Persiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri

Persiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri. – Akhir tahun lalu, aku dan anak-anak menyusul suami untuk pindah ke Jepang. Jika ada yang bertanya apa saja persiapanku untuk pindah ke Jepang? Aku bakal jawab di tulisanku kali ini secara lengkap, insyaAllah. Kupikir dulu yang penting hanyalah visa dan tiket. Setelah itu, semuanya pasti mengalir begitu saja.

Ternyata tidak.

Persiapan pindah ke negara lain bukan hanya soal dokumen dan koper. Ada banyak hal kecil yang awalnya terlihat sepele tapi justru menentukan apakah perjalanan kita akan terasa ringan atau melelahkan.

Berangkat Ke Konjen Jepang di Medan

Aku mengajukan visa ke Konsulat Jenderal Jepang di Medan. Bermodalkan petunjuk yang dikirimkan suamiku melalui whatsapp, aku berangkat ke Medan sendirian. Sebelum berangkat ada banyak pertanyaan dalam kepalaku. Apakah aku harus membawa anak-anak seperti mengurus pasport? Apakah aku bisa mengurusnya sendiri? Apakah nanti akan ada calo? Bagaimana jika biayanya berubah. Pokoknya banyak sekali itu pertanyaan.

Aku mencoba mencari di media sosial. Yang aku dapatkan adalah, orang yang mengurus via calo dengan biaya sekian. Tak perlu datang tapi visanya jadi. Minimnya informasi di media sosial, aku mengandalkan informasi dan petunjuk dari suamiku saja. Aku membeli tiket pesawat dari Batam dengan tujuan Kuala Namu. Dari airport aku melanjutkan perjalanan dengan kereta api rencananya menuju hotel.

Aku datang dengan pesawat pagi, sebelum jam makan siang aku sudah sampai di Kuala Namu. Aku memutuskan untuk makan siang di bandara. Suamiku mengatakan aku bisa naik ojek langsung ke tempat pengurusan visa karena tutup jam 4 sore. Tapi zonk nya adalah aku salah alamat. Ini bingung antara mau menangis atau mau ketawa.

Salah Alamat karena Kurang Komunikasi

Tanpa bertanya lagi pada suamiku, aku mengetikkan di aplikasi ojek alamat konjen Jepang. Gojekpun sampai dan mengantarkan ku dengan selamat. Aku disambut security yang tidak ramah dan bukan security standar BCA. Aku bertanya di mana konjen Jepang. Mereka mengatan di lantai atas, tapi ada keperluan apa? Aku menjawab ingin mengurus visa izin tinggal. Ternyata, aku mendatangi tempat yang mengurus khusus beasiswa dan mahasiswa yang akan kuliah ke Jepang.

Lha… kok salah alamat. Okelah mari kita tuju kantor yang sebenarnya. Ternyata aku miskon dengan pak suami. Selanjutnya aku pesan gojek lagi. Kali ini aku sama ojeknya saling mencari. Aku menuggu di pintu A ternyata terpilih di map pintu B. Karna tak enak hati, akupun berlari ke pintu B. Ternyata ojeknya menyusulku kepintu A. Lalu aku yang bingung di telpon ingin balik lagi ke pintu A. Sampai bang gojeknya bilang “BU, tolong diam disana aja ya, jangan pindah, biar saya yang nyari ibu”. Part satu zonk aku di Medan.

Akhirnya sampai jugalah aku di gedung aslinya. Ternyata di mall, aku bertanya pada security di mana tempat pengurusan visa Jepang. Setelah di jelaskan akupun mencari tempatnya. Dan terjadilah zonk yang ke dua. Tepat aku sampai di depan pintu nya tepat security menutup pintu penerimaan layanan karena sudah jam 4. Heeiii aku lho telat semenit. Akupun tetap diminta untuk datang lagi besok pagi. Akhirnya aku balik kanan dan langsung menuju hotel. Ternyata hotel yang dipilihkan suamiku tepat berada di seberang tempat pengurusan. Besoknya aku agak siang datang ke konsulat, soalnya mau nyari sarapan dulu.

Sesampainya di Konsulat Jenderal Jepang di Medan, ternyata suasananya jauh dari bayanganku. Tidak menakutkan. Tidak rumit. Tidak juga penuh tekanan seperti yang sering diceritakan orang. Alhamdulillah pengurusan visa berjalan mudah, semua COE sudah di siapkan oleh pak suamiku. Semuanya dijadikan dalam 1 folder dan aku tinggal memprint. Aku menyerahkan semua kelengkapan dan tak sampai 1 jam (dengan antrian) aku sudah menyelesaikan administrasinya.

Biaya sesuai yang tercantum, karena aku diluar kota aku juga membayar biaya ongkir karena pasport akan dikirimkan.

Semuanya terasa mudah karena petugasnya jelas, alurnya rapi, dan yang paling melegakan semuanya transparan. Tidak ada calo yang mendekat, tidak ada biaya tiba-tiba, tidak ada kebingungan yang dibiarkan menggantung.

Dan satu hal yang sempat kupikir akan merepotkan ternyata tidak terjadi yaitu aku tidak perlu membawa anak-anak. Selama dokumen lengkap, pengajuan bisa dilakukan sendiri.

Kekhawatiran yang Ku Ciptakan Sendiri

Di ruang tunggu itu aku sempat menarik napas panjang tepatnya napas lega yang mungkin hanya dipahami oleh ibu-ibu yang sedang membawa keluarganya menuju perubahan besar dalam hidup.

Saat itulah aku sadar, sering kali yang melelahkan bukan prosesnya, melainkan bayangan-bayangan yang kita ciptakan sebelum menjalaninya. Media sosial kadang membuat segalanya terlihat lebih rumit atau lebih mahal dari yang sebenarnya. Padahal beberapa hal dalam hidup memang hanya perlu keberanian kecil untuk memulai. Dan hari itu, aku pulang bukan hanya dengan tanda terima pengajuan visa.

Aku pulang dengan versi diriku yang sedikit lebih berani.

Sedikit lebih percaya bahwa aku bisa mengurus hal-hal besar bahkan ketika harus melangkah sendiri. Good job Eka.

Untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan diri menyusul suami ke luar negeri, jangan terlalu bayak melihat media sosial yang informasinya tidak terjamin akurat. Kecuali kamu memang percaya. Jika kita tidak mencoba sendiri kita tidak akan tau.

Cerita Perjalanan Ku Lanjutkan di postingan selanjutnya ya.

Eka – Osaka 5 Februari 2026