Tadi sore saya membaca WA Story salah seorang kenalan, yang menuliskan segala kekesalan dan keluh kesahnya di Story. Mungkin sengaja dibuat dalam bahasa asing karena kekesalah tersebut dicurahkan untuk keluarganya yang tidak ada empati sama sekali saat anaknya yang baru dikabari positif Covid. Mulai yang mengatakan kamu terlalu sok prokes, terlalu takut, terlalu berlebihan karena dia sangat menjaga diri dan keluarganya dalam berbagai kegiatan termasuk kegiatan keluarga. Komentar-komentar yang di dapatnya lebih seperti cibiran daripada dukungan baginya.
Berat banget sih ya, saat kita sedang berusaha menjaga diri dan keluarga tapi malah anak kita yang positif Covid tentu kita butuhnya dukungan bukan nyinyiran. Gak usahlah bayangkan segala kiriman ini itunya, di WA ngasih doa aja sudah bahagia kitanya. Tapi bukan ini yang mau aku bahas, lebih ke bagaimana dia menumpahkan segala unek-uneknya yang panjang dalam bentuk Story. Iseng banget ya bacain Story yang panjang? Ngak juga sih, karena aku lihat ada positif Covid pasti dia butuh sekedar dukungan jadi kubacain semua. Diakhir story dia tuliskan mohon maaf aja lah kalau banyak salah di grammar nya namanya juga lagi emosi 🤭
Yang mau aku bahas adalah, bagaimana kagum sama dia yang bisa menumpahkan segala yang dirasakan (walau dalam bahasa asing) dan banyak yang ga pas nya. 😂 Tapi paling ngak dia berani menuliskan perasaanya itu sudah keren buatku.
Saat ini seringkali kita mikir ingin menuliskan apa ya, dituliskan gak ya, nanti dikira lebay, mau posting menulis tentang anak entar bikin yang belum punya anak sedih. Mau menulis tentang pasangan nanti yang belum nikah kasihan baper. 🙄 Kalau gitu kapan aku boleh nulisnya nek?
Ini adalah kondisiku beberapa bulan ini, apalagi sejak aku mengikuti kelompok kepenulisan. Membuatku semakin takut menulis. Lho anehkah?
Iya aku takut menulis, karena aku ngak siap dikomentarin KBBI ku ngak benar, aku ngak siap dikomentari yang benar itu NGGAK bukan NGAK atau GAK. Yang benar itu TAHU bukan TAU. Iya aku tahu tapi jempolku kadang tetap nulis TAU dan setiap aku selesai nulis aku janji akan revisi ternyata gak kesampaian dan keburu ganti bulan.
Percuma sudah belajar berbulan-bulan tapi editing tulisan aja ngak katam-katam. Daripada aku dikomenin ini itu aku milih ngak nulis aja. Anggap ini alasan dan ketakutan aku aja. 😒
Komentar-komentar mereka mungkin hanya ingin menyemangati dan membangun(kan) ku yang tertidur. Biar maiin pintar menulis yang baik dan benar, sesuai kaidah bahasa, bukan cuma menulis curhat-curhat dan isi hati belaka.
Blog ini hadir buat edukasi, kalau mau curhat bikin blog baru aja. Tapi kan ini blog aku, aku yang bayar aku yang nulis. 🙄
Akh sudahlah ya itu semua. Aku maunya menulis saja, semua ilmu yang kupunya kuterima dengan bahagia. Aku akan berproses dan tumbuh seperti pohon rambutan saja. Memang dia lama tumbuhnya terus pas berbuah kecil-kecil aja tapi dia banyak dan juga banyak yang suka.
Okelah perumpamaan buah rambutan sudah cukup membuatku ingin makan durian. Cukup sekian segala curhatan dan selamat malam.
Tambahan: Jadi sebelum ku posting tulisan ini, aku main dulu ke beberapa blog teman-teman blogger. Sungguh banyak banget pelajaran yang aku dapat termasuk bagaimana pentingnya literasi bagi seorang ibu rumah tangga yang kubaca di blog mba Arda Sitepu.
Terima kasih teman-teman blogger yang terus berbagi, aku bahagia bisa membaca tulisan mereka, dan aku juga ingin belajar membuat tulisan yang bisa membawa kebaikan dan kebahagiaan. Untuk diriku sendiri dan untuk lebih banyak orang.
UmiEka
