Cerita Dari Pemimpi Untuk Pemimpi – Review Film Laskar Pelangi

Siapa yang tidak pernah mendengar “laskar pelangi”. Sebuah novel karya
Andrea Hirata yang sudah terbit sejak 2005 kemudian diangkat menjadi sebuah film apik yang tidak akan bosan bosannya ditonton.

Sebagai pecinta novel, diangkatnya sebuah novel menjadikan film bagi saya pribadi itu sangat menarik. Kita sebagai pembaca novel jadi memiliki ekspektasi tinggi seperti apa filmnya nanti jika novelnya saja sudah menyenangkan dan mengaduk rasa.

Namun tahun 2008 film “Laskar Pelangi” yang di produseri oleh Mira Lesmana serta sutradara Riri reza berhasil membuat tokoh dinovel menjadi seperti benar-benar nyata.

Dengan durasi 125 Menit, Riri Reza menjadikan ikal benar2 sosok seorang keriting yang cerdas namun tidak secerdas lintang pastinya.

Cerita laskar pelangi ini mengambil tema mimpi dan pendidikan dengan perpaduan kisah nyata penulis novelnya.

Alur film dimulai dengan pulangnya ikal dewasa ke kampung halamannya setelah dapat menggapai mimpinya kuliah tinggi. Diperjalanan dia teringat cerita tentang bagaimana dia sekolah pertama kali waktu kecil dulu. Sekolahnya bernama SD Muhammadiah. Saat tahun ajaran baru sekolah tersebut harus menerima minimal 10orang murid agar tetap bisa berdiri. Tetapi sampai agak anak2 kepanasan dilapangan mereka masih 9orang. Setelah lama menanti akhirnya muncullah harun. Yang melengkapi mereka menjadi 10orang.

Karena itu Laskar Pelangi terdiri dari 10 orang murid yaitu Ikal, Lintang, Mahar, Borek, A-Kiong, Kucai, Syahdan, Borek, Trapani, Sahara dan Harun.

Yang paling menarik bagi saya sendiri bukan cerita tentang tokoh utamanya Ikal. Tetapi tentang Lintang. Anak nelayan yang berjuang jauh dengan sepeda untuk bisa pergi bersekolah yang kadang juga dihadang buaya tapi punya kecerdasan luar biasa.

Dia tinggal bersama adik dan ayahnya. Namun harus putus sekolah karena ayahnya meninggal, dan harus berjuang untuk menghidupi dirinya dan adiknya. Alasan klasik tapi tetap menyedihkan buat saya pribadi. Banyak anak-anak super jenius seperti Lintang harus kehilangan banyak mimpi hanya karena alasan “kemiskinan”.

Dan disaat melihat banyak anak yang memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan terbaik namun mengabaikannya maka yang pertama saya ingat adalah sosok Lintang di film ini.

Saya menonton film ini saat masih berstatus mahasiswa. Dengan memiliki 6sahabat yang super menurut saya menonton film ini benar-benar menyemangati kami, hingga salah seorang sahabat saya bisa seperti Ikal meneruskan mimpi kami bersama dan melanjutkan kuliahnya ke Bordeaux.

Sama seperti Lintang yang ikut bahagia saat Ikal dapat menggapai mimpinya seperti itu jugalah saya saat ini.

Karena itu pada opening blog ini saya mengatakan bahwa bermimpi adalah hak setiap orang. Dan saya masih sangat percaya apa yang kita dapatkan hari ini selain karena Allah telah menulislan Qada dan Qadar juga ada bagian dari takdir yang masih bisa berubah karena diri kita sendiri termasuk dari mimpi2 yang pernah kita rangkai.

Banyak kalimat yang sangat bermakna bagi saya tapi kalimat dari pak Harfan adalah salah satu kalimat yang paling mengena di film ini.

Hiduplah Untuk Memberi yang Sebanyak-banyaknya, Bukan untuk Menerima yang Sebanyak-banyaknya.” (Pak Harfan)

Resensi ini ditulis setelah hampir 10tahun berlalu. Maafkan bila ada kekurangan disana sini. Terutama untuk mba Ely yang menentukan tema rumbel menulis kali ini.

Teruslah bermimpi, walau sudah jadi mamak2 atau masih gadis belia, teruslah bermimpi walau masih sendiri atau sudah banyak pasukanya.

Coz stop dreaming is a tragedy.

//

Uchan “EMS”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *