Refleksi 3 Maret | Menjadi Manajer Keuangan Keluarga

Refleksi 3 Maret Menjadi Manajer Keuangan Keluarga. Alhamdulillah 3 maret lagi terlewati. Berarti berkurang jatah usia 1tahun lagi untuk dimanfaatkan. Refleksi 3maret ini sebagai evaluasi dari berjalannya 356hari dari maret yang lalu.

Berapa banyak manfaat yang bisa saya berikan ke sekeliling saya? Itu selalu menjadi pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada diri saya sendiri. Karena sesuai moto keluarga kami adlaah menjadi keluarga yang bermanfaat.Tentunya diawali daei bermanfaat diri pribadi.

Jika ada manfaat yang ada pada diri sendiri tentu yang paling berhak merasakan yang pertama adalah keluarga ring satu. Suami dan anak-anak. Baru meluas ke ring 2. Saudara dan orangtua. Dan seterusnya. Berikut adalah evaluasi dari satu tahun saya kebelakang.

Kebahagiaan Semu Kasir Keluarga

Selama ini siapakah yang menjadi manager keluarga dirumah kamu? Kalau saya tidak ada. Telah hampir 5tahun menikah saya hanya menjadi kasir keluarga. Tempat uang keluar tanpa tau perhitungannya. Setiap butuh minta. Setiap apa-apa telpon ditransfer. Sehatkah keuangan keluarga seperti ini?

Sebagai seorang istri saya merasa memiliki kewajiban mengemban tugas sebagai manager keuangan keluarga. Namun setiap suami menanyakannya jawaban saya adalah “gak usah kamu aja”, atau “gak maulah biarin aja gini”.

Hello untung alhamdulillah pakMuf sabarnya luar biasa hehehe. Jadi tetap aja urut dada saat istrinya gak mau ribet hitung-hitung uang masuk dan keluar. Tapi sekali lagi sehatkah keuangan keluarga jika seperti ini? Tidak ada pertanggung jawaba pribadi. Akhirnya inilah refleksi terbesar saya di 3 maret kali ini. Saya belum menjadi manajer keuangan keluarga yang baik. Sedihnya ya.

I’m Responsible To My Communication Result

Yes, I’m responsible to my communication result. Harusnya kan milad itu bahagia kan ya makan diluar atau paling gak duduk dirumah dengan masakan favorit keluarga. Tapi tidak kemarin. Saya tersinggung saat suami menyebutkan kita harus memilah pengeluaran. Padahal belum lagi dia menjelaskan apa-apa. Saya sudah merajuk dan pergi nangis Ealah sok drama kali padahal jarang nonton drakor sekarang. -_-

Dan drama itu membuat saya mbuka lagi buku karya teh patra ini. Barusan sudah selesai catatan evaluasi keuangan bulanan dan besok untuk tahunan.

Setelah sedikit melow akhirnya malam setelah anak-anak tidur saya datangi lagi suami yang sedang diruang tengah. Ngobrol bareng lagi walau gak saya buatkan teh hehehe. Pelan-pelan beliau menjelaskan selama ini belum memenej keuangan keluarga hanya mencoba mengerem jika ada pos yang terlalu besar. Akhirnya saya pahami. Saya masih belum dewasa diusia yang sudah 33tahun ini.

Manajer Keuangan Tidak Sekedar Menerima

Kenapa baru sekarang saya sadari? Iya ini karena teguran dari babang sedikit bikin saya shock. Minta ngecek tabungan. Kembali menghitung pengeluaran tahunan. Yang mana sebelumnya tidak pernah saya lakukan.

Akhirnya saya buka buku yang telah lama saya beli namun tidak juga saya khatamkan karya teh patra. Judulnya keluarga muslim cerdas finansial

Jadi dimalam hari milad saya, saya menghitung segala ini itu yang terlewatkan setahun yang lalu. Saya kaget sendiri. Karena cuma jadi keran keluar untuk keluarga. Taunya minta uang, taunya minta isikan pulsa, minta isikan saldo taxi online, minta ini itu. Ya Allah ini saya hidupnya unfaedah banget ya.

Saya yang sempat sedih karena ditegur suami, akhirnya sadar iya ini umur segini masih ngeles gak mau ngurus keuangan keluarga. Dengan banyak alasan yang sebenarnya cuma 1 intinya yaitu gak mau ribet.

Akhirnya sekarang saya azamkan, salah satu hal yang paling saya perbaiki untuk satu tahun kedepan InsyaAllah saya akan menjadi pribadi yang paling bertanggung jawab akan keuangan keluarga.

Doakan saya semoga Allah panjangkan umur untuk memperbaiki diri kedepannya sebagai istri sebagai ibu dan sebagai ratu dirumah sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *