Halo.. happy 18bulan untuk Syaffira hari ini dan happy 3,5tahun untuk kakak Aqila. Alhamdulillah diusia 3,5tahun kak Aqila lebih paham dan mengerti jika jauh dan tidak berjumpa dengan abahnya. Namun ternyata dia tidak sepenuhnya paham tentang jarak dan waktu. Jelas saja toh masih 3,5tahun. Karena itu saya sudah jauh hari mempersiapkan anak untuk siap menghadapi LDR bersama abahnya.
Jika sebelumnya kami biasa ditinggalkan hanya beberapa hari atau paling lama seminggu dan itu hanya ke Surabaya atau Jakarta kali ini kami dipisahkan oleh Samudera Pasifik dengan abah. Nah apa saja yang saya siapkan untuk anak-anak agar nyaman, yuk baca tips berikut ini.
Tips Mempersiapkan Anak Menghadapi LDR
1. Sounding Jauh Hari
Kabar keberangkatan babang sudah didapatkan sejak 2 bulan yang lalu. Jadi sejak mendapatkan kabar itu saya sudah bercerita dengan kak Aqila. Bahwa abah kita akan pergi kerja jauh, nanti hanya akan ada kita bertiga ya. Tempatnya jauh sekali. Kita hanya akan bisa video call.

Alhamdulillah tanggal keberangkatannya masih belum pasti. Dikatakan akan berangkat tanggal 8 September ternyata mundur ke akhir September. Jadilah kami ada persiapan lebih bahkan bisa pamitan ke mertua dan jalan-jalan di Bintan. Sounding yang dilakukan harus jujur, hindari polesan nanti pulangnya akan dibelikan ini itu, tempatnya gak jauh kok dan hal tidak jujur lainnya. Dan juga sounding ini dilakukan dengan memilih waktu yang menyenangkan.
2. Buat Kesepakatan Waktu

Jarak yang jauh tentu dipisahkan oleh waktu yang jauh juga. Perbedaan waktu kami yang 12jam tentu dimudah mengatur komunikasi apalagi tujuan abah kesana adalah belajar sehingga sebelum pergi kami buat perjanjian kapan waktu komunikasi. 2x waktu komunikasi khusus dengan anak-anak dan 1x waktu khusus dengan beloved umi. #eaaa
Tapi ternyata perjalanan 27jam yang ditempuh membuat komunikasi hanya via chat dan terlihat berat bagi anak-anak. Huhu semoga setelah sampai disana dan sinyal wifi kencang komunikasi akan sesuai jadwal yang kami buat lagi
3. Menyediakan Aktivitas Menyenangkan
Ada abah dan tidak ada abah tentu sangat terasa sekali oleh anak-anak terutama kak Aqila. Kenapa? Karena kak Aqila rela begadang demi nungguin abahnya pulang dimalam hari. Agar mereka bisa bermain atau bercerita bersama. Dan tanpa saya. Biasa saya diminta si kakak untuk masuk kamar. Karena seharian sudah bersama umi. Saat abah pergi adalah saat yang sepi saat malam terutama kami memilih tidak berlangganan tv apapun.

Selain ide main yang sudah pernah saya share, kami ada kegiatan tambahan yang biasanya kami lakukan disiang hari sekarang ditambah sesi malam. Yaitu corat coret. Saya mempersiapkan banyak alat corat coret baru seperti pensil warna dan alat lukis tambahan.
Karena saya pernah membaca dan mendapatkan kelas tentang art therapy. Jadi mencoret coret kertas termasuk cara agar perasaannya tidak terpendam. Walau kami tetap sering berceloteh berdua.
4. Perbanyak Agenda Bersama Teman
Nah ini karena kami memilih jalur Homeschooling untuk anak-anak maka tidak ada sekolah siang hari kecuali bersama umi. Alhamdulillah di Oktober nanti akan banyak agenda diluar. Beberapa teman sesama HS juga sudah membuat janji untuk agenda diluar bersama. Salah satu agenda yang akan menyenangkan di Oktober nanti adalah pesta komunitas dimana anak-anak akan bisa berjumpa teman-teman sesama HS serta dapat melihat keragaman hobi dan lainnya seperti hewan reptil.
5. Mempersiapkan Bala Bantuan
Ini adalah saat dimana keadaan darurat dan butuh bantuan tentu harus ada orang yang sudah nyaman dengan anak-anak untuk hadir bersama kami. Misalnya membeli air galon yang habis menemani anak-anak saat saya tidak fit. Disini tenaga daruratnya adalah adik saya. Tapi karena memasuki mid semester dan banyak tugas dan pastinya jika dia dirumah tidak akan bisa belajar karena akan diajak main oleh anak-anak maka dia datang jika kondisi darurat saja.
Itulah beberapa persiapan saya untuk menyiapkan anak menghadapi LDR bersama abahnya. Tentu saja dalam perjalanan akan ada banyak tantangannya. Bismillah aja semoga kami setrong bertiga. Walau tadi baru hari pertama si kakak sudah manjatin kursi buat nyariin foto abahnya dan duduk sambil bercerita berdua. Pas adegan ini akuh jadi meloww selaluh.

Hallo abah selamat menjadi Ayah Yang Dirindukan

Baru bulan kemarin aku dan anak2 ditinggal sama suami untuk bekerja di Papua selama sebulan. memang bukan hal yang mudah untuk aku dan anak2 untuk LDR-an, karena aku belum pernah ditinggal sama suami untuk bekerja di luar kota dengan waktu yang lama.
Tapi sekarang jadi dimudahkan karena sudah adanya Video call 🙂
Aku salut sama ibu ibu dan anak yang LDR sama ayahnya, tetanggaku LDR cuma ketemu setahun sekali. Suami datang..hamil, lalu datang lagi anak sudah lahir. Mengasuh 3 anak dengan karakter yang beda,ada yang menguji kesabaran…kadang sampai ikutan pengen nangis kalau anak anaknya lagi trouble. Tetap semangat ya mba
Selamat memperiapkan LDR ya Mbk soalnya aku sudah mengalami dan perbanyak rasa sabar hehe
Hehehe terimakasih mba naqi.
Semoga diberikan yg terbaik ya mbak. Ini kyknya bentar lagi aku jg akan LDR-ran walau cuma bentar. Kudu nyiapin anak2 juga. Makasih tips2nya. Bisa kupraktekkan buat anak2 nanti TFS
Sama sama mba april. Semoga bermanfaat yak
Ya Allah…semoga dimudahkan yaa, mba..
Tapi yakin deeh…bahwa pertolongan Allah itu dekat.
In syaa Allah membawa keberkahan untuk keluarga.
Aamiin.
Terimakasih mba. Iyah alhamdulillah banyak aja yang bmain,kerumah
Wah selamat menjadi mama strong yaa… sendirian mengasuh anak saat suami LDR. Pasti butuh kekuatan besar.
Butuh sabar aja mba leyla. Soalnya anaknya baperan kalau jauh dari abahnya
Ujian banget ini bagi orang tua yang LDR, tapi siapa yang berhasil melalui pasti cerminan banget dan terakui bahwa tanggungjawabnya bisa dijadikan panutan.
Aku sendiri belum pernah LDR sama suami, tapi pernah LDR pacaran #EH hahaha
Semoga para orangtua dimudahkan dalam mendidik anak dan membimbing menjadi generasi penerus bangsa yang baik aamiin.
Hahaha semoga jgn ldr an sama suami yak.
Ldr ga mudah tapi kita harus mempersiapkan anak2
Iya mba siti. Anak temanku sampai ada yang sakit kl ldr dengan ayahnya
Aku pernah LDR beberapa bulan dengan berbagai kondisi. Pertama terpaksa LDR karena aku harus skripsi sementara suami kerjanya beda kota, dan kala itu ada bayi yang harus aku titipkan ke mertua di luar kota juga karena akunay sedang hamil. Kedua, LDR karena suami mendapat pekerjaan baru di luar negeri, kondisinya aku udah punya 1 batita dan 1 bayi. Tapi enaknya, orangtuaku dekat, jadi selama LDR itu aku tinggal di rumah orangtua. Nah yang terakhir, aku LDR dengan suami karena kontrak suami mau habis di luar negeri sementara aku dan anak2 pulang duluan untuk sekolah. Ini yang paling berasa karena aku udah punya 3 anak, tinggal di rumah sendiri, nggak punya ART. Mumet lah hahahah. Tapi semuanya sudah berlalu, apalagi sekarang kan bisa video call ya sama yang jauh. Jadi anak2 tetap bisa berkimunikasi sama papanya yang lagi jauh.
Wah sering juga ya mba. Aku sedang belajar mandiri banget ini sekarang
duh jd ikutan mellow trakhir2 mb. Insyaallah kk Aqila kuat, sama ummimya juga. Smg dimudahkan Allah ya mbak
Terimakasih mba prita. Huhu apalagi emak nya ikutan melow
Setuju banget dengan tak memberi iming iming saat pulang nanti bakal dikasih ina dan inu. Soalnya apa? anak anak adalah makhluk yang paling mudah ingat sedangkan ortu kadang lupa. Trus, pengajaran memberikan iming iming juga akan membuat akan belajar bersyarat. Mau ini kudu dikasih inu, ah selamat LDR an Mbak, salam buat Aqila y
Salam balik mba astin. Iya takutnya yg di janjikan lupa malah tambah baper kl jumpa
Semangat melewati LDR. Aku blm ada pengalaman, tapi memangbpenting untuk menyiapkan mental anak dan diri sendiri tentunya. Kadang kan tuh ada anak yg nemplok sama Ayahnya. Pas pisah jadi sakit
Iyah sahabatku gitu anaknya mba. Alhamdulillah anakku cuma baper aja pas ditelpon karena sedih ga bisa main bareng
Duhh, ak bakal baper kalau harus menghadapi LDR dengan anak atau suami.
Tapi sekarang kita tidak perlu kuatir lagi karena teknologi semakin canggih. Jadi bisa Videocall 😊
Iya baper banget mba jean. Tp vcall lumayan banget membantu
Aku pernah LDR selama lebih 2 tahun. Dan buat saya perjuangan banget. Ekstra. Tipnya ada beberapa yang aku pakai juga ternyata.
Wah mba indri…2tahun lama banget. Huhu. Iya ya mba jika berhasil melewati makin sayang deh
ternyata tip LDR untuk anak ada juga ya hehe
Ponakan ku meski udah video call sama ayahnya tetap sampe demam karenan kangen 🙂
Mungkin kalau emaknya siap, anaknya juga siap yah LDRan. Tapi demi kau dan si buah hati, kadang2 LDRan harus dijalanai. Keep strong yah emak dan kakak cantiik.
anak saya ga kuat LDR
meski ayahnya cuma dinas beberapa hari
tiap malam mewek terus
memang sih siang hari dia bisa asyik bermain
nah mau tidur keingat ayahnya dan nangis
untung sekarang ayahnya ga ada dinas luar lagi
malah saya yang sering pergi dinas
eh dianya anteng aja…hahaha
Iya ni uni. Anak saya awal2 ditelpon pasti buang muka kayak marah dan merajuk. Tp selang beberapa menit baru ngobrol banyak. Knp jauh knp bobok disana. Kok naik pesawat. Dll
LDR memang paling berat ya Um…. Paling berat untuk anak-anak…. Semoga dou crucils tetap tangguh dan tetap merasakan kehangatan Abah dari jarak jauh… Ak kok langsung kebanyang, my youngest itu gak tidur kalau papanya gak ada di sampingnya. Duh gak kebayang kalau jauh dari papanya. Selama ini, justru aku yang kerap keluar kota meninggalkan mereka untuk beberapa hari dan mereka belum pernah semalam pun ditinggal papanya. Hehehe
Hehehe itu berarti papanya luarbiasa ya mba bondingnya. Ini aku jg krn bonding abahnya kuat ke anak jadi sering nanyain banget
kalau dari awal LDR mungkin lebih mudah. Tapi kalau biasanya dekat trus tiba-tiba misah pasti bakal berat buat keduanya
Huhu iyah nih mba
saya juga pelaku LDR dengan anak, Mba. Awalnya berat banget tapi alhamdulillah sekarang udah terbiasa. Anaknya juga mulai mengerti 🙂
Bagi anak-anak yang sudah mengerti, menahan rindu pada ayah bunda atau kakaknya itu sangat berat sekali. Pernah dahulu mengalami, kadang sembunyi ke tempat sepi untuk menangis mengungkapkan kerinduan lewat air mata.
Huhu mba lina.. i feel you hiks
Memang ngga mudah sama sekali yaaa mba. Dan persiapan yang matang pasti bisa membantu, biar ngga tantrum
Iya alhamdulillah tantrum belum nih smg ngak hanya kadang suka ngambek
Semangat kak aqilaaa.
Demi Abah yang makin pintar.
Klo khalid sering lebay kak.
Sabtu-minggu ayahnya libur. Nah pas hari senin dia nangis2 bilang “ayah kerja terus. Khalid tidak punya friends. Gak ada yg jagain khalid” sambil nangis sesenggukkan.
Entah dianggep apa emaknya yg nemenin dia seharian ini.
Wkwkkwkwkwkw
Huahaha khalid dramanya meyakinkan ya. Iyah nih anak2 yg bonding ke ayahnya kuat kadang ibu jd peramai suasana aja yak
Semangat kaks
Terimakasih
Aku sekarang juga lagi LDR nih ama suami. Yang paling berat menjalani LDR ini anakku yang kecil, karena dia emang paling deket ama ayahnya. Jadi tiap hari dia video call ama ayahnya, dan hampir selalu mewek, hehehe..
Hehehe yg kecil usia brp mbak? Kl kak aqila gak mewek cuma kayak suka buang muka gitu dimenit awal ditelpon. Kayak merajuk gitu
Ldr dengan Papa dah biasa, sewaktu seumurannya dah biasa ditinggal kerja..
Kalau sekarang dah canggih komunikasi na ya kak
aduuh.. jauhnya yaaaa.. abah jadi nggak bisa sering-sering balik ke rumah ya? semangat kak, buat jadi mamak setrong!
oiya, aku penasaran sama quote: “Letakkan gadget saat dekat dan peganglah selalu saat jauh.” itu maksudnya gimana ya?
Jika dekat letakkan gadget maksudnya kurangi penggunaan gadget dan banyak main bersama. Jika jauh selalu pegng gadget. Untuk komunikasi dan telponan sesering mungkin. Jgn sampai jarang menghubungi dan tdk berkabarn
Biasanya kalau anak2 yg LDR dengan orangtuanya (salah satu diantaranya) karena urusan kerja, kalo pola pengasuhannya benar pasti jadi anak2 yang tangguh dan kuat.
Saya sik bukan anak LDR mba. Tapi kedua orangtuaku dulu bekerja pergi dini hari pulang malam hari. Mereka pedagang. Kadang malam, kami sudah tidur baru kedua ortu pulang. Kami tujuh anaknya beda dari anak2 lain yang kedua orangtuanya selalu ada saat dibutuhkan.
Kami memiliki keterbatasan waktu. Hanya Kamis, Sabtu, dan Minggu lah kami bisa lebih banyak waktu bareng. Itu pun Kamis dan Sabtu kerap digunakan mamaku untuk belanja entah itu ke Medan, Jakarta, atau Bukittinggi. Minggulah waktu yang kami benar2 full sama orangtua.
Kami merasa beda dari anak2 lain? nggak. Tapi saya sendiri kadang sedih dan cemburu. Punya kerinduan seperti layaknya teman2ku, dimana ortu mereka selalu ada. Tapi itu membuat kami mandiri. Ortu membuat schedule kerja kami masing2. Malamnya laporan PR kami letakkan di meja utk dicek sama ortu. Kadang sesekali ada waktu malam kami dilarang tidur sampai mereka pulang kerja, hanya untuk makan bersama dan ibadah keluarga bersama. Minggu, sepulang ibadah, kerap kami dibawa piknik atau hanya sekedar ke kolam renang.
Orangtuaku sejak kami kecil selalu jujur bahwa inilah kehidupan kami, nggak selalu bisa dekat dengan orangtua krn pekerjaan untuk membesarkan dan membiayai kami anak-anaknya. Dan saya bersyukur dengan itu.
Saya rasa ada kemiripan ortuku dengan mba Eka. tidak mau mengiming2i anak2nya dan berbicara apa adanya ke anak2nya.
Semangat buat mba dan dua anaknya ya.. *ketjoep
Berarti orangtua mba chaycya keren.*salamhormat. Memang begitulah jika orangtua tetap memperdulikan kebutuhan anak walau sibuk anak tidak merasakan kekurangan sosok orangtua. Yg sedih itu orangtuanya selalu ada tp anak tdk merasakan kehadirannya. Terimakasih sharingnya jg.
Uni, mainlah ke rumah. Dari jaman dulu ketika negara api menyerang katanya mau main ke rumah. grr
Hehehe sdh pernah lho tapi cuma disuruh angkat sound sistem. Wkwkwkw
Hadeuh, Mba, kita yang setua ini aja belum tentu siap untuk LDRan, apalagi anak-anak yah. Semoga Abah sehat dan cepat pulang yah Kakak Aqila.
Aamiin makasih mba heni.
Kakak Aqila cantik doakan abah ya biar sehat disana dan nanti cepet pulang
Terimakasih mba echy
ponakanku lumayan sering LDR kalau emak bapaknya tetiba pelatihan satu bulan dan momen itu pasti ada tiap tahun .
aku sebagai anak yang emaknya ibu rumah tangga kayaknya berat bayangin harus pisah lama dengan orang tua pas masa anak anak
Iya berat diawal smg kedepan nya jd mudah
skrng zaman dah canggih,,,ada perlu, kangen, pengen ngobrol semua bisa dari video call, setidaknya itu membuat lebih tenang meski LDR sama orang yang di sayang.. 🙂
Aku dulu sering LDR an ama suamiku. Ada satu masa yaitu ketika anakku baru bisa bicara, semula dia selalu myebut ayah…ayah..ayah… tapi setelah LDR an, meski ada telepon, video call, skype, YM, dll, tetap aja, anakku sempat lupa ama ayahnya. Lalu dia sakit krn merasa rindu tapi bingung rindu ama siapa krn foto dan tampilan ayah di video beda dan terlihat selalu kecil. Semoga nanti kalian tidak merasakan itu.
Huhu aku bacanya aja sedih. Hiks
Halo mba Eka Mustika, aku pribadi kayaknya nggak sanggup LDR an. Smoga saat abah pergi belajar nanti, semua urusan di rumah tetap baik dan anak anak juga baik baik saja ya
Huhu akuh jg ngak. Soalnya gampang rindi hihihi
Wah mesti dipersiapkan jauh-jauh hari yah, kalau saya juga LDR sih sama ayahnya anak-anak, paling-paling komunikasi mereka melalu video call, walaupun memang tidak cukup tapi setidaknya bisa melepas kerinduan mereka
Iya apalagi waktunya beda jadi kadang kl ga kita ngantuk abahnya yg ngantuk
Kakak Aqila sudah pinter yaaa… sudah lumayan paham kalau abahnya jauh. Semoga uminya sabar untuk terus memberikan semangat kepada anak2 saat abah tidak ada di rumah dalam jangka waktu yang lama ini.
Aamiin makasih mba. Sabarnya mudah rindunya yang berat
LDR sama suami memang cukup repot yah apalagi kalau seperti kasus mbak. Eh bukan kasus sih, maafkan hehehe…
Tetapi ada juga kelebihan LDR loh mbak, ibu bisa lebih dekat lagi sama anak, bisa main cinta sama suami (kan selalu dirindukan), mengurangi kejenuhan karena selalu bersama (kayak saya. di rumah, di sekolah, dan dimanapun selalu ketemu ayangbeb) Loe lagi … loe lagi..lagi-lagi loe hehehe..
Apapaun itu, semangat terus ya sayang. Semoga adik Syaffira dan kakak Aqila sehat terus dan bahagia. Mama nya juga pastinya.
Aamiin makasih mba. Hehehe tapi kata teman2 yg sekantor sama suami katanya asyik aja selalu ada kamuh
Sejak 21 Maret 2018, kami juga sedang LDR nih sama putri semata wayang kami Yasmin, yang sedang ikut program pertukaran pelajar di Hiroshima, Jepang.
Untungnya beda waktu cuma selisih satu jam. Hiroshima lebih cepat 1 jam dari Balikpapan.
Kami gunakan WA video chat untuk melebur rindu.
Semuanya demi masa depan yang lebih baik, Insya Allah, Insya Allah.
Pasti mba Eka dan keluarga, bisa!
Sering-sering berbagi di blog ya, suka duka LDR.
Siapa tahu bisa menginspirasi yang lain…
Wah samaan ya mba. Tos. Baru tau jepang sama kita beda 1jam ya. Mba yg senior dalam ldr bagi2 tips jg yak sama newbi
Peluk yaa mba.. kirim semangat dari sini. Semoga sekolahnya suami lancar, bisa cepat kumpul lagi 🙂
Aamiin. Terimakasih mbak
Gakpapa LDR kan sekarang udah bisa ngobrol pake video call. Malah lebih mesra karena bisa dekat dengan wajah kita sendiri. Huu…keren lah kemajuan teknologi zaman now ini.
Iya bunda. Teknologi membantu banget.
Semangat, Insya Allah bisa menjalaninya ya. Teknologi makin canggih skr LDR bisa sering ngobrol juga
Iya terimakasih mba lidya