Kampung Pelangi ala Kampung Bugis| Menambah Warna Tanjungpinang

Kampung Pelangi Kampung Bugis| Menambah Warna Tanjungpinang. Kalau ngomongin kampung pelangi, kebayangnya pasti deh kampung warna-warni yang dicat dan lorongnya penuh dengan mural seperti yang sudah banyak dibeberapa kota di Indonesia. Tapi kali ini agak sedikit beda, karena dikampung pelangi ini tidak ada lorong sempit yang akan kita lewati dengan cat warna-warni. Nah lho?

Awalnya saya ngebayangin bakal gitu juga, tapi ternyata emang jauh beda dari kampung pelangi umumnya. Walau ini bukan kampung pelangi pertama di Kota Tanjungpinang, tetapi tetap memiliki daya tarik sendiri untuk membuat saya dan keluarga rela datang kesini sebelum kami menyudahi liburan imlek kemarin.

Cerita di Kampung Bugis

Kalau ingat kampung bugis, mertua saya selalu punya cerita seru tentang kampung ini. Karena ayah mertua pernah menjadi guru di salah satu sekolah di kampung bugis ini. Sekitar kurang lebih 25tahun yang lalu. Dan waktu itu tidak ada akses darat menuju kampung ini. Jadi dari pelantar utama di dekat pelabuhan kota (begitu warga menyebutnya) ayah akan naik pompong (perahu kecil) untuk pergi mengajar.

Tentu saja setelah 25tahun tempat ini berkembang pesat. Mungkin karena mendukung berkembangnya daerah ini, maka pemerintah membuatkan kampung pelangi ini. Selain menjadikan kampung ini lebih dikenal masyarakat, juga mendrongkrak perekonomian masyarakat sekitarnya. Diarea parkir motor ini saja banyak sekali penjual makanan dan minuman ringan. Belum lagi dirumah sepanjang pelantar utama. InsyaAllah gak bakal kehausan.

Itu yang nampak seberang adalah pusat kota Tanjungpinang. Namun sekarang akses jalan darat sudah bagus dan lancar. Untuk menuju ke kampung bugis ini cukup ketikan di google jalan kampung bugis (awalnya saya hanya mengetikkan kampung bugis saja dan map menunjukkan arah yang berbeda). Karena mertua sudah sering jadi hapal, dan saya ketikkan ulang kampung pelangi kampung bugis atau jalan kampung bugis. InsyaAllah sampai. Namun jika mau lewat akses laut banyak yang menawarkan pompong (untuk istilah perahu kecil) untuk menuju pusat kota tanjungpinang)

Perjalanan darat lebih jauh dari pada lewat laut. Diperjalan kita bakal melewati 2 jembatan untuk menuju kampung bugis. Setelah itu cukup ikuti map. Sesampainya di kampung bugis kami masih ragu apa salah jalan atau tidak. Karena tidak nampak mural atau cat warna-warni. Untung ada petugas parkir yang sigap mendatangi kami dan menunjukkan arah.

Untuk sekian kalinya saya berfikir lebih baik naik motor daripada naik mobil hahaha. Karena jika membawa motor kita bisa memasuki pelantaran hingga dekat ke tugu utama. Sedangkanjika naik mobil kita harus memarkir di pinggir jalan lalu lanjut jalan kaki dari parkir mobil kedalam lumayan melelahkan apalagi mamak gendong anak dan lemak.

Jepretan di Kampung Pelangi ala Kampung Bugis

Namanya juga kekampung pelangi, tentu saja yang dituju adalah berburu foto-foto. Apa yang bikin beda dikampung pelangi kampung bugis ini? Yang beda adalah pelantaran panjang yang menghubungkan seluruh rumah dipinggir pantai ini, dan ditengahnya terdapat tugu utama.

Seperti tempat yang baru hits pada umumnya, tempat ini juga ramai sekali. Terutama oleh muda midi hang mau menghiasi timeline sosial medianya. Kami juga sempat bertemu dengan warna Tanjung uban yamg membawa seluruh keluarganya, padahal daerahnya cukup jauh dari tanjungpinang ini.

Yach tolong fokus kepasangan abu-abu aja, pasangan yang yang lain cuma numpang lewat.

Saat kami datang sempat ngobrol dengan beberapa warga bahwa ini adalah proyek dari pusat untuk daerah terluar. Hmm semoga falid yach infonya, hihihi maklum hanya obrolan warga dari mulut ke mulut.

Anak-anak senang sekali disini, melihat banyaknya pompong, disapa oleh pengemudi pompong, ngobrol dengan ibu-ibu penjual makanan yang ramah. Semoga banyak kesan yang di dapatkan anak-anak selain serunya melihat pelantar warna-warni.

Itulah perjalanan kami di kampung pelangi ala kampung bugis tanjungpinang ini. Yang membedakan adalah sensasi berjalan diatas pelantar panjang sambil melihat pompong berlalu lalang. Kalau saya mikirnya akan lebih greget lagi kalau pompong atau sampan-sampan kecil disini juga berwarna-warni lalu lalang sambil menikmati sunset yang indah.

Sepenggal Kisah Kampung Pelangi Batu6

Sebelum kami pulang kami sempatkan singgah dikampung pelangi yang lebih dulu hits sekitar mei 2018 lalu. Letaknya dikampung melayu batu6 tanjungpinang.

Tapi alangkah kecewa plus sedih, melihat kampung pelangi di kampung melayu yang belum setahun lalu hits sekarang tampilannya mengecewakan.

Kampung ini diawali dengan lorong-lorong penuh mural nan elok. Tapi muralnya sudah mulai kotor. Payung-payung elok yang bergantungan sudah sobek dan berjatuhan. Lampu-lampu gantung nasibnya kurang lebih sama. Jadi kami mengurungkan langkah berjalan lebih jauh dan putar arah memilih pulang.

Saya berharap kampung pelangi di kampung bugis ini akan bertahan lama. Sehingga perekonomian masyarakat sekitarnya juga terus meningkat dan wilayah kampung bugis makin terkenal sebagai tujuan wisata yang hits di Kepri.

26 thoughts on “Kampung Pelangi ala Kampung Bugis| Menambah Warna Tanjungpinang

  1. Keondahan kalo nggak dirawat bisa jadi kumuh ya mba, kemarin aku habis berkunjung ke jodipan malang, indah-indah gambar 3D nya.. Jadi kta masyarakat juga ikut ambil adil dalam merawatnya

  2. Kampung Bugis ini berarti didominasi oleh suku Bugis ya Mbak? Bener kata Mbak, kayaknya lebih keren dan berwarna lagi kalau pompongnya juga di cat warna warni oleh para pemiliknya yaaa, biar lebih cantik gitu.

  3. Skrng lagi marak ya perkampunga yang dicat warna warni, tapi selama itu mebawa perubahan ekonomi masyarakat ke arah yg lbh baik sih why not yaaaa. Pompong itu sebutan buat sampan/ perahu? Lucu juga sebutannya 😀

  4. Tempat yang menarik dan jadi kawasan wisata biasanya menikmatkan kegiatan ekonomi di tempat tersebut. Semoga Kampung Pelangi di Kampung Bugis bisa tetap terawat. Masuk salah satu wishlist traveling nih. Hehe

  5. Aku juga awalnya mikir kalau kampung pelangi itu kampung yang diepnuhi dengan aneka cat warna warni ternyata di kampung pelangi kampung bugis agak beda ya. Biasanya yang aku lihat kampung pelangi itu adanya di kawasan bukit2 gitu tapi di sini malah sungai latarnya bagus jadinya

  6. Nama kampungnya lucu, pelangi. Warna warni dan semakin indah kalau dijaga. Seharusnya masyrakatnya juga memiliki naluri bersama utk sama sama merawat nih

  7. kampung pelangi sekarang udah ada dimana-mana ya…
    kadang aku mikir kalau wisata dengan konsep warna-warni begini jadi udah nggak original dan malah jadi bikin beberapa orang malas datang.
    tapi mau gimana lagi ya, kampung pelangi itu salah satu cara membuat desa wisata yang termurah dan termudah –“

  8. Sepertinya memang Kampung Pelangi ini dimanapun harus di maintenance dengan berkala.
    Karena di Bandung juga ada yang di warna-warni begini, tiap 1 tahun sekali, jadi ajang promosi merk cat.

    Mungkin iya, jadi ribet bikin-bikin proposal dan lain sebagainya untuk mengurusnya…

  9. Kampung pelangi Bugis itu berarti kayak rumah-rumah di atas air yang dihubungkan dengan jembatan beton yang panjang ya, Mbak. Itu kok ada tiang tinggi terus ada segiempat atasnya, apa, Mbak? Lampu kah?

    Kampung pelangi yang sudah hits terlebih dahulu, Ya Allah, itu nggak ada dana perawatannya atau gimana ya? Sayang banget. Sudah dibangun dengan uang yang tak sedikit tapi kalau nggak dirawat kok sayaaaaaang banget.

  10. Lucuuu kampung warna-warni bak pelangi. Eh tapi ga ada tutupannya, sepertinya perlu bawa payung deh. Atau datangnya agak sorean kali yaaa supaya enggak kepanasan.

  11. Sesuai namanya ya.. kampung pelangi.. indah dan berwarna warni.. spot yang paling sering di cari buat generasi millennial nih.. supaya bisa langsung upload di sosial media untuk menunjukan eksistensi diri hehe.. semoga kampung pelangi ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat disana ya.. aamiin

  12. Wah sayang ya kampung pelangi tidak lagi terjaga apa karena sudah tidak ada pengunjungnya.

    Semoga kampung pelangi kampung bugis tidak mengalami hal demikian. Karena kampung ini unik di jembatan dekat air bukan di daratan

  13. Wah, sayang banget ya, kampung yang mestinya indah jadi kurang terawat. Payungnya jadi jadi robek2 ya, mungkin kena guyuran2 air hujan juga. Padahal cantik sekali payung warna-warni itu buat jadi daya tarik dan spot pepotoan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *