Anak Lekaki Jangan Menangis | Pola Pengasuhan Warisan

Anak Lekaki Jangan Menangis, Pola Pengasuhan Warisan. Tidak sengaja saya menonton video kampanye yang berasal dari India. Sepertinya ini bukan pertama kalinya saya melihat videonya ini. Yang pertama saya ingat setelah melihat video ini adalah kdrt (kekerasan dalam rumah tangga) yang dilakukan seorang suami kepada istrinya tepat didepan mata saya kira-kira setahun yang lalu. 😭 Serupa tapi tak sama.

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)(HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Di dalam agama islam, dari hadist diatas kita dapat melihat bahwa bagian yang terpenting dalam diri seorang manusia adalah hati. Tempat bernaungnya seluruh perasaan. Dan itu adalah hal yang pertama kali dipelajari seorang manusia. Mengungkapkan perasaannya.

Baca juga: https://www.ekamustikasari.com/2018/08/ide-main-seru-bersama-anak-dan-balita/

Bayi belajar mengungkapkan perasaannya dengan berbagai macam mimik. Termasuk menangis dan tertawa. Sehingga orang disekitarnya dapat memahami maksud dan perasaan si bayi.  Kebayang kan jika anak laki-laki sedari bayi selalu dicekoki dengan kalimat “Jangan cengeng”, “Anak laki-laki gak boleh nangis”, “Anak laki-laki gak boleh manja” dan kalimat sejenis. Bagaimana bagian terpenting dalam dirinya yaitu hati dapat merasa dengan sempurna jika ada satu emosi yang dilarang tumbuh.

Seorang anak laki-laki dilarang menangis karena dianggap lelaki itu harus kuat dan pantang anak laki-laki menangis, jika itu terjadi maka itu akan menggerus sifat empatinya terhadap perasaan orang lain. Melarang anak laki-laki menangis dari yang saya baca dapat jadi pemicu masalah dikemudian hari. Karena semenjak kecil dia telah dilarang mengungkapkan perasaannya. Anak akan cenderung menarik diri sehingga seolah-olah dilarang memiliki emosi sedih hingga anak menjadi tertekan bahkan tekanannya dapat terbawa hingga dewasa. Disinilah peran penting orangtua, menciptakan komunikasi yang produktif di dalam rumah bersama anak-anak dan pasangan. Melalui forum keluarga misalnya saat santai minum teh atau saat main bareng, orangtua dapat mengajari anak mengungkapkan dan mengenali perasaannya. Sehingga saat anak sudah bisa bicara dia dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan nyaman. Seperti saat sedih, senang atau kesal bahkan sekedar tidak nyaman dengan lingkungan sekitarnya.

Bagaimana kita mulai menumbuhkan dan mengajarkan anak mengungkapkan emosinya? Jika anak masih balita, orangtua dapat mulai mengajarinya untuk mengenali emosinya dari keseharian. Seperti yang disampaikan dengan dalam oleh video diatas, anak laki-laki diajarkan bukan untuk tidak menangis tapi diajarkan untuk tidak membuat anak lain menangis. Untuk berempati terhadap perasaan orang lain. Bisa dimulai dari perasaan saudaranya, ibunya dan keluarganya.

Kalau dirumah si kakak juga sering menangis.  Tapi jika dia menangis karena tidak mendapatkan yang diinginkannya dapat ditanyakan dan dijelaskan alasannya “kakak sedih ya karena gak bisa ikut dengan abah? Kan abah harus bekerja jadi kita tidak bisa ikut, kalau kakak sedih gak apa nangis tapi jangan lama-lama ya. Nanti capek” Hihihi ini mah case nya kalau dirumah kami, hampir setiap hari kerja karena si kakak selalu ingin ikut abahnya kerja. Terus gak sampai 5menit berhenti sendiri sambil bilang “udah mi kakak capek” >_<

Generasi milenial saat ini yang telah menjadi ayah dan ibu serta yang mempersiapkan diri menjadi ayah ibu saat ini sudah sangat melek ilmu pengasuhan. Sehingga pola pengasuhan warisan yang kurang sesuai dan kadang dilakukan oleh orangtua terdahulu dan terus diwariskan perlahan mulai terputus.

Dirumah kami belum ada anak laki-laki sehingga yang saya pelajari dari apa yang saya lihat dan baca adalah bekal untuk kami sebagai calon orangtua yang tetap berharap akan diamanahi baby boy. Aamiin

Bagaimana dengan para bapak ibu sekalian arau calon bapak ibu? Adakah cerita, kisah atau pengalaman yang bisa dibagi sebagai persiapan bagi kami atau ibu lain yang mungkin bisa menginspirasi. Silahkan bagi di komentar yuk.

40 thoughts on “Anak Lekaki Jangan Menangis | Pola Pengasuhan Warisan

  1. Aku ga pernah mau tanamin mindset gitu ke anak laki2ku. Takut nanti dia malah tumbuh jd lelaki yg ga punya empati, ato kejam, krn mikirnya anak laki hrs selalu kuat , ga boleh cengeng. Aku selalu bilang, gpp nangis supaya lega. Setelah itu bisa cerita ke mami apa masalahnya. 🙂

  2. Aku pernah baca tulisan serupa duluu banget pas baru punya anak 1. Sejak itu aku menghindari larangan menangis ke anak²ku. Aku lebih ke… Boleh nangis, tapi jangan lama². Hehe

  3. Anak laki2ku aku bebaskan menangis kalau memang waktunya menangis seperti sakit, sedih, atau kecewa. Tapi pelan2 diajari juga untuk bisa control emosi dan tempat menangisnya, misal lagi di sekolah dan pingin nangis ya cari tempat sepi, karena kalau nangis di kelas malah jadi bahan bully teman2nya, panjang lagi ceritanya :))

  4. Fathan pulang wajahnya bared katanya dicakar temennya, terus dia bilang, Aa nggak nangis khan pinter, saya bilang, kalau sakit nangis nggak apa-apa, yang nggak boleh tuh nangis kejer karena permintaan nggak dipenuhi atau merengek, kalau nangis karena sakit boleh, bener ga sih jawab begitu?

  5. Artikelnya sangat bermanfaat kak, aku setuju banget soal tidak boleh menanamkan doktrin pada anak laki-laki kalau mereka gak boleh menangis. Butuh usaha untuk merubah mind set yang sudah menjadi paradigma. Thanks kak

  6. Saya gak pernah melarang anak laki-laki menangis. Baik anak saya yang laki-laki atau perempuan pesan saya selalu sama. Silakan menangis bila dirasa perlu. Asalkan jangan berlebihan.

  7. Wahhh anakku masih suka nangis kejer kalo keinginannya gak dipenuhi, bingung juga gimana ngatasinnya yaa? Soalnya udah beberapa kusounding bahwa gak semua keinginan itu bisa didapatkan, tapi dia gak mau ngerti 😪

    1. Adakalanya anak menguji kita mba. Jika sekali bisa mendapatkan keinginan dengan menangis nanti dia ulang nagis lg biar dapat. Harus kuat hati. Tp kata ustadz hary santosa yang jadi raja tega itu ayah aja

  8. Anakku cowok semua dan aku bilang mereka boleh nangis kalo memang perlu. Karena nangis itu termasuk salah satu emosi yang harus disalurkan. Nyesek pasti kalo dipendam. Tetep sih aku pesan juga jangan nangis berlebihan. Perbanyak istighfar kalo masih ingin nangis.

  9. Siapapun boleh nangis karena itu buat ngungkapin emosi. Kalau ponakanku marah dan nangis ya kubiarin, jarang kukatain “diam”. Kalau udah bosen dan lega, dia diam sendiri sih

  10. Wah jadi dapat pencerahan mbak..ponakan ku laki-laki umur 5 tahun setiap masuk sekolah (TK) pasti nangis mamanya nggak boleh jauh-jauh..kami sering bilang anak laki-laki nggak boleh nangis, duh kasian jadinya sama ponakan.

  11. Suami saya oramg yang paling jarang menangis kata ibunya sejak kecil. Mengungkapkan perasaannya dengan to the point. Karena dilatih sama bapaknya untuk bersikap mampu mengambil resiko dari setiap keputusannya.
    Sekarang, justru beliau yang jauh lebih peka terhadap dua sosok perempuan dalam keluarganya.

  12. Yang paling mendasar adalah kita para orang tua harus memiliki kesadaran bahwa setiap anak itu unik dan punya kekhasan masing-masing.

    Salah satu yang paling penting mengenai keunikan anak adalah dengan membiasakan anak menyatakan pendapatnya sehingga anak merasa dihargai yang kelak bisa membantu kepercayaan diri dan mengembangkan potensi.

  13. Kami tinggal serumah dengan bapak dan ibu. Antara saya dan suami “versus” bapak dan ibu dalam mengasuh anak2. Ya sudah, mungkin anak cowok kami juga bingung, ibunya membolehkan dia menangis sementara neneknya sebaliknya. Hanya bisa berdoa yang terbaik.
    Hiks, maaf curcol.

  14. Kalau Khalid.
    Dipersilahkan menangis.
    Saat situasi memaksa di keramaian.
    Ayahnya malah bilang, nangis aja yg keras. Ayah dengerin.
    Wkkwkwkwkw
    Trus dia makin marah. Karena klo nangis keras capek

  15. Ya ampun aku ketawa geli ketika si kakak bilang, udah ah capek wkwkwk
    ibu dan ayah di dunia emang keren banget ya, semoga aku bisa mencontoh menjadi orangtua yang baik untuk anak2 ku kelak. aamiin. Makasih mba Eka cerita serunya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *