Bunda Cekatan, Aku Bahagia Menjadi Diriku

Bismillahirohmanirohim Masya Allah Alhamdulillah sampaikan di kelas ini kelas Bunda sayang institut ibu profesional. Jika dilihat lagi ke belakang yang bertemu dengan ibu profesional bagaikan mendapat satu semangat baru dalam perjalanan sebagai seorang ibu. Semoga nggak lebay ya, kan waktu itu belum ada sekolah menjadi seorang ibu diantara kebingungan apa yang harus dilakukan, harus bagaimana, bersikap seperti apa,  berbuat apa, apa sih solusinya dan banyak apa-apa lainya  Allah pertemukan dengan sosok Ibu Septi Peni yang saya lihat di Facebook. Dari situ baru mencari tahu tentang apa itu Ibu profesional.

Hingga beberapa hari yang lalu saat kami mulai kelas Ibu Septi memberikan kami sebuah dongeng yang saya dengarkan sampai tiga kali. Ya tiga kali pertama kali saat ibu live saya mendengarkannya bersama suami dan anak-anak, lalu malamnya Saya ulangi mendengarkan lagi sendiri. Untuk meyakinkan diri saya mengerjakan jurnal ini saya harus mendengarkannya lagi. Jika membaca resume tanya-jawab yang di-share oleh teman-teman di grup.

Ada 2 kata yang saya simak dari ibu dan ibu mengulangnya berkali-kali yaitu bahagia dan merdeka. Sekarang setelah hampir 2 tahun Saya belajar di Institut Ibu profesional saya sudah malah semakin bahagia dan merdeka. Salah satunya adalah saat saya memilih sebagai fasilitator dan pengurus kota.

 

Bunda Cekatan Dan Telur

Apresiasi yang luar biasa dari saya untuk tim Bunda Cekatan institut ibu profesional. Karena selalu menemukan cara asyik untuk belajar. Kali ini kami belajar dengan menggunakan tahapan telur hingga kupu-kupu.

Saat ini kami sedang berada di tahap telur-telur. Belajar lagi mengenal diri dan mengidentifikasi kemampuan kekuatan diri. Ini adalah hari terakhir penyetoran. Bukan ingin berlama-lama tetapi tahap ini memang tak mudah bagi saya.

Obrolan demi obrolan saya buka bersama suami. Hingga ada yang membuatnya “terpelongo” dengan apa yang saya sampaikan tentang kesukaan saya.

Ternyata sebelumnya di NHW Matrikulasi sudah saya tuliskan juga. Dan waktu itu ada yang terhempaskan karena kami masih “kontraktor”.

Baca disini : NHW 7 Matrikulasi Ibu Profesional Eka Mustika Sari

Jadi sejak hari pertama tahap telur-telur ini saya sudah menuliskan seluruh kegiatan saya dibuku jurnal saya. Iya saya tulis dengan mencicil hingga tertulis lah sebanyak 43 kegiatan. Alhamdulillah tidak terlalu banyak. Mulai dari siapa saya? Saya adalah seorang pribadi, perempuan yang mandiri, istri yang bahagia dan ibu yang penuh syukur.

Setelah saya kenali diri saya lalu saya identifikasi setiap hari saya cek mana ya yang saya suka banget. Iya suka nya bukan sekedar saya suka tetapi saya suka banget dan saya bahagia jika melakukan. Perenungan seminggu lho ini hahaha.

Tidak banyak berubah dari NHW 7

Ini sambil megang dada lho memposting yang tentang kekuatan ini. Hingga mengumpulkan 5 yang saya jadikan suka dan bisa.

Ini bukan suka lagi tapi suka banget

Di gambar itu bukan sok Inggris yes. Maksudnya biar muat dan rapi aja. Okay kenapa jadi memilih 5 ini?

Selling atau bahasa Minang nya mangaleh.

Ya ini rasanya tidak terpisah kan dari hidup ku. Pokoknya menjual itu bikin bahagia, sebenarnya bukan karena dapat untung jualan nya tapi karena kita harus belanja sebelum jualan. Nah belanja ini selalu bikin mataku berbinar-binar. Shopping itu sudah jadi habit sejak bisa menghasilkan uang sendiri. Namun saat sudah menjadi istri dan ibu, kebiasaan ini tidak bisa dianggap baik.

Selain itu dengan banyak menjual saya tetap bisa belanja apapun yang saya sukai, terutama skincare hohoho. Pokoknya apapun alasannya menjual itu membahagiakan saya sejak saya SMP.

Karena sangat bahagia nya saya menjual saya bisa memiliki banyak online shop. Ada yang sudah diwariskan adik agar tidak minta jajan lagi ke ayah ibu.

https://instagram.com/rumah.mufasa

https://instagram.com/mainananak.batam

https://instagram.com/khadijah_babyme

Ini sampai bikin banyak warisan gini kalau gak bahagia gak bakal jadi kan? Jadi iini masuk ke yang suka dan bisa.

Teaching atau mengajar

Pertama kali mengajar itu sekitar tahun 2010 atau sebelas gitu. Saat masih kuliah saya mengisi mentoring rohis di sekolah. Rasanya bagaimana? Bahagianya meluber luar biasa. Sekarang bagaimana? Masih dong, membersamai remaja itu membahagiakan saya. Apalagi jika mereka sudah kuliah menikah tapi masih saling rindu-rindu. Serasa punya banyak adik. Kebahagiaan ini juga yang membimbing saya ikut serta menjadi fasilitator di ibu profesional

Kalau sekarang masih suka mengajar tetapi saya memilih fokus mengajar kan ilmu hidup dan kebaikan kepada duo princess. Jika dulu (sekarang masih sih) adik-adik bahagia jika mengingat saya, saya juga sangat ingin anak-anak kelak juga bahagia mengingat uminya.

Telling Stories bercerita banyak kisah

Yang kenal dekat dengan saya pasti tau kalau saya casciscus banget. Hehehehe ini ketawa lebar banget. Dulu waktu saya bercerita untuk menghibur teman-teman yang sedih. Walau ada yang merasa diam itu emas. Saya hanya lancar casciscus bersama orang yang saya anggap dekat.

Karena kebiasaan bercerita itu adalah kebiasaan dari kecil. Kami dirumah selalu dibiasakan bercerita kepada ayah ibu tentang semua hal diluar rumah. Menyenangkan sekali saat ayah menyimak cerita ku dan adik-adik. Sampai ayah kenal dengan semua sahabat dan kisah mereka.

Sekarang sudah menikah, sering cerita dengan suami dan anak pastinya. Dan kebiasaan ini bahkan bisa bikin mulut saya pegel banget menceritakan banyak hal karena anak-anak minta tambah lagi, ulang lagi, ganti cerita yang lain.

Untuk menyimpan semua cerita saya akhirnya saya memutuskan membuat siaran podcast saya sendiri.

Traveling jalani dengan bahagia

Jalan-jalan ini sudah jelas lah ya. Saya extrovert. Bahagia sekali jika diluar apalagi jika jauh. Karena itu demi mendokumentasikan perjalanan saya saya membuat Instagram dan blog dengan tagline Umi Journey.

Mungkin bagi sebagian orang traveling itu harus jauh tapi bagi saya dan suami, traveling itu harus bahagia. Walaupun cuma ke pantai terdekat maupun sampai menggunakan paspor intinya jalan-jalan itu harus bahagia. Tidak boleh mengeluh jika sudah keluar rumah. Dan pastinya kami weekend akan keluar rumah.

Gardening serius membuat bahagia

Ini gak salah kan saya suka berkebun. Hahaha saya bahagia lho ngaduk-ngaduk tanah dan menanam. Hal ini ternyata sudah saya tuliskan di NHW 7 Matrikulasi yang lalu. Tetapi tidak terlalui dengan baik karena anak-anak tidak bahagia melakukannya. Kali ini saya akan gapai kebahagiaan saya dengan mengaduk-aduk tanah. Hahaha

Alhamdulillah ini sudah tuntas saya sampaikan ke suami. Dan dia masih meresapi maksud dari istrinya yang suka menanam ini. Hahaha kakek nenek dan Tante ku lho petani.

Usai sudah tahapan menemukan telur-telur berharga dalam diriku. Alhamdulillah saya bahagia atas apa yang saya bisa dan suka maupun yang saya bisa tapi tak suka. Apalagi dengan hal yang saya tidak suka tapi bisa. Dan mensyukuri hal yang saya tidak bisa dan tidak suka.

Ada yang berubah dari NHW7 yang lalu. Yaitu memasak. Saya berfikir saya bisa memasak dan menulis. Seperti tidak hahaha. Saya hanya sekedar bisa memasak dan menulis. Masakan saya setahun hampir selalu sama #lol. Karena itu saat ada rumbel reborn saya pindah ke rumbel memasak. Agar saya yakin saya ya bisa memasak dengan super bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *