Orangtua otodidak vs orangtua pembelajar

Hari ini umi, aqila dan Syaffira playdate kerumah kak nay dan fay. Karena hari kerja seperti biasa kami menggunakan jasa taxi online.

Menunggu 10menit taxi belum juga datang, hari sudah hampir pukul 11. Padahal rencananya ingin datang pukul10. Di cek di map taxi hanya 2blok dari rumah kami tapi belum bergerak. Akhirnya setelah 12menit taxi datang. Dan ternyata si bapak membawa 2orang anaknya dikursi depan. Yang satu perempuan seumur kak Aqila dan yang kecil laki-laki yang hampir 2tahun katanya. Sambil meminta maaf karena telat si bapak menjelaskan jika dia harus memandikan anak-anaknya dulu sebelum “narik”. Akhirnya sampailah pada pertanyaan ngapain saya naik taxol. Dalam hati.. “kepo yak” 🤣

Saya hanya menyampaikan jika saya ingin playdate dengan teman 1komunitas namanya ibu profesional. Sesebapak langsung ketawa mendengar kata “profesional”. Untuk seorang ibu perlukah menjadi profesional? Saya menjelaskan jika kami saling belajar banyak hal termasuk pengasuhan, pendidikan anak dan hal lainnya.
Dia langsung menjawab “kalau saya cukup belajar otodidak saja menjadi orangtua, dan saya bisa membesarkan 4orang anak”. Sebenarnya saya masih berfikir apa yang dimaksud bapak itu dengan otodidak. Apakah orangtua otodidak cukup mengasuh anak saja tanpa belajar atau apa entahlah. Sepertinya jika dia mendengar saya belajar ilmu pengasuhan atau kalau kata bule “parenting”, maka lawannya adalah orangtua yang tidak belajar ilmu pengasuhan. Benar gak mak? Coba bantu jawab dikomen.

Tapi jika kita mau mengingat lagi sebenarnya tidak ada orangtua otodidak, yang ada mungkin lebih tepatnya orangtua yang mengasuh dengan pola asuh warisan. Meniru apa yang orangtua kita dulu berikan kekita. Karena itu bagi saya pribadi belajar ilmu parenting adalah bagian penting karena setiap anak harus di didik sesuai jamannya. Ada hal-hal yang harus kita update di diri kita agar kebersamaan kita bersama anak tidak hanya sekedar ada, namun kita dapat hadir memperhatikan, hadir bermain bersama, hadir mendengarkan, hadir sepenuh jiwa dan hadir sepenuh hati.

Hmm sambil mendudukkan kak Aqila dengan posisi yang benar umi jadi pengen menjelaskan panjang. Secara kami adalah tetangga yang hanya berjarak 2blok. Lambat laun saya pasti akan mengenal istri dan keluarga si bapak. Dan saya berharap nanti saya dapat menularkan semangat. Setelah diam sejenak saya lalu berkata “oo jadi anaknya ada 4 ya pak, saya kira hanya 2 yang bapak bawa ini saja.”

Dan dia lanjut menjawab “Iya bu, 2 lagi sekolah ditempat mamanya mengajar. Beginilah bu dari pada istri saya keluar jadi guru lebih baik saya yang ngalah dirumah sama anak sambil “narik” taxi.” AHAA..I got the Point. Inilah yang membedakan orangtua pembelajar dan orangtua otodidak. Saya sadari atau tidak sejak banyak berkumpul dengan teman-teman yang sama-sama suka belajar perlahan saya jadi bisa memahami makna rezeki. Dan di komunitas, kami banyak belajar ilmu tentang pengasuhan. Namun semua tidak hanya bermula dari pengasuhan. Tapi dari kesadaran diri kita sebagai orangtua. Rezeki itu pasti, kemuliaan yang kita cari.

Orangtua otodidak, takut rezekinya hilang saat mereka meninggalkan pekerjaan dan mau bertukar peran antara peran ibu dan peran ayah. Orangtua pembelajar mau mencari tau, bagaimana peran ayah dan peran ibu dapat berjalan seimbang tanpa harus ada yang merasa “mengorbankan” dirinya. Walau harus sama-sama berada diranah publik orangtua pembelajar tetap bisa menjaga kemuliaan dirinya dan pasangan tidak hanya di depan orang lain tapi yang utama adalah menjaga kemuliaan orangtua di depan anak-anak. Namun, perlu mengambil banyak sudut pandang saat mendengar. Paling tidak sebapak sudah mencoba menjadi bapak profesional yang berusaha sungguh-sungguh dalam perannya. Dia mencari nafkah “dengan teriosnya” namun tetap membawa kedua anaknya.

Baca juga ANAK LAKI-LAKI JANGAN MENANGIS – POLA PENGASUHAN WARISAN

Saya terdiam mendengar bagaimana sibapak melanjutkan ceritanya tentang dia harus mengalah dan mengasuh anak dirumah saat istrinya mengajar. Sebagai seorang programmer yang setelah resign pernah mencoba menjadi guru (walau cuma beberapa bulan) saya sangat paham jika yang masuk ke rekening saya saat menjadi guru hanya seperlima dari yang saya dapatkan menjadi seorang programmer. Dia juga melanjutkan berbicara sendiri “mungkin dia mikir mumpung sama ibu professional wkwkw”. Dia membawa anaknya “narik” karena neneknya anak-anak itu tegas, dan selalu berkata anak kalian maka kalian yang urus masing-masing itu bukan tugas saya. Hahaha good job nek. 😎

Memang begitulah seharusnya profesionalnya seorang ibu. Tau bagaimana menempatkan setiap peran yang dihadapi. Beliau berperan sebagai nenek yang cukup “bermain” bersama cucu” bukan mengasuh cucu. Itu artinya beliau 2x menjalankan peran ibunya. Kepada kita dan kepada cucunya. Nenek profesional.

Sebelum penutup pembicaraan kami saya hanya bisa berkata “setiap keluarga punya cara masing-masing dalam menghadapi tantangan dan prioritas dalam rumah pak. Apa yang menjadi prioritas kita dirumah tentu tidak bisa kita samakan dengan prioritas keluarga lain”. Dan saya menganggap belajar menjadi ibu yang lebih baik adalah prioritas utama saya menikmati peran sebagai istri dan sebagai seorang ibu dengan sungguh-sungguh mau belajar ilmu tentang anak dan rumah tangga.

Kalau mamak bapak sendiri bagaimana? Apakah merasa perlu juga belajar ilmu pengasuhan atau berfikir cukup otodidak saja dalam mengasuh anak? Jangan lupa komen dibawah ya.

6 thoughts on “Orangtua otodidak vs orangtua pembelajar

  1. Ada yang menarik, Bu.. (Tapi bukan narik taksinya) Sangat banyak sekali nenek menjadi pengasuh dari anak sampai ke cucu. Terkadang mikir egosi, kalau Ibu minta cucu. Ntar cucunya yang jaga Ibu. Jahat ya? Sepertinya memang perlu belajar pola pengasuhan, apalagi pola asuh warisan yang melarang anak laki-laki menangis atau malah melarang bermain masak-masakan. Padahal kenyataannya dominan koki restoran adalah laki-laki. Good Job, Bu. Nanti saya minta bagi ilmu kalau sudah menjadi Ibu. Aamiin.

  2. Keren ya si Bapak, bawa anak narik. Zaman sekarang memang semua harus serba sendiri, karena semua sibuk urusam masing-masing. Termasuk nenek yang mungkin ogah diganggu haha

  3. Semua orang tua itu pembelajar menurutku, entah belajar dr komunitas, buku, seminar, kuliah online (di IIP misalnya), atau belajar dari orang tua atau keluarganya yang berpengalaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

beautynesia blogbeautynesia