Sosialisasi anak dibawah 5tahun

Lagi pembahasan materi ke 4 di kelas iip.

Tadi eka sempat bertanya bagaimana sosialisasi anak dibawah 5tahun terutama dengan anak2 tetangga yang kadang pengajarannya berbeda dengan anak kita. Kadang aqila sering main dengan anak2 tetangga yang usianya diatas aqila tapi sikapnya tidak sesuai dengan yang uchan ajarkan ke Aqila. Galau kalau ga dibiarkan bermain takutnya gak bisa bersosialisasi. 

Ternyata oh ternyata… uchan salah.

Ini jawabannya dari koordinator grup mbak ningrum untuk Uchan yes. 

Mba Eka, kalau saya ga ngasih anak keluar, apalagi baru seumur 2 tahun gitu..

Kadang pandangan sebagian orang tentang anak harus bersosialisasi itu konteksnya banyak yg tidak tepat.

Pendapat saya, penting banget dalam kekuarga memiliki konsep pengasuhan.

Dan mungkin kita akan terlihat berbeda dg orang2 disekitar kita.

Next dari tambahan mba ningrum🌼

Childeen see children do. Anak2 tidak akan pernah salah. Mereka mencontoh apa yg dilihatnya. Peran kita sbg orang tua untuk memberikan lingkungan yg kondusif. Sampai anak2 dirasa mampu membedakan mana yg baik dan yg tidak baik.
Pengoptimalan peran keluarga.

🌼Dan sbnrny klo usia dibawah 5thn belum perlu sosialisasi mbk, cukup bersama orgtuanya mengikat bonding anak dan orgtua

Jika bunda dirumah aja sebaiknya anak gak ush masuk PAUD …bsa diajak ke playground 1 atau 2 kali seminggu.

Nah Dibawah ini tips untuk ibu yang “terpaksa” menitipkan anaknya di penitipan anak

[2/14, 1:04 PM] ‪+62 853-4207-2771‬: Tempat penitipan terbaik adalah ‘rumah’ dan penjaga/pengasuh/guru terbaik adalah ‘ibu’.

Tapi jika harus menitipkan anak karena ibu mau tidak mau HARUS bekerja. Maka silahkan cari tempat penitipan anak dengan syarat:

1. visi misi sekolahnya sama dengan visi misi orangtua 

2. Kental muatan agamanya. Sehingga dari sejak dini anak belajar memahami dan memiliki karektristik sebagai muslim bukan cuman sekedsr stimulasi perkembanga sj (buat yang muslim).

3. Guru2nya friendly dan tahu memperlakukan anak kecil (memiliki kecerdasan emosi yang baik dan tidak suka berteriak)

4. Guru2nya memiliki pemaham/ilmu mengenai tumbuh kembang anak yang mumpuni

5. Guru2nya mampu berkomunikasi dengan baik pada orang tua

6. Lihat porsi guru dengan banyaknya siswa di kelas. Idealnya 1 guru dnegan 3 orang siswa. Jika tdk memenuhi hal tersebut, jangan dititipkan. Apalagi jika anaknya dibawah 5 tahun. Jika tetap mau dititip maka resiko tanggung sendiri.

7. Lihat fasilitas sekolah, SOP kebersihan sekolah. Minta SOP penanganan anak ketika terjadi kecelakaan, SOP2 yang lainnya.

8. Cek kurikulum tempat penitipan anak (buat sy, ini wajib ada), bukan cuman sekedar di titip doang. 

9. Tanyakan jadwal apa sj yg dilakukan anak dari senin sampai jumat. Trus kegiatan ekstra nya apa sj

10. Tanyakan di situ apa ada kelas parenting untuk orang tua?. Biar ketahuan, sekolah membangun komunikasi yg baik atau nggak dengan orang tua murid.

11. Apa ada kelas edukasi untuk para gurunya?. Buar ketahuan gurunya ilmunya berkembang atau tidak.

11. Di sekolah tsb/ tempat penitipan, ada organisasi orang tua atau tidak?. 

12. Terakhir, tanyakan di situ ada dokter anaknya yg rekomended?. Di sekolah itu ada psikolog nya gak??. Dua hal ini sama pentingnya dengan point2 di atas.

🌼🌼🌼🌼🌼

[2/14, 1:13 PM] ‪+62 853-4207-2771‬: Anak  di bawha 5 thn idealnya masih bersma ibunya. Tapi klo harus di titip maka ORANGTUA anak wajib melakukan hal2 di bawah ini:

1. Sebelum anak di masukkan ke tempat penitipan atau sekolah. Yang harus trial di sekolah bukan cuman anak tapi utamanya orangtua (ibu atau bapak), jangan cuman sekedar menitipkan, selesaikan administrasi setelah itu langsung meninggalkan anak di sekolah. Biar ngerti bin paham apa saja yg diberikan ke anak. Dan juga paham standar pemberian pengetahuan ataupun stimulasi yg diberikan ke anak.

2. Lakukan ke 13 point di atas. Klo mau ditambahkan silahkan.

3. Bangun komunikasi dnegan sekolah. Saat menjemput, minta gurunya ngobrol dgn ibu atau bapak yg jemput minimal 30 menit dan minta dia ceritakan kegiatan anaknya seharian itu . Selain itu, minta gurunya kasi PR ke kita sebagai orang tua si anak. Biar stimulasi atau pemberian pendidikan di sekolah bisa berlanjut di rumah dan konsisten

4. Minta jadwal selama seminggu itu, jadi saat di hari sabtu dan ahad/minggu kita tahu cara buat jadwal belajar/berkegiatannnya di rumah yang tetap konsisten dengan sekolah. Jangan karena libur sekolah, orang tua juga libur kerja dianggaplah anak boleh melakukan apa sj, boleh telat bangun, boleh telat makan, sesuka-sukanya si anak deh. Ini merusak segala macam hal (kedisiplinan dan konsistensi) yg telah dibangun di sekolah (ini untuk sekolah yg bagus yah. Krn ada juga sekolah yg hanya memang unuk dititipi doang)

5. Rajin2 ikut pertemuan orang tua

6. Rajin2 ikut kelas parenting

7. Rajin2 ketemu sama psikolognya buar tahu perkembangan anaknya sudah sampai mana dan apa masalahnya.

8. Segera melapor ke pihak sekolah atau psikolognya klo anak inkosisten atau mengalami keluhan

Curhat psikolog: sy sering sedih, banyak orang tua yg datang ke sy, mengeluh: bu, anak sy koq di sekolah bisa makan sendiri di rumah tidak mau makan klo tdk disuap?. Atau keluhannya begini: bu, koq di sekolah anaknya luarbiasa pandai makan sayur nya, di rumah tidak.

Setelah dicek di rumah, banyak yg missing dengan sekolah. Ahhh… beginian sering bikin sedih..

9. Diantara kesibukan orang tua, tolong baca buku parenting 1 buku untuk 3 hari. Trus rajin2 diskusikan berdua sama pasangan biar satu cara pandang teknik pengasuhan.

10. Usahan yang menjemput di sekolah bukan si bibi tapi ayah atau bundanya

11. Sampai di rumah usahakan anak tetap sering2 dipeluk disayang dan diajak cerita. (Sering baper lihat anak 2 thn yg dititip sm orang tuanya)

12. Jika tdk bisa memberikan kuantitas pertemuan ke anak maka jaga kualitas pertemuan tsb.