Tapi biodata dia aja mau 10lembar, saya mau nanya apa lagi. Wkwkw

5. Jujur akan pemahaman tentang Islam.Biasanya ada yang minta kita membaca Alquran dan menguji pemahaman kita tentang Islam. Saya tidak mempersiapkan dan mempermasalahkan ini, kami sama-sama sudah melewati fase yang sama. Hal seperti ini terlalu sederhana jika ditanyakan. Ternyata dia juga berfikiran yang sama.

6. Tenang serta jujur menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang disampaikan kadang tidak sesuai ekspektasi kita atau apa yang pernah teman-teman kita lewati dalam proses mereka. Tentu saja lah ya. Kan manusia nya beda. Seleranya beda. Jadi walaupun sudah minta bocoran keteman-teman yang duluan ta’aruf tetap saja harus mempersiapkan diri dengan pertanyaan dan yang diluar dugaan.

Proses ta’aruf tiap orang berbeda pastinya. Ada yang sebulan aja langsung nikah. Mungkin karena sudah sering bertemu di kegiatan kantor atau kampus. Ada yang hingga hampir tahunan karena alotnya diskusi antara keluarga. Kalau saya memilih di mudah kan saja.

Kekagetan Di Proses Ta’aruf

Saya tidak menulis pertanyaan yang akan saya tanyakan. Tapi ada 2 pertanyaan yang pasti saya tanyakan. Pertama kenapa bersedia taaruf dengan saya padahal biodata saya hanya saya tulis 1 lembar #lol. Dia bilang satu lembar milik saya cukup baginya #eaaa.

Kedua. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak hanya membuat dia kaget, tapi juga membuat pendamping ta’aruf kami ternganga dan langsung menoleh saya. Saya menanyakan bagaimana jika orang tua atau saudara misalnya ibu nya meminta untuk menceraikan saya sebagai istrinya.

Dia diam, memegang catatan dan membolak-balik nya. Mungkin ada yang berfikir pertanyaan macam apa itu, dan ditanyakan saat proses ta’aruf. Tapi itulah pertanyaan saya, karena saya sadar perbedaan kami terlalu banyak. Banyak kurang nya di saya, dan tidak dipungkiri bahwa setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Pertanyaan ini saya anggap pertanyaan tau diri. Lagi-lagi jawabannya cukup untuk saya.

Alhamdulillah, kami menyelesaikan proses ini tidak lama. Saat ta’aruf saya sedang lanjut kuliah dan sedang mengerjakan skripsi. Kami ta’aruf bulan Maret dan saya berharap bisa wisuda pada bulan November. Jadilah saat ta’aruf saya meminta kami menikah setelah saya wisuda. Ternyata di tolak. Iyes lelaki yang duduk jauh di ujung ruangan dan saya di ujung ruangan itu menolak permintaan saya. Dia ingin segera menikah maksimal 3 bulan dari pertemuan kami ini. Saya kaget, takut skripsi tak selesai dan tak bisa wisuda.

Saya awalnya galau, takut gak bisa cepat wisuda. Tapi ternyata kata guru ngaji saya bukannya asyik kamu bikin skripsi ada yang nemenin. Saya setuju, pulang dengan membawa kabar 3bulan lagi akan menikah. Ayah dan ibu kaget, semua kaget.

Teman-teman apalagi, dengan proses singkat kami menikah 3 bulan kemudian. Kita yang punya rencana, Allah yang memudahkan dan mengaturnya.

Itu gambaran proses ta’aruf kami 6 tahun yang lalu. Pertemuan pertama yang tak terlupakan. Karena itu 2 Maret selalu memberikan kebahagiaan.

Kalau kamu pernah dengar proses ta’aruf gak? Insyaallah ta’aruf itu seru lho, asalkan saling terbuka dan jujur di awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *