Melipat Kain Itu Mudah | Puasa Pekan Kedua

Melipat Kain Itu Mudah. Sejak awal membuat 4 kuadran untuk melacak kekuatan diri, saya sudah memasukkan melipat kain dan menyetrika ke dalam kuadran tidak suka. Iya saya tidak suka melipat kain tapi saya suka kain tersusun rapi di lemari.

Jadi yang diatas sebenarnya hanya judul belaka. Ternyata kenyataan tidak semudah itu saudara-saudara. Apakah ada para ibu yang sama dengan saya? Melipat kain sebenarnya adalah hal yang mudah, tapi saya hanya tidak sabar melakukannya. Terutama jika kain yang saya lipat langsung dilarikan anak-anak dan dimainkan padahal belum semua selesai dan saya belum susun ke lemari.

Dan terlebih-lebih lagi, kain di keranjang itu bisa dengan cepat beranak pinak. Entah kapan mereka menikah nya. Pokoknya jika hari ini saya lelah dan skip melipat kain besok tiba-tiba sudah penuh full jadi 2 keranjang. Arrgghh, ini membuat kewarasan saya dalam keseharian bisa berkurang. Walaupun kain dan keranjang itu ada dikamar belakang yang tidak ada penghuninya.

Karena itu dengan kebulatan tekad saya memilih menjemur dilanjutkan melipat kain dan merapikan di lemari menjadi puasa pekan kedua saya.

Tantangan Itu Hadir Sejak Menjemur

Jadi untuk kain saya bukan tipe yang harus rapi dan clink. Maka baju rumah tidak harus disetrika, baju yang di setrika adalah baju kerja suami dan baju keluar kami sekeluarga. Dan itu sudah jadi tugas laundry. Sisa baju harian anak dan seprai yang hampir tiap hari ganti karena si Adek sering ngompol dan tidak mau pakai clodi lagi.

Saya mencuci masih menggunakan mesin manual dan otomatis harus bolak balik ke mesin cuci untuk mengganti air dan mengeringkan. Di saat kondisi hamil seperti sekarang saya tidak kuat bolak balik banyak kali ke belakang. Menunggui mesin cuci bukanlah pilihan saya juga. Pokoknya alasan banyak lah ya, namanya juga gak suka. Hahaha 🤣

Oh iya sebelum kondisi wabah seperti sekarang yang mengharuskan kita menjaga jarak dan mengu bertemu orang luar selain keluarga, saya sering dibantu Bude. Beliau lah yang menuntaskan kain dan membuat lemari saya layak dipandang. Namun saat ini dengan kondisi hamil saya tidak bisa menerima orang lain keluar masuk rumah kami. Apalagi bude tidak bekerja di satu rumah saja.

Kembali ke mesin cuci, saya sering menjadi tim cuci pagi jemur sore, atau cuci malam jemur kesiangan. Tidak ada telatennya dalam hal perkainan ini. Semua saya kerjakan sesuka hati dan suami juga tidak pernah proses karena pakaian nya sebagian besar ke laundry.

Saya merasa mungkin karena jam jemur lain yang tidak konsisten maka kain saya jadi menumpuk. Karena saat saya ada waktu pas untuk melipat tapi ternyata kain saya malah belum kering. Sip seperti nya untuk memperbaiki nya maka saya mulai dari menjemur kain tepat waktu.

Kriteria Badge Untuk Penilai Diri

Berikut adalah kriteria penilaian saya untuk setiap badge yang saya sematkan per hari untuk diri saya sendiri.

1. Badge Excellent (berwarna hijau) adalah ketika saya dapat menjemur kain langsung setelah saya cuci lalu saat kering saya angkat dan lipat serta langsung susun di lemari.

2. Badge Very good (bewarna kuning) didapatkan ketika saya bisa menjemur dan melipat kain, meskipun kadang tidak langsung susun di lemari. Jadi masih susun dikeranjang.

3. Badge Satisfactory (bewarna biru) adalah ketika saya menjemur kain tepat waktu, tapi tidak langsung diangkat dari jemuran (atau suami yang mengangkat jemuran) dan tidak dilipat.

4. Badge Need improvement adalah ketika saya tidak menjemur tepat waktu, tidak melipat kain dan tidak menyusun lemari dengan rapi.

Tampilan badge pernah saya post di sini “Belum Berhasil Bukan Berarti Gagal

Diawal puasa kain-kain ini rasanya mudah sekali. Hari pertama karena tau saya sedang menjalani puasa maka kain saya prioritaskan. Pagi dia sudah selesai dan terjemur rapi. Lalu sore saat anak main saya segera angkat dan lipat. Ahaaa… ini mudah sekali ternyata. Gempil mak kerjaan begini ternyata. Jadi hari pertama dapat badge Excellent.

Tapi lihatlah badge itu. Huhuhu sedihnya hatiku. Puasa pekan kedua lagi-lagi ditutup oleh badge merah.

Ini semuanya karena menunda melipat sekali. Jadilah diakhiri oleh kain yang bertumpuk saat tulisan ini diketik.

Sudah jelas ini bukan prestasi. Dan sudah jelas ini memang tidak mudah untuk saya. Pekan depan puasa ini masih akan saya lanjutkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *