Melatih Kemandirian Seorang Fasilitator

Bismillah, ini adalah jurnal yang saya buat yang mengiringi langkah saya selama menjadi Fasilotator kelas Bunda Sayang Batch 4. Diminta mengalirkan rasa melalui portofolio, baiklah saya awali dengan nangis dulu boleh gak ya. Bicara menjadi fasilitator bunda sayang setelah memasuki materi level 2 ini saya ingin mengibarkan bendera putih. Bukan karena saya tidak berbinar mendampingi kelas, namun saya tidak berbinar mengerjakan administrasi.

Jadi saya sempat menjapri sahabat sejawat saya bunda Erli Oktania, bisa gak ya saya jadi fasilitator tanpa mengerjakan rekap data mahasiswa, rekap penilaian dan banyak hal lainnya yang harus saya rekap dan semuanya mengurangi berbinar saya dalam mendapmoingi kelas. I Hate administration data So Much.

Hahaha masyaAllah… kok rasanya plong. Okay saya benci mengurus data. Tapi entah kenapa saya dulu bahagia menjadi programmer yang ngurusin data. Sekarang merekap dan memindahkan file saja yang mungkin dianggap oleh orang lain adalah hal yang sepele dapat langsung merubah mood saya menjadi tidak bahagia. Sekali lagi saya menjapri bunda Erli, boleh gak ya mundur jadi fasilotator. Hahaha karena tagline hidup saya adalah KERJAKAN HAL YANG MEMBUATMU BAHAGIA, maka jika muncul indikator saya tidak akan bahagia maka akan saya tinggalkan. Dan langsung di jitak jauh sama bunda Erli yang sekaligus Kordi saya.

Okay berarti ini semua harus dikerjakan ya, bagaimana jika minta bantuan sekretaris atau korlan ya. Hmm mungkin saya akan sedikit terbantu kali ya. Tapi nanti apa mereka akan merasa terepotkan karena kadang untuk resume korlan juga masih harus bersabar.

Huhuhu kadang makin ingin menyerah bye bye saya ingin kembali leyeh-leyeh malam-malam bisa ngobrol bareng pakM tanpa ada jadwal yang mengerjar. Itu bisikan ditelinga kiri. Menggoda-goda untuk segera angkat bendera putih.Toh seisi kelas juga saya gak kenal, hanya jumpa di whatsapp dan entah dibelahan sumatra mana mereka tinggal. Itu bisikan lain di telinga kiri saya. #hushh

Akhh tapi telpon pakM dulu deh nyari pendapat. Karena LDM ini membuat semuanya makin berat, jam diskusi tidak lagi mudah karena biasa pakM bisa bermain bersama anak dan saya bisa diskusi santai dan bahagia. Namun sekarang gak gitu, diskusi harus mengondisikan anak-anak dengan sebaik-baiknya agar tidak merasa di nomor duakan karena hp.

Tapi sebagai fasilitator mah gak semudah peserta kan ya yang bisa bilang “maaf anak belum tidur ga bisa diskusi, maaf suami baru pulang, maaf konmsumen nanya barang dan maaf lainnya”. Kalau fasilotator bilang maaf sudah dulu langsung dijapri bertubi-tubi. Padahal anak fasilnya lagi jatoh karena kejar-kejaran. Huhuhu makin pengen mundur ngefasil. Ngadu lagi sama pakM diminta melihat kenapa saya dulu menjadi fasilitator.

PakM tau saya ingin menjadi fasilitator karena panggilan jiwa, jadi dia tidak ingin alasan remeh-remeh dan kebaperan sesaat membuat apa yang saya harapkan dan ingin capai jadi hilang begitu saja. Tapi kembali lagi ini administrasi gimana ya? Gampang gini gak kelar-kelar. Tinggal copy isi resume “MUDAH KAN” tapi dimata saya jadi kelihatan ribet.

Diingatkan lagi oleh bunda Erli, untuk level 1 gimana, untuk level 2 gimana. Huaa hush hush sekali lagi boleh gak saya gak mengerjakan administrasi data ini, ngerakap kayak gini. Hahahah suruh deh yang lain aja, ngedampingi emak-emak nyinyir saya sabar kok, ngadapin yang julid dan putus asa saya bisa, ngobrol asyik sama emak-emak yang bersemangat dan positif apalagi.

Apa aja kerjaan lain saya kmau tapi jangan administrasi. Karena ngerekap data itu bagi saya ibaratkan Melipat tumpukan kain yang seminggu gak dilipat dan ga di setrika untuk disusun ke lemari. Wkwkwk karena itu saya tidak mengerjakan hal itu. Biarlah orang seperti bude yang berbinar merapikannya.

Lalu bagimana dengan penilaian mahasiswi ini? Ayok siapa yang mau ngerjain boleh japri saya. Karena saya sudah mencoba berlatih tapi sepertinya butuh latihan lama lagi ni.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *