Anak Lekaki Jangan Menangis | Pola Pengasuhan Warisan

Tidak sengaja saya menonton video kampanye yang berasal dari India. Sepertinya ini bukan pertama kalinya saya melihat videonya ini. Yang pertama saya ingat setelah melihat video ini adalah kdrt (kekerasan dalam rumah tangga) yang dilakukan seorang suami kepada istrinya tepat didepan mata saya kira-kira setahun yang lalu. 😭

https://www.youtube.com/watch?v=0Nj99epLFqg&app=desktop

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung) (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Di dalam agama islam, dari hadist diatas kita dapat melihat bahwa bagian yang terpenting dalam diri seorang manusia adalah hati. Tempat bernaungnya seluruh perasaan. Dan itu adalah hal yang pertama kali dipelajari seorang manusia. Bayi belajar mengungkapkan perasaannya dengan berbagai macam mimik. Termasuk menangis dan tertawa. Gak kebayang jika anak laki-laki sedari bayi selalu dicekoki dengan kalimat “Jangan cengeng”, “Anak laki-laki gak boleh nangis”, “Anak laki-laki gak boleh manja” dan kalimat sejenis. Bagaimana bagian terpenting dalam dirinya yaitu hati dapat merasa dengan sempurna jika ada emosi yang dilarang tumbuh.

Seorang anak laki-laki dilarang menangis karena dianggap lelaki itu harus kuat dan pantang anak laki-laki menangis, maka itu akan menggerus sifat empatinya terhadap perasaan orang lain. Melarang anak laki-laki menangis dari yang saya baca dapat jadi pemicu masalah dikemudian hari. Karena semenjak kecil dia telah dilarang mengungkapkan perasaannya. Anak akan cenderung menarik diri sehingga seolah-olah dilarang memiliki emosi hingga anak menjadi tertekan bahkan tekanannya dapat tetbawa hingga dewasa. Disinilah peran penting orangtua, menciptakan komunikasi yang produktif di dalam rumah bersama anak-anak dan pasangan. Melalui forum keluarga misalnya saat santai minum teh, orangtua dapat mengajari anak mengungkapkan dan mengenali perasaannya. Sehingga saat anak sudah bisa bicara dia. dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan nyaman. Seperti saat sedih, senang atau kesal.

Jika anak masih balita, orangtua dapat mulai mengajarinya untuk mengenali emosinya. Seperti jika dia menangis karena tidak mendapatkan yang diinginkannya dapat ditanyakan “kakak sedih ya karena gak bisa ikut dengan abah?, kalau sedih gak apa nangis tapi jangan lama-lama ya. Nanti capek” Hahaha ini mah case nya kalau dirumah kami, hampir setiap hari kerja karena si kakak selalu ingin ikut abahnya kerja. Terus gak sampai 5menit berhenti sendiri sambil bilang “udah mi kakak capek” 🤣

Generasi milenial saat ini yang telah menjadi ayah dan ibu serta yang mempersiapkan diri menjadi ayah ibu saat ini sudah sangat melek ilmu pengasuhan. Sehingga pola pengasuhan warisan yang kadang dilakukan oleh orangtua terdahulu dan terus diwariskan perlahan mulai terputus.

Dirumah kami belum ada anak laki-laki sehingga yang saya pelajari dari apa yang saya lihat dan baca adalah bekal untuk kami.

3 thoughts on “Anak Lekaki Jangan Menangis | Pola Pengasuhan Warisan

  1. Aku ga pernah mau tanamin mindset gitu ke anak laki2ku. Takut nanti dia malah tumbuh jd lelaki yg ga punya empati, ato kejam, krn mikirnya anak laki hrs selalu kuat , ga boleh cengeng. Aku selalu bilang, gpp nangis supaya lega. Setelah itu bisa cerita ke mami apa masalahnya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

beautynesia blogbeautynesia