Persiapan Pindah ke Jepang: Mencari Tiket dan Bekal Berangkat

Mencari tiket ke pesawat ke Jepang ternyata tidak semudah memilih tiket perjalanan dalam negeri. Walau suamiku sudah di Jepang tapi aku tetap mencari tiket sendiri. Sebenarnya bukan tiket sendiri, tapi tiket berlima untuk ku, tiga anakku dan adikku yang mengantarkan ku ke Jepang dikarenakan suamiku tidak bisa menjemput. Setelah pulang dari mengurus visa aku baru mulai memantau harga tiket setiap hari. Sebelumnya aku masih merasa perjalanan ini belum nyata, dan masih seperti angan-angan bagiku.

Pilihan Tiket tak Sesuai Harapan

Kota tempat tinggal kami tepat berada di sebelah Singapura. Hal inilah yang memudahkan ku untuk memilih penerbangan melalui Singapura. Banyak sekali penerbangan menuju Jepang dari Singapura. Sebelumnya karena di biayai keberangkatan suamiku dari Jakarta.

Berangkat dengan membawa tiga orang anak dengan usia beragam dan dibawah 10 tahun membuatku harus memikirkan jam penerbangan yang tepat. Jangan sampai terburu-buru dan jangan sampai juga menghabiskan terlalu banyak waktu di perjalanan.

Setelah pencarian beberapa hari, akhirnya pilihan jatuh ke China Eastern Airlines, penerbangan ini berangkat dari Singapura dengan transit di Shanghai lalu menuju Jepang. Waktu penerbangan sore hari, jadi aku bisa berangkat pagi dari kotaku menuju Singapura menggunakan Ferry. Itu adalah rencana yang kususun sebelum berangkat.

Tapi ternyata, semua rencana kita belum tentu sesuai kenyataannya.

Bekal yang Tak Cukup di Perjalanan

Salah satu yang paling penting dan terlalu santai ku persiapkan adalah bekal di perjalanan. Aku tidak menghitung dengan tepat kebutuhan makan anak-anak. Aku membawa banyak camilan ringan yang ternyata tidak termakan dan tidak sempat memakannya. Namun aku kurang banyak membawa makanan berat yang mencukupi nutrisi mereka di perjalanan.

Ini menjadi salah satu hal yang paling aku notice ke depannya untuk setiap perjalananku berikutnya, baik perjalanan liburan maupun perjalanan antar negara. Anak-anak terbiasa dengan jam makan teratur dengan makanan berat. Tidak seperti orang dewasa yang mungkin santai jika jam makan tertunda atau bisa di “sogok” dengan camilan.

Tapi tidak anak-anakku. Mereka rewel karena aku kurang banyak membawa makanan berat. Sedangkan kami transit di negara non muslim dan ternyatanya kami sampaid di jam makan malam dan mereka ingin makanan berat. Kesalahan terbesar Umi sih ini. Maafkan aku.

Namun dari perjalanan itu, aku akhirnya membuat beberapa pegangan sederhana untuk diriku sendiri dan siapa tahu bisa menjadi pengingat juga bagi ibu lain yang akan bepergian jauh bersama anak.

Tips menyiapkan bekal perjalanan bersama anak

  1. Bawa sedikit lebih banyak dari yang terasa perlu.
    Dalam perjalanan jauh, “kelebihan sedikit” jauh lebih menenangkan daripada kekurangan.
  2. Prioritaskan makanan berat, bukan hanya camilan. (sesuaikan dengan kebiasan anak)
    Camilan memang praktis, tetapi rasa kenyang memberi efek tenang yang jauh lebih panjang untuk tubuh maupun emosi anak.
  3. Bawa makanan yang sudah familiar.
    Perjalanan panjang bukan waktu terbaik untuk “nyoba-nyoba” atau “disana aja nanti”. Makanan yang mereka kenal terasa seperti “rumah kecil” di tengah tempat asing.
  4. Hitung perjalanan berdasarkan jam makan anak.
    Jika waktu terbang atau transit melewati jam makan utama, anggap itu sebagai waktu makan sungguhan bukan sekadar jeda camilan.
  5. Jangan terlalu bergantung pada makanan bandara atau pesawat. (ini kesalahan aku banget ini).
    Terutama saat transit di negara non-muslim atau ketika pilihan makanan terbatas.
  6. Simpan makanan di tas kabin, bukan di koper.
    Lapar tidak bisa menunggu bagasi datang 🙂
  7. Amati tanda lapar sebelum anak mengatakannya.
    Anak yang mulai rewel, sensitif, atau sulit diatur sering kali bukan sedang “bermasalah” mereka hanya kehabisan energi.

Pelajaran Berharga Bagiku

Ternyata persiapan pindah ke Jepang tidak hanya soal visa, tiket, atau koper. Aku justru belajar banyak tentang diriku sendiri. Mulai dari aku yang berangkat pagi dari Batam ke Singapura. Aku dan adikku yang membongkat bagasi di Singapura karena tidak seimbang, koperku ke beratan sedangkan koper anak-anak kurang. Jadi harus di cocokkan pertiket.

Makanan yang tidak disukai anak-anak, terlewat tempat sholat di Singapura, hingga kami sholat di kursi ruang tunggu. Aku sadar banget tidak semua hal bisa dipersiapkan dengan sempurna. Akan selalu ada yang terlupa, salah hitung, atau kurang. Tapi di situlah aku mengerti, melewati perjalanan sendiri dengan tiga anak memang bukan hal mudah. Walau sudah ada support system yang menemaniku.

Di pesawat waktu itu, saat anak-anak akhirnya tertidur, aku menatap mereka sebentar dan berpikir hidup kami benar-benar akan berubah. Rasanya campur aduk. Setelah kami kedinginan di ruang tunggu Shanghai, tertahan lama di imigrasi Shanghai karena aku belum mengisi izin masuk. Akhirnya di perjalanan ke Jepang kami mereka semua tertidur.

Aku bahagia sekarang kami sudah berkumpul sekeluarga di Jepang. Tapi perjuanganku membawa ke tiga anakku menyusul suamiku ke negeri jauh, adalah sesuatu yang kubanggakan sebagai pencapaian ku di 2025.

Dan untuk para ibu lain yang sedang menyiapkan perjalanan besar bersama keluarganya, aku ingin bilang tidak apa-apa jika kamu masih merasa ragu. Tidak apa-apa jika belum terasa siap. Kita akan belajar sambil berjalan.

Semoga ada sedikit pelajaran dari tulisanku kali ini.

Eka – Osaka 6 Februari 2025