Umi Journey di 2018

Umi journey di 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang amazing buat saya pribadi. Karena di tahun 2018 saya terbangun dari mimpi panjang, dan pertama kalinya berpetualang jauh sendirian eh berdua dengan bayi saya.

Saya ingin membagi cerita saya dalam cawu di 2018. Yang masing-masing sangat luar biasa bagi saya dan tentu saja lebih mudah saya ingat sambil membayangkan kalender dinding yang juga terpasang percawu.

Cawu Pertama. Munculnya yang lama tenggelam

MasyaAllah. Ini rasanya berbunga-bunga mau menuliskan nya. Saya merasa seperti tahun-tahun sebelumnya saya tenggelam dengan aktivitas saya sebagai ibu rumah tangga. Bahagia banget menemani perkembangan Khadijah yang luar biasa. Sejak 2015 fix menjadi ibu ranah domestik total saya hanya dirumah. Di pasar, di masjid dan kadang ikut kajian RT hahaha.

Emang bahagia sih, ga ada kurangnya. Tapi karena kami ngak punya TV jadilah saya hanya dapat info dari obrolan ibu2 taklim. Ngakak so hard. Hahaha kebayang yes dari software engineer dan programmer yang apa-apa selalu update tiba-tiba tekk. Lampu dimatikan dan cuma 1 lampu yang hidup. Lampu hape. Wkwkwkw.

Eh balik ke cerita cawu1. Ceritanya tuh jadi makin aktif menulis karena masuk ke rumbel (rumah belajar) menulisnya ibu professional Batam. Banyak banget nulis walau masih ala kadarnya. Semangat mulai membara lah pokoknya. Lanjut apalagi pas Februari nya. Tapi karena di sibukan kegiatan yang banyak di whatsapp grup jadilah maret menurun banget sampai ke April. Boosternya saya diajakin ikut workshop menulis hingga akhirnya di 2018 saya memiliki buku antologi pertama yang berjudul “Jungkir Balik Dunia Emak”.

Selain menulis saya juga memberanikan diri menjadi fasilitator kelas di Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah bisaengawal kelas dan mendampingi banyak ibu untuk belajar bersama.

Lalu alhamdulillahnya di April ada cerita indah lagi. Perjalanan umi dan Syaffira untuk Leader Camp IIP ke Salatiga via Semarang berdua saja untuk pertama kalinya. Iya itu perjalanan terwow saya karena penuh drama ala ala. Apalagi saya tidak pernah pergi jauh sendiri, belum pernah ke jawa tengah sama sekali. Takut hilang barang. Takut ketinggalan pesawat. Takut ini itu. Pokoknya macam-macam takutnya.

Alhamdulillah dipertemukan dengan teman perjalanan yang baik. Ditungguin teman-teman ibuprofesional lampung walau lama, diajak sekamar dengan teman dari ibuprofesional asia. Pulangnya bareng teman-teman ibuprofesional banten dan palembang. MasyaAllah pengalaman berharga buat saya.

Cawu2. Welcome back to Ekamustikasari.com

Mei ke Agustus. Alhamdulillah wa Syukurillah. Setelah lama bergabung di rumah belajar menulis saya kembali menTDL kan blog saya ini. Padahal sudah saya TDL kan di 2011. Bahkan undangan pernikahan kami, saya buat menggunakan subdomain blog di ekamustikasari.com/muftifathonah

Saya cinta menulis, tapi kekagokan sibukan saya sebagai ibu baru yang masih meraba harus ngapain ditambah kabar dari dokter di usia 3bulan Khadijah mengalami jantung bocor bawaan. Mengintip blog tidak saya anggap penting.

Berkali-kali email dan sms tentang domain dan hosting yang akan habis masanya tidak saya pedulikan karena fokus dengan kesehatan jantung dan perkembangan Khadijah. Namun Alhamdulillah di 2018, dipertemukan dengan teman-teman dengan minat dan hobi yang sama yaitu menulis. Inilah sekarang. Rumah saya tempat berbagi cerita perjalanan saya.

Di Juli, Allah beri rezeki walau dengan perjuangan yang tidak mudah. Kami menempati rumah kami sendiri. Setelah sejak menikah berkomitmen tidak akan ngeRiba. Walau sederhana, saya bahagia sekali. Hasil kerja keras babang yang berikhtiar agar anak istrinya tidak selalu repot pindah kontrakan.

Cawu3. Beratnya Rindu Saat LDM

Iya rindu itu berat. Walau aku tak tau siapa dilan tapi kata-kata dia ada benarnya. Hahaha.

Di akhir September, saat asyik liburan tiba-tiba dapat kabar kalau babang harus berangkat ke Jakarta besoknya untuk segera retooling ke Texas. Ya Allah itu tempat taunya cuma jual ayam goreng. Texas fred ciken. Lalu tiba-tiba akan ditinggal jauh kesana mendadak pula.

Mulailah segala drama. Mulai dari menyiapkan perlengkapannya besok berangkat. Sampai-sampai dia ga bawa baju dingin. Dan keteledoran lain yang istrinya masih kayak dikasih syok terapi. Dalam hati masih sok kuat, sok tegar. Halakh ada pideo kol. Biasa juga ditinggal ke jakarta.

Walau sudah tau dia akan berangkat tapi tanggal pastinya ga tau. Jadi saya selow banget. Cuma menyiapkan mental anak-anak. Tapi itu tetap berat. BB saya sampai turun beberapa kilo. Makan tak kenyang tidur tak lelap, mandi tak basah. Semua rasa nano nano dirasakan saat menjalaninya.

Cawu ke3 2018. Untuk pertama kalinya saya tau LDM (long distance married) itu berat. Sekaligus menyadarkan dan menjawab pertanyaan saya saat awal menikah dulu kenapa babang tidak mau kerja di lepas pantai yang banyak dijalani oleh teman-temannya. Okay fine tolong liat ke kamera dan lambaikan tangan pada pekerjaan itu. Karena ternyata saya tidak sekuat banyak wanita hebat diluar sana yang bisa kuat dan mandiri menjalani LDM.

Yach itulah sekelumit kisah perjalanan umi di 2018. Yang paling membahagiakan tentu saja karena kembalinya blog ini kepangkuanku. Dan yang paling menantang tentulah perjuangan untuk LDM yang membuat setiap yang jumpa komen “wahh uni kurusan ya sekarang” dan saya jawab dengan kedip-kedip mata karena bahagia dibilangin kurusan daripada lebaran.

Nah kalau kamu, apa perjalananmu di 2018 yang paling ter..? Bagi dikomentar dong.

32 thoughts on “Umi Journey di 2018

  1. Wah kalau aku apa ya yang ter ….? Palingan kemarin sih pas akhir tahun, anakku disunat! Dan itu mendadak sekaliiiii hahhahaha nggak ada persiapan apa2 tau didaftarin gitu aja sama suamiku. Lha yang deg2an kan aku jadinya, bukan anaknya! 😀

  2. Duh rasanya beraaat banget ya menjalani LDR ini. Aku hanya bisa mendoakan semua temanku yang harus LDR atau LDM agar kuat menjalaninya. Karena kayaknya aku sendiri bakalan berat merasakannya kalau harus jauh-jauhan gitu.

  3. Maa syaa Allah Mbak Ekaa, saya saluttt banget. Mulai dari kehidupan yang jungkir balik 180 derajat, hidup nol riba, berumah tangga mulai dari bawah. Insyaa Allah yang demikian akan menguatkan rumah tangga dan berkah Mbak. Insyaa Allah. Saya percaya deh segala sesuatu yang nol riba, akan Allah bimbing dan selamatkan.

    Kehidupan rumah tangga bener-bener beragam ujiannya dan insyaa Allah mendewasakan, mematangkan, dan makin mengokohkan iman, hanya bagi yang bisa mengambil pelajaran. Semoga istiqomah Mbak 🙂

  4. Senengnya punya buku antologi. Aku 2018 kemarin bisa umroh, traveling ke 3 negara, dan beberapa tempat di Indonesia. Paling amazing saat ke Lombok, Sumbawa dan Batam. Alhamdulillah

  5. Hihihi… bahasa cawunya jadi inget jaman sekolah gitu bund hehe
    ternyata begitu ya jadi istri banyak syock theraphy-nya hehehe.

    Semoga di tahun 2019 ini menjadi tahun yang penuh kebahagiaan dan berkah ya bund, Aamiin…

  6. Tahun 2018 ini kami pindah dari New York City ke Indonesia setelah 4.5 tahun tinggal di sana. Dramanya? Jangan ditanya.. kayaknya Drakor pun lewat hehehe.. tapi Alhamdulillaaaah semua berakhir baik! We love Indonesia and happy to be back

  7. jadii Mbak, ini raportnya dikasih bintang warna apa? seperti jaman sekolah dulu ya Mbak, masih per cawu, sekarang kan udah jadi semester *upsss

    duuhh, jelous deh klo baca cerita Ibu-Ibu yang ikutan Ibu Profesional itu. pengen juga, tapi masih belum berani daftar, huhuh

  8. alhamdulillah ya mbak udah bisa nempatin rumah sendiri
    aku masih proses nih di tahun ini
    doain juga ya semoga semangat berjuang buat nempatin rumah sendiri yang lagi di bangun

  9. Buat aku, 2018 ter- nya itu ditinggal jomblo lagi, duh gusti pasangan ya kok enggak keliatan2 😂
    Aku suka beut dah ah gaya mbak cerita, karena sama tahunya kalau texas itu jualan ayam.. haha

  10. asik blognya udah TLD lagi. huwaa ditinggal ke Texas, aku juga kalo ditinggal2 jauh suka gimana gitu, apalagi kalau lagi riweuh sama anak2 yang masih kecil2 begini. Lanjut terus Mak nulisnya, semangaaatt

  11. maaf, CAWU itu apa ya? apakah catur wulan? dari awal tulisan sampe akhir gada penjelasannya. maaf nanya, takut salah tangkap 🙂

    Sabar ya mba…suami memutuskan LDM demi masa depan keluarga juga. oia, selamat ya sama blog yg sudah kembali. semoga banyak hasil karya yg menginspirasi banyak orang.

  12. Antara pengen ketawa dan sedih ngikutin ceritanya aku mba hahaha..semoga rumah tangganya sakinah selalu.

    Cerita 2018 ku adalah saat2 terberat kembali ke tanah air, berpisah dengan teman2 dirantau yang sudah seperti keluarga sendiri. Rupanya ada bahagia tergantikan bertemu dengan keluarga diindo 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *