Konsep Gender dan Jenis Kelamin Fitrah- Seksualitas Bunda Sayang

Hari minggu belajar mandiri karena tidak ada prestasi hari ini.

Saya menjelajahi lagi tentang konsep gender dan jenis kelamin. Apa iya gender dan jenis kelamin itu sama? Atau apalah benar yang berpendapat bahwa gender dan jenis kelamin iru berbeda?

Diawalo dengan mencari jurnal seputar gender dan jenis kelamin. Karena jurnal lebih bisa dipertanggung jawabkan secara itu adalah hasil penelitian.

Saat mencari tahu saya membaca di sebuah jurnal bahwa gender itu sebenarnya tidak ada di dalam bahasa Indonesia langsung saya mengecek KBBI dan benar gender tidak ada di dalam KBBI.

Jika tidak ada di dalam KBBI lalu gender dari bahasa apa ya jika di dalam kamus bahasa Inggris tidak dijelaskan secara detail perbedaan antara seks dan gender keduanya diartikan sebagai jenis kelamin Lalu bagaimana dengan kesetaraan gender yang digabungkan beberapa tahun ini? Apa maksudnya kesetaraan gender berarti kesetaraan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan?

Kita benar-benar harus memahami apa itu gender dan seks sebelum kita membahas lebih jauh mengenai kesetaraan gender dan ketidakadilan gender walaupun saya pribadi tidak setuju dengan kedua-duanya.

Maksudnya adalah di dalam Islam tidak ada kesetaraan gender laki-laki tetaplah bertugas sebagai seorang laki-laki dan wanita tetaplah bertugas sebagai seorang wanita lain halnya jika di ranah publik ketidakadilan gender masih belum saya pahami karena jika dianggap dari sisi pekerjaan sudah banyak wanita yang dapat melakukan pekerjaan seperti seperti sebagai seorang programmer maupun sebagai seorang teknisi berbeda jika laki-laki yang melakukan pekerjaan perempuan sebagai pekerja di salon misalnya hehehe.

Karena masih belum paham maka saya mencari tahu apa yang dimaksud dengan kesetaraan gender. Dari sumber yang saya baca tolak ukur kesetaraan gender ada empat menurut “para penggiat kesetaraan gender“. Pengukuran kesetaraan gender itu ada empat hal, diantaranya akses, partisipasi, keterlibatan dengan proses pengambilan keputusan atau kontrol dan manfaat.

Dari keempat poin yang saya baca diatas yang mana ya yang masih belum dianggap tidak didapatkan di era sekarang ini? Saat ini semua wanita sudah dapat mengakses berpartisipasi yang terlibat dalam banyak hal apa lagi berbagi manfaat.

Mungkin ada maksud lain? Mari kita cari tahu lagi.

Nah bacaan selanjutnya menuliskan, gender lebih ditekankan pada perbedaan peranan dan fungsi yang ada dan dibuat oleh masyarakat. Dalam realitas kehidupan telah terjadi perbedaan peran sosial laki-laki dan perempuan yang melahirkan perbedaan status sosial di masyarakat, dimana laki-laki lebih diunggulkan dari perempuan melalui konstruksi sosial.

Perbedaan jenis kelamin sering dipergunakan masyarakat untuk membentuk pembagian peran (kerja) laki-laki dan perempuan atas dasar perbedaan tersebut. Akibatnya terjadilah pembagian peran gender yaitu peran domestik dan peran publik. Peran domestik cenderung tidak menghasilkan uang, kekuasaan, dan pengaruh. Peran ini lebih banyak diserahkan kepada kaum perempuan, sedangkan peran publik yang menghasilkan uang, kekuasaan dan pengaruh diserahkan kepada kaum laki-laki. Akibat pembagian kerja yang tidak seimbang melahirkan ketimpangan peran laki-laki dan perempuan yang berakibat ketidakadilan gender yang merugikan perempuan.

—–

Bagi yang mengaungkan kesetaraan gender, mungkin baiknya mengenal Institut Ibu profesional karena dari semua bahasa gender pengurutannya adalah ketidak setaraan di ranah publik baik dari sisi jabatan maupun materi yang diterima.

Karena sejatinya “be professional rezeki will follow.” Saat diranah publik maupun ranah domestik seorang wanita tetap dapat melakukan yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik dengan “keprofesionalannya”

//Uchan

20Mei2018