Bismillah, hal yang cukup sering ditanyakan kepada kami adalah bagaimana sih cara memulai homeschooling. Sesungguhnya homeschooling bukanlah pilihan yang mudah bagi keluarga kami. Apalagi bisa dikatakan homeschooling adalah sesuatu yang baru di lingkungan kami.
Sebagai perintis di dalam keluarga, yang memilih jalur sekolah rumah atau yang biasa dikenal dengan istilah bahasa Inggris homeschooling, bukan perkara yang mudah. Penolakan terutama dari kakek dan nenek tentu saja cukup keras. Alhamdulillah karena keluarga kami adalah tanggung jawab saya dan suami maka kami berdua juga berusaha meyakinkan keluarga walau bukan dengan waktu yang sebentar.
Karena itu kali ini saya ingin berbagi bagaimana perjuangan kami mendapat kepercayaan keluarga hingga menumbuhkan kepercayaan diri kami lebih banyak lagi untuk menjaga anak-anak di rumah dan sekolah di rumah.
Homeschooling karena Trauma dengan Sekolah?
Sebagai seseorang yang mencintai belajar dan mencintai sekolah sebenarnya homeschooling bukanlah pilihan awal yang ingin saya berikan kepada anak-anak. Ditambah lagi suami saya seorang akademisi dengan seluruh keluarga besarnya yang juga merupakan keluarga pendidik.
Bisa dikatakan keputusan kami (saya dan suami) memilih jalur homeschooling bukan karena saya dan suami trauma akan sekolah karena bagi kami sekolah itu menyenangkan dan masing-masing kami memiliki kenangan yang luar biasa tentang sekolah.
Jika ada memori semenyenangkan itu tentang sekolah lalu, mengapa kami tidak mengantarkan anak-anak kami ke sekolah?
Jawabannya adalah karena kami telah melakukan beberapa riset dan pengamatan tentang sekolah saat ini dan sekolah yang kami jalani dulu. Jika kenangan yang kami miliki tentang taman kanak-kanak hanya tentang bermain dan bernyanyi maka tidak begitu dengan anak-anak yang berada di taman kanak-kanak saat ini.
Jika dahulu kami baru belajar membaca saat memasuki kelas satu sekolah dasar maka siswa sekolah saat ini tidak mendapatkan kenikmatan yang kami nikmati dulu. Saat ini anak di taman kanak-kanak tidak seperti berada di taman bermain karena mereka sudah meminta untuk bisa membaca dan berhitung. Saat ini anak yang berada di kelas satu sudah dituntut untuk memiliki kemampuan yang setara dengan kita kelas dua sekolah dasar dulu.
Begitu seterusnya yang kami amati hingga ke tingkatan yang lebih tinggi lagi seperti kelas empat hingga kelas enam. Bukan memori seperti ini yang dulu kami rekam tentang sekolah yang menyenangkan itu.
“Ah kan zaman terus berkembang jadi kemampuan anak juga harus mengikuti perkembangan dong!“, Hmm mungkin benar pernyataan ini tapi bagi kami itu bisa dilakukan setelah anak-anak siap.
Pertemuan saya dengan Ibu Profesional (IP) membuat saya bisa belajar juga tentang fitrah base education (FBE) bersama Ustad Harry Santosa. Dari hasil belajar saya di IP dan juga belajar tentang Fitrah base education maka keputusan untuk memilih jalur homeschooling untuk anak-anak semakin mantap.
Pergaulan tingkat sekolah dasar saat ini sudah cukup mengkhawatirkan bagi saya dan suami. Betapa cukup besarnya pengaruh gadget pada pergaulan anak-anak termasuk anak usia sekolah dasar.
Mulai Homeschooling dulu atau dukungan keluarga dulu?
Saat sudah berumah tangga maka keputusan di dalam keluarga adalah sepenuhnya hak suami dan istri. Jika ingin memulai homeschooling maka satu-satunya kesepakatan yang harus dimiliki terlebih dahulu adalah kesepakatan antara suami dan istri untuk menjalankan homeschooling.
Keluarga besar boleh saja tidak mendukung atau bahkan terang-terangan menolak dan menyatakan keraguan atas keputusan kita untuk menjalankan homeschooling. Itu adalah apa yang saya rasakan saat pertama kali menyatakan hal tersebut terhadap keluarga besar.
Kesepakatan untuk homeschooling dimulai saat anak pertama kami masih berusia sekitar dua tahun. Hal itu membuat Saya cukup santai tanpa terlalu sering yakinkan keluarga, karena saat saya dan suami sepakat maka itu sudah cukup untuk memulai.
Menemukan Komunitas Homeschooling
Setahun setelah kami yakin bahwa kami akan menjalankan homeschooling untuk anak-anak tepatnya di tahun 2018 saya menemukan sebuah komunitas homeschooling di kota kami dengan para ibu yang juga menjalankan sekolah rumah untuk anaknya.
Bertemu dengan teman-teman yang memiliki pilihan yang sama dengan rentang usia anak yang juga sama menguatkan saya dan semakin mengokohkan pilihan saya untuk terus memilih jalur homeschooling.
Saat ini kami masih terus bersama dan saling menguatkan dalam menjalankan pilihan kami.
Anak tak ingin Homeschooling dan ingin ke Sekolah Formal?
Apakah akan ada kemungkinan anak kami tidak ingin melanjutkan homeschooling dan ingin bersekolah di sekolah formal?
Wallahu’alam, hanya Allah yang tahu. Namun untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa terjadi di kemudian hari maka kami mendaftarkan anak kami ke PKBM yang resmi sehingga anak kami terdaftar dan memiliki nomor induk siswa.
Sebenarnya membicarakan homeschooling saya minimalisir sebelum putri kami benar-benar memasuki usia sekolah. Karena saat ini putri pertama kami sudah setara dengan kelas dua Sekolah Dasar maka saya sudah bisa berbicara tentang sekolah rumah yang kami jalani dua tahun ini.
Kenapa? karena saya berfikir akan mungkin saya sudah sangat yakin untuk menjalankan homeschooling ternyata anak kami malah lebih siap dari orang tuanya untuk memilih sekolah formal.
Bagaimana dengan pertimbangan kami memilih homeschooling? Tentu saja itu penting karena itu, ketika anak kami mulai memahami apa itu sekolah formal kami perlahan-lahan memberitahukan alasan keluarga kami memilih jalur homeschooling.
Kami berharap homeschooling bukan hanya pilihan dan kesepakatan antara saya dan suami namun juga adalah pilihan yang menyenangkan dan membahagiakan untuk anak-anak kami.
Jadi jika kelak ada lagi yang bertanya apa yang harus dipersiapkan untuk memulai homeschooling? Jawaban lengkap saya ada diatas namun singkatnya, siapkan hati yang lapang, mental yang kuat untuk menerima segala pendapat dan pilihan serta siapkan keluarga terutama pasangan dan anak-anak.
UmiJourney
