Umi Journeys

Belum berhasil bukan berarti gagal | Proses Ibu Peri

Belum berhasil bukan berarti gagal | Proses Ibu Peri. Ini adalah jurnal puasa pekan pertama saya dalam kuliah bunda cekatan. Kami para mahasiswi di minta untuk puasa satu kebiasaan yang dianggap tidak baik dan harus dibuang. Karena itu kita belajar dengan puasa dari kebiasaan itu.

Wah pas sekali dengan pikiran saya beberapa waktu yang lalu tentang ingin diingat sebagai ibu yang seperti apakah kita. Apalagi membaca banyak postingan ibu-ibu yang curhat tentang bagaimana pusing dan mereka menjadi macan di rumah saat mendampingi anak-anak belajar dari rumah selama Covid-19 ini. banyak pantun-pantun yang muncul bahwa ibu sudah menjadi macan, ibu tak cocok jadi guru dan lain sebagainya.

Saya jadi berpikir ingin diingat sebagai ibu yang seperti apakah saya kelak. Ibu yang sabar mendampingi anaknya di rumah kah, ibu yang pintar memasak kah sehingga makanannya selalu enak. Ibu yang selalu bisa bikin rumah rapi dan nyaman atau Ilibu yang selalu marah-marah, ibu selalu mengomel dan membuat anak tidak nyaman. Akh bayangan seperti itu mulai bergelantungan di benak saya walaupun anak-anak kami masih kecil. Saya mulai memikirkan 5 atau 10 tahun lagi ibu seperti apakah saya di mata anak-anak.

Maka saya memutuskan mulai sekarang saya ingin menjadi ibu peri bagi anak-anak saya. Itu tidak mudah dan bukan suatu cita-cita yang sederhana tapi saya ingin jadi ibu peri yang dirindukan oleh anak-anak saya.

Karena itu saya menyebut proses Kepompong ini sebagai proses ibu peri. Saya ingin menjadi ibu peri dengan proses yang saya lewati. Apa kriteria ibu peri menurut saya? Ibu peri selalu berkata dan bersikap lembut kepada siapa saja, terutama kepada anak-anaknya. Ibu peri sabar dan tenang menghadapi kegalauan dan kegaduhan seperti apa saja. Ibu peri dapat menjadi penenang dan pemberi solusi yang bijak. Ibu peri tidak harus jago memasak walaupun masakan saya selalu jadi favorit. Ibu peri tidak harus selalu rajin beres-beres dan berbenah rumah, ibu peri cukup memberikan kenyamanan dan kebahagiaan.

Untuk pekan pertama kemarin saya memutuskan untuk melakukan puasa marah(-marah) ke anak-anak. Ini bukan puasa yang mudah dan pasti sangat berat apalagi saya mengambil nya diawal. Ditambah lagi karena instruksi work from home membuat tugas saya bertambah untuk menjaga mereka tidak menggangu Abah nya yang sedang melaksanakan tugas dari rumah.

Dalam tantangan ini kami diminta untuk menilai diri sendiri. Ada 4 badge yang dapat kita sematkan untuk diri sendiri dan dapat menilai dengan kriteria sendiri. Saya menulis kan kriteria bukan untuk tidak marah sama sekali tetapi bagaimana saya bisa berjuang dapat marah dengan elegan. Marah dengan elegan ada di postingan tentang Tips Mengelola Emosi Orangtua.

Berikut adalah kriteria penilaian saya untuk setiap badge yang saya sematkan per hari untuk diri saya sendiri.

1. Badge Excellent (berwarna hijau) adalah ketika saya dapat mengendalikan mimik wajah, intonasi suara dan respon dengan baik ketika ingin marah sehingga jadi marah yang elegan.

2. Badge Very good (bewarna kuning) didapatkan ketika saya bisa mengendalikan amarah dan mimik wajah, meskipun kadang masih sedikit berbicara dengan penuh penekanan pada intonasi suara.

3. Badge Satisfactory (bewarna biru) adalah ketika saya marah dengan intonasi suara yang tinggi dan ditekan atau dengan mimik wajah marah tapi tanpa suara yang ditekan .

4. Badge Need improvement adalah ketika saya kelepasan marah dengan intonasi suara yang ditekan dan mimik wajah marah dan membuat anak-anak tidak nyaman.

Dan ini adalah perolehan badge saya di puasa pekan pertama. Hari pertama karena masih semangat, MasyaAllah saya berani menghadiahi diri saya badge excellent kar seharian kami lalui bahagia banget tanpa drama. Lalu perlahan mulai menurun, ikhh bukan sesuatu yang bisa di banggakan. Malah semakin merah.

Pekan pertama saya mengalami penurunan kesehatan juga hingga lebih banyak bed rest, mungkin itu yang membuat anak-anak rindu saat saya keluar kamar langsung beraksi dan banyak minta ini itu. Dan sebenarnya disitulah ujian dari puasa ini. Harus nya disaat penuh drama itulah saya harus bisa mengendalikan dan mengontrol emosi dengan baik. Bukan malah sebaliknya, saat selow tentu saja semua orang bisa tenang tapi tidak disaat lelah dan hectic.

Doakan saya lebih baik pada pekan kedua besok ya sehingga cita-cita menjadi ibu peri bisa tercapai.

#janganlupabahagia #jurnalpuasamingguke1 #materi1 #kelaskepompong #bundacekatan #buncekbatch1 #buncekIIP #institutibuprofesional

Exit mobile version