Mengenal Home Education berbasis Fitrah (2)

Mengenal Home Education berbasis Fitrah Bagian2. Setelah berlalu lama banget menulis bagian pertama pelajaran saya tentang fitrah base education, sekarang lanjut ke bagian kedua. Kenapa pakai bagian kedua dan gak sekaligus di satu postingan. Jawabannya karena memang dimaterinya dibagi2. Dan tulis ini bagian kedua. Jadi yah saya ikut aja, hehehe. Yang belum baca bagian pertama tentang fitrah base education boleh intip link dibawah ya.

Mengenal home education berbasis fitrah

Jika sebelumnya dibahas tentang apa itu home education dan tahapannya kali ini pembahasannya masuk ke Bagaimana Wujud Pendidikan Berbasis Fitrah. Jadi jika pengen lebih mengenal home education berbasis fitrah harus baca ini sampai selesai ya.

Bagaimana Wujud Pendidikan Berbasis Fitrah

Materi kedua ini adalah lanjutan dari matpok1 yang saya rangkum sebelumnya dengan pemateri yang masih sama yaitu Ust.Harry Santosa. Seperti yang terbaca dikomentar bagian satu dan memang ustad harry juga menyampaikan jika banyak yang setuju bahwa mendidik anak harus sesuai dengan fitrah anak-anaknya, namun banyak juga yang bertanya “bagaimana wujud pendidikan berbasis Fitrah dalam keseharian mendidik anak-anak ?”

Disampaikan lagi oleh ustad Harry jika pendidikan berbasis fitrah sesungguhnya sangat sederhana. Kita hanya mengupayakan proses yang sealamiah mungkin sesuai fitrah atau kodrat Allah dan menjalaninya sesuai sunnatullah tahap perkembangan manusia.
Selebihnya adalah menyerahkan semua keputusan akhir di tangan Allah SWT. Memohon kemudahan dan kekuatan lahir bathin dengan memperbanyak mendekat kepada Allah SWT agar diberikan Qoulan Sadida, yaitu lisan, fikiran, perasaan dan tindakan yang bermakna dan berbobot dalam mendidik.
Jika fitrah adalah jalan sukses, sunnatullah adalah cara sukses, maka doa-doa kita adalah kunci sukses bagi anak anak kita di dunia dan di akhirat.

Baca penjelasan diatas saya langsung JLEB.. Ya Allah Qoulan Sadida.. semuanya yang bermakna yang harus kita lakukan kepada anak-anak. Sungguh itu benaran berat.

Jadi kita sebagai orang tua diminta untuk lebih banyak MENEMANI anak,menyadarkan  dan membangkitkan semua potensi fitrahnya yang sudah ada dengan sebaik-baiknya. Baik fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat , dan disesuaikan dengan potensi dan realita yang ada di sekitarnya.

Ya menemani! Cukup menemani lho. Contoh yang diberikan yaitu induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, sepertipara petani menemani tanamannya. Syukur atas potensi, dan sabar atas proses. Lha kenyataanya saya sampai saat ini lebih mirip petani yang tiap saat ngeliatin burung disawahnya. Sibuk nyerocos ke anak. No ini no itu. Astagfirullah beneran harus belajar banyak.

Dimateri ini disampaikan caranya.. (alhamdulillah yes ikut kelas ini)
Caranya yaitu dengan memanfaatkan moment , atau bisa juga dengan merancang program yang khas untuk tiap anak sesuai tahap perkembangannya (personalized education) yang dituangkan dalam #bukuortu. Jadi maksudnya ya kita sebagai orangtua memilihkan kegiatan dan moment yang sesuai dan pas dengan anak kita masing-masing. Gak usah lirik-lirik yang dibuat dan dikerjakan anak lain ya. Tiap anak spesial.

Nah lalu untuk apa kita merancang program segala untuk anak-anak. Tujuan akhirnya adalah agar fitrah anak anak kita tumbuh paripurna. Bahasa ustad harry ini emang rada berat yak. Saya harus sering buka KBBI kalau baca.  Kalau kata KBBI paripurna itu lengkap; penuh lengkap. Fitrah tumbuh paripurna berarti lengkap tanpa ada yang ketinggalan. Setelah itu nanti baru bisa dapat hasil:

  1. anak memiliki peran peradaban spesifik atas fitrah bakatnya,
  2. memilki kemampuan inovasi memakmurkan bumi atas fitrah belajarnya, dan
  3. memiliki akhlak mulia dan kemampuan memikul beban syariah atas potensi fitrah keimanannya.

Itu semua sebaiknya tepat dicapai ketika anak anak kita menjadi pemuda atau aqilbaligh ketika berusia sekitar usia 15-16 tahun. Bahasanya masih berat, dan tetap  tiap bahasan saya buka KBBI.

Bahasan “scope of work”

Ini pembahasan imi penting banget buat saya yang emang banyak belum pahamnya atas semua materi yang dibahas. Sengaja menuliskan lagi ke blog ini biar beneran paham tiap katanya.

Menemani bukan Mengatur atau Mengendalikan

Yang Pertama dibahas, mengapa menemani bukan mengatur atau mengendalikan?
Jadi disampaikan bahwa prinsip pendidikan berbasis fitrah adalah berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Maka wajib hukumnya meyakini bahwa potensi potensi baik telah terinstal dalam diri anak anak kita sejak lahir bahkan sebelumnya.

Ada riset tentang pendidikan menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya, hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak-anak kita rusak. Disini maksudnya mengatur anak, harus ikut ini gak boleh ikutan itu. Harusnya belajar ini, dilarang belajar itu.

Maka bekal pertama dan utama dalam mendidik bukanlah segepok kurikulum baku dan kaku, tetapi adalah yakindan bersyukur, tenang dan optimis bahwa setiap anak adalah memiliki potensi fitrah yang baik dan ditakdirkan menjadi baik. Hanya orangtua dan lingkungan yang gegabahlah yang banyak merusak dan merubah serta menyimpangkan fitrah anak anak kita. Sampai sini kan jlebb lagi kan ya. Pengen nangis rasanya mah kalo ingat. Halakh jadi curhat.

Membangkitkan dan menyadarkan bukan merekayasa dan mengajarkan

Benaran sampai sini saya sudah kesulitan memahami. Huhuhu buka kamus. Seperti dibahas dibagian pertama, jika sudah yakin dan bersyukur seperti di atas, jadi kita harus mnenyadari bahwa mendidik bukan banyak menjejalkan, mengajarkan, mengisi, dan sebagainya atau OutSide In. Tetapi pendidikan adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri atau InsideOut.

Misalnya :
>> lebih penting membuat anak bergairah belajar dan bernalar, daripada menguasai banyak pelajaran,
>> lebih penting membuat mereka cinta alQuran dan buku, daripada menggegas bisa membaca dan menghafalnya.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya,  mendalami dan mengamalkan alQuran secara mandiri sepanjang hidupnya,
mengembangkan bakat sampai menjadi peran secara mandiri sepanjang hidupnya.

Fitrah keimanan dibangkitkan bukan dengan menjejalkan pengetahuan agama tetapi dengan keteladanan dan atmosfir mencintai perbuatan shalih.

Fitrah belajar dibangkitkan bukan dengan banyak mengajar tetapi dengan idea menantang dan inspirasi seru.
Fitrah bakat dibangkitkan bukan dengan menstandarkan output dan cita cita tetapi memperbanyak wawasan dan aktifitas yang sesuai sifat dan keunikan anak anak kita. Semuanya akan indah jika tumbuh sesuai fitrahnya dan hadir pada saatnya.

  • Anak anak yang banyak diajarkan akan minta diajarkan terus sepanjang hidupnya
  • Anak anak yang banyak didikte dan dikendalikan akan merepotkan orangtua dan sekitarnya sepanjang hidupnya,
  • Anak anak yang tidak menjadi dirinya karena obsesi orangtuanya akan tidak punya peran apapun sepanjang hidupnya.

Baru sampai bahasan kedua ya. Lanjutannya terpaksa ke post selanjutnya ya. Soalnya sambil ku ketik sambil dipahami. Dan sampai disini sudah berat. Hehehe

40 thoughts on “Mengenal Home Education berbasis Fitrah (2)

  1. doa-doa kita adalah kunci sukses bagi anak-anak dunia akhirat, Ya Allah harus terus berdoa ya untuk kebaikan ereka dan kita orangtuanya.
    Menemani di sini tapi tetap fokus pastinya ya Mbak Eka. AKu juga masih harus belajar banyak nih

  2. Jadi orang tua harus seumur hidup belajar tentang pola asuh ya, Mbak. Saya masih harus banyak belajar. Apalagi anak-anak udah mulai remaja begini. Ada aja cerita tentang dunia remaja

  3. Mkasih sharingnya, baca artikel di blog ini selalu memberikan ilmu baru, niat saya resign awal tahun 2018 kemarin juga karena ingin menemani anak-anak, walaupun kenyataannya belum bisa 100% menemani karena masih terkuras waktunya untuk mengurus pekerjaan IRT

  4. Menemani, membangkitkan, dan menyadarkan, sudah dicatat! Pokoknya yang harus selalu kita ingat, anak2 sudah punya potensi baik masing2 ya mba, tugas kita menemani mereka tumbuh dan membangkitkan kesadaran belajar 🙂

  5. Betul banget mbak. biarlah anak belajar sesuai fitrahnya, aku ngalamin sendiri bagaimana anakku baru mau tertarik belajar membaca saat usianya 6 tahun. justru malah dia mau sendiri dan semangat, tanpa paksaan

  6. Masih banyak peer banget nih aku. Apalagi baca tulisan ini, perasaan udah banyak banget bikin salah sama anak. Tapi insya allah harus tetap semangat belajar juga nih, biar bisa memperbaiki diri

  7. “Jika fitrah adalah jalan sukses, sunnatullah adalah cara sukses, maka doa-doa kita adalah kunci sukses bagi anak anak kita di dunia dan di akhirat”
    Suka banget bagian ini, mbak.
    Semoga kelak dipertenukan nanti di surga dengan anak-anaknya.

  8. Baru sekali datang ke talkshow Ust. Harry. Pulang dari sana bawa catatan panjang. Alhamdulillah bisa baca rangkuman di sini. Kalau nulis lagi, colek aku yaa

  9. Ya Allah jadi ingat ibu, betapa orangtua sangat memiliki peran penting bagi kesuksessan anak2nya di dunia dan akhirat. Terima kasih mba eka, mengenalkan saya soal pola asuh ini. Biarkan mereka bertumbuh kembang, dengan fitrah masing-masing.

  10. Menemani bukan mengatur xixixi makjleb. Kadang sbg ortu kita maunya begini begitu yaaa… hahah kudu tahan2 supaya anak bisa terstimulasi saat menghadapi masalah apa yang kudu dia lakukan. Belajar jg bisa dr apa aja, memanfaatkan momen 😀
    Well noted mbaaak makasih udah sharing 😀

  11. Doa itu memang senjatanya orang mukmin ya Mba. Apalagi semenjak jadi ibu, aku itu hati-hatiii banget kalau bicara dan matin dalam hati tentang anak-anak. Karena bisa jadi saat itu Allah mecatatnya sebagai doa.
    Bismillah, mau doa banyak-banyak agar jadi kunci kesuksesan anak-anakku menjadi generasi yang shalih shalihah. Aamiin.

  12. Harus diulang-ulang dan pelan nih bacanya Mbak, biar benar2 meresap di otak dan gak nyesal nantinya.
    Kadang kan ya kita gemesss klo anak gak mau diatur, dibilangin gini tapi lakukan yg dia ingin, huhuhuh. Emaknya kudu sabar niih menemani dan membimbing.
    Makasih udah share ya Mbak, ditunggu lhoo lanjutannya 🙂

  13. Bener banget ya, mendidik anak itu harus sesuai dengan fitrahnya. Ga bisa dipaksa-paksa untuk menuruti obsesi orang tuanya. Ntar kalau model dipaksa gitu, dia hanya sekedar menjalankan kewajiban menuruti orang tua saja dan tidak menemukan hal terbaik dalam dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *