Kelas Matrikulasi I

Alhamdulillah sudah mulai kelas matrikulasi di IIP. Hari pertama materinya sudah amazing luar biasa pokoknya.

Mengikuti kelas sambil berusaha agar Aqila tenang. Jadi uchan bisa baca materinya dengan tenang juga. Tapi kenyataannya selalu tak seindah bayangan. Hehehe😁😂😂

Bersyukurnya ada resume dari materi. Jadi setelah diberi ⭐ di Whatsapp maka bisa dibaca berulangkali.

Namun untuk bisa menyimpan materinya lama disini juga akan di copy agar kelak tetep bisa diulang lagi. 

Nah setelah materi ini, yang luar biasanya adanya tugas setelah materi yang biasa disebut “Nice HomeWork” atau disingkat NHW. 

Wuhuu banget tugasnya. Semoga bisa menyelesaikan dengan baik. NHW i’m ready😁😍

⚫⚫⚫⚫⚫⚫

*Resume Diskusi Materi ‘Adab Menuntut Ilmu’*


*Senin, 23 Januari 2017*


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Fasilitator: Niken & Ningrum

Ketua Kelas: Fatrida

Kordinator mingguan: Tiara


📝📝📝📝📝📝📝📝📝


PROLOG 1


KELAS MATRIKULASI BATCH 3 

INSTITUT IBU PROFESIONAL 


☘☘☘☘

ADAB MENUNTUT ILMU

Senin, 23 Januari 2016


Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional


Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU 


ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?


Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya


☘ADAB PADA DIRI SENDIRI


a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk.

Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.


b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.


c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.


d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.


e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.



☘ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)


a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.


b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara. Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.


c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.


☘ADAB TERHADAP SUMBER ILMU


a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.


b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.


c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat


Referensi :

Turnomo Raharjo,

Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.


Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah,

2014, hlm. 5


Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015


🙋🙋🙋 Tanya-Jawab 🙋🙋🙋


1⃣Maharani: Assalamulaikum.. ada pertnyaan : kalo misalkan anak yg disekolahkan di sekolah umum… kita kan tidak bisa milih gurunya nah kalo misalnya anak kita kebetulaan dapat guru yg akhlaknya kurang baik… suatu ketika anak kita berbuat salah pas kita nasehati dia suka membandingkan dgn ” guru disekolah aja kayak gtu” contohnya… gurunya suka ngomong kasar, suka memanggil anak murid dgn panggilan yg tidak bagus.. suka nampar… jadi bagaiimana cara kita menasehati anak kita tersebut?


*Jawab:*  

Bismillah mbk maharani

1⃣ Apakah sudah tabayyun dengan guru yang bersangkutan? Supaya kita mendapatkan cerita yang utuh, dari anak dan dari guru. 

Menurut saya, penanggungjawab pendidikan anak adalah orangtuanya. Sekolah adalah mitra kerja kita dalam mendidik anak. Jadi idealnya ada kerjasama antara orangtua dan guru.


Dalam pendidikan anak-anak kita memahami

satu konsep ini


*Anak-anak mungkin bisa salah memahami

perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah

meng copy*


Sehingga orang dewasa di sekitar anak adalah

orang-orang yg akan dicontoh oleh anak.

Dengan kasus tersebut apabila anak-anak masih

usia 0-7 th, saya memilih untuk

memindahkannya.

Kalau anak usia 7-12 th, saya akan berikan fakta

mana yang baik dan yang buruk, kemudian anak

diberikan pilihan alternatif terbaik.

Anak usia 12-14 th ke atas, hargai penilaian dan

keputusan anak, apapun pilihannya, kemudian

dampingi.

Anak usia 14 th ke atas, ajari untuk mengatasi

segala macam tantangan di depannya menjadi

sebuah soluai bersama✅


2⃣Hikmah: Aslm.wr.wb

Ada ungkapan “pengalaman adalah guru yang paling berharga”. Seringkali ilmu yang kita peroleh bertentangan dengan pengalaman orang tua kita jaman dulu.  Misalnya, dalam hal merawat bayi. Jaman dulu, ibu ibu sudah memberi makan bayi mereka sebelum usia 6 bulan dan itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan masa kini. Bagaimana menyikapi hal ini? Sedang orang tua bisa dikatakan adalah guru.


*Jawab:*

2⃣Wa’alaykumsalam mbak hikmah..


orang berpendapat sesuai kadar keilmuannya….


Tapi adab ilmu tidak akan membuat siapapun mencela orang yang berbeda dengan pilihan dirinya.


Mana yang harus di yakini ilmu atau pengalaman…


Kedua2nya bisa benar…ilmu itu bisa berasal dr penelitian atau berasal dr pengalaman.


Tergantung prosesnya

Karna pada dasarnya suatu ilmu belum dapat dikatakan berilmu pengetahuan jika belum memasuki tahapan proses pengalaman…


untuk contoh kasus yang mbak alami,pintar2lah untuk mengkomunikasikan kepada ortu,jelaskan kepada ortu tentang berkembangnya penelitian&fakta yg membuktikan..✅


3⃣Elsha: Assalamualaikum..

Saya masih belum paham ttg adab thd sumber ilmu poin yang A. Bisakah fasilitator menjelaskan lebih detil😊?


*Jawab:*

Waalaikummussalam mbk elsha


3⃣ Maksudnya poin a, tidak meletakkan sembarangan sebuah sumber ilmu dalam bentuk buku dg sembarangan adalah sbb :

a. Buku tidak diletakkan dalam posisi yg mudah

terinjak secara langsung.


b.Buku yg sdg dipelajari dilipat-dilipat halamannya.


c. Dan banyak lagi perbuatan lain yg selayaknya tidak kita lakukan thd sumber ilmu.


Bagi yg beragama Islam, pernah dapat ilmu kan

unt tdk memperlakukan Al Qur’an dg sembarangan. Nah sejatinya di adab menuntut

ilmu, hampir semua sumber ilmu harus diperlakukan dg bijak. Silakan dirasakan kalau kita pernah menulis sebuah buku, kmd buku tsb

diperlakukan seenaknya oleh orang yg membacanya, pasti rasanya sakit ✅


4⃣Faridilla: Assalamualaikum,

1. Bagaimana cara menularkan adab dalam belajar kepada anak sejak usia dini?


2. Apa sajakah adab-adab sebagai seorang pengajar/guru dalam memberi ilmu? Karena orang tua juga mengajak anak mencari ilmu bersama (menggunakan adab untuk diri sendiri) dan kadang sebagai pemberi ilmu.


3. Apakah boleh menularkan bahwa mencari ilmu adalah hal menyenangkan? Jika boleh bagaimana caranya? 


Terima kasih


*Jawab:*

4⃣1.bunda faridilla..berikan contoh atau teladan,anak itu peniru.biasanya yg paling mudah adalah adab makan..mencuci tangan,membaca do’a,menghabiskan makanan,ambil makanan yg paling dekat dg kita,tidak menghina makanan,dll 

Karna sejatinya… 


(Saya kutip kalimat ustad Adriano Rusfi dalam sebuah diskusi parenting…)


*”Adab anak adalah adab orangtuanya. Emosi anak adalah emosi orangtuanya. Agresivitas anak adalah agresivitas orangtuanya. Ayahbuda yang mauthma’innah cenderung mewujudkan anak yang muthma’innah pula”*


2. karena guru adalah panutan dimana setiap tingkah lakunya, gerak geriknya, ucapannya akan jadi contoh yang utama bagi murid-muridnya, seandainya panutan tersebut tidak baik, maka rusaklah keutuhan sebuah pembelajaran, rusaklah harga sebuah pendidikan. Oleh karenanya, Guru harus sangat benar-benar memperhatikan kelakuannya, terutama dengan muridnya, diantara adab dan kelakuan yang harus di punyai seorang guru diantaranya,adalah :

1. Menerima masalah yang dibawa oleh murid dan sabar dengannya.

2. Mempunya rasa kasih sayang yang tinggi, pada segala urusan, terutama yang menyangkut dengan muridnya.

3. Di saat mau duduk, maka harus memuliakan orang yang telah duduk duluan, duduk dengan sifat lemah-lembut beserta menundukkan kepala.

4. Tidak takabur dengan semua orang,bukan hanya dengan muridnya saja,kecuali bagi orang yang suka melakukan aniaya, maksiat dan bangga dengan hal tersebut, boleh takabur dengan mereka untuk menolak kedhaliman atau kemaksiatan orang tersebut, karena takabur kepada orang yang takabur adalah sedekah, sebagaimana tawadhu’ dengan orang yang tawaddu’, karena sebagaimana dimaklumi bahwa orang yang berbuat aniaya itu adalah orang yang takabur.

5. Mendahulukan sifat tawadhu’ di saat berkumpul dengan orang banyak, supaya diikuti oleh mereka.

6. Meninggalkan bermain-main, bercanda dan bersendau-gurau dengan orang banyak dan terutama dengan muridnya,karena dapat meruntuhkan martabatnya dan penghormatan murid terhadapnya.

7. Lemah-lembut saat mengajar, terhadap murid yang kurang IQ-nya, murid yang tidak bagus saat mengajukan pertanyaan, murid yang kurang memahami pelajaran, dan sebagainya, maksudnya membaguskan perkataan atau tingkah laku, karena itu akan membantu dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan murid.

8. Memberi perhatian lebih kepada murid yang bodoh di saat mengajar.

9. Jangan sekali-kali menyindir apalagi sampai marah terhadap murid yang bodoh tadi, karena kebodohannya.

10. Tidak boleh malu dan takut mengatakan “saya tidak tahu” atau “ Wallahu ‘alam” apabila ada satu-satu masalah yang tidak diketahuinya atau kurang jelas maksudnya, karena tersebut dalam saturiwayat hadis, bahwasannya nabi SAW.

Pernah ditanyai oleh seorang laki-laki, tentang negeri yang paling buruk,kemudian nabi menjawab, “ saya tidak tahu, saya akan tanyakan kepada jibril ”, kemudian nabi menanyakan hal tersebut kepada jibril As, jibril menjawab “ saya tidak tahu, saya akan tanyakan kepada Allah SWT”.

11. Ikhlas dan sungguh memperhatikan pertanyaan dari murid, memahami dengan sebenar-benarnya agar bisa dijawab dengan benar dan tepat.

12. Menerima kebenaran di saat berdiskusi atau berdebat, walau itu datang dari lawannya, karena mengikut yang benar hukumnya wajib.

13. Jangan takut mencabut pernyataan atau i’tikad yang nyata salah pada kemudian hari, sekalipun kebenaran itu datang dari orang yang derajatnya lebih rendah.

14. Mencegah murid yang mempelajari ilmu yang dapat memudharatkan agama murid itu, atau lainnya, seperti ilmu sihir, ilmu nujum (perbintangan), peramalan dan lain sebagainya.

15. Mencegah murid yang berencana menuntut ilmu, bukan karena Allah SWT. Atau bukan karena negeri akhirat.

16. Mencegah murid mempelajari ilmu yang bersifat fardhu kifayah sebelum selesai dari ilmu yang bersifat fardhu ‘ain. Fardhu ‘ain yang untuk kemashlahatan dhahir dan bathin si murid, maksudnya, dengan fardhu ‘ain tersebut murid bisa mengerjakan seluruh amalan yang diperintahkan kepadanya dan menjahui segala larangannya.

17. Segala sesuatu yang diajarkan oleh guru, harus dikerjakan oleh dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum diajarkan kepada orang lain, supaya orang lain tersebut bisa mengetahuinya dari perbuatan guru itu terlebih dahulu, sebelum mendengar langsung dari mulut gurunya, karena pengetahuan yang timbul dari perbuatan lebih kuat pengaruhnya dari pengetahuan yang timbul dari perkataan.

Demikianlah beberapa sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru, sebagaimana yang disebutkan oleh imam Al-Ghazali dalam kitab beliau, Muraqi ‘Ubudiyyah.


✨ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU

Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :


1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak? 


DON’T ASSUME


misal : 

“Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah”


ini ASSUME namanya.


harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat. 


2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.


3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf. 


Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu. 


KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.


Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya. 


Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita.


3.boleh..lagi2 berikan contoh mb✅



5⃣Fatrida: Jikalau adab menuntut ilmu berkaitan dgn keberkahan, maka bagaimana indikator ilmu yg kita peroleh barokah ? dan Bagaimana mengajarkan dan menanamkan adab menuntut ilmu terhadap dirinya sendiri pada anak?  Terimakasih


*Jawab:*

5⃣ mbak Rida..sebuah ilmu itu kalau disampaikan

dari hati, akan masuk ke hati, indikatornya akan

menjadi amalan bagi yg mendapatkannya.

Tapi kalau disampaikan lewat mulut maka hanya

akan sampai ke telinga, dan menjadi sebatas

pengetahuan saja tanpa amalan.

Agar ilmu bisa disampaikan dengan hati, maka

harus diamalkan terlebih dahulu.

Sehingga yg paling afdhol adalah sampaikan apa

yang sudah kita kerjakan, karena Allah akan

meletakkan ilmu itu di lidah kita saat diucapkan,

sehingga penuh dengan ruh, dan terkadang kita

sendiri dapat ilmu baru saat menyampaikannya.

Itu namanya ilmu yg berkah, insya Allah

bagaimana caranya lihat jawaban no4 point 1 y mb..✅


6⃣Ocid: Assalamu’alaykum..

Pertanyaan #1:

Semua Tahu bahwa ilmu harus bergandengan dengan Amal. Bagaimana pandangan Syari’at tentang orang yang berhenti dari menuntut ilmu dengan dalih lalainya dirinya dari beramal. Apakah dia benar ataukah tetap wajib baginya belajar walaupun keadaannya seperti yang telah disebutkan?


Pertanyaan #2:

Bagaimana seharusnya, apakah menggali ilmu yg terfokus pada satu jenis, dan benar2 di maksimal dalam Amal, atau belajar banyak ilmu, tetapi dlm pengamalan tidak maksimal?


Pertanyaan #3:

Bagaimana adab dalam bertanya? (Terkhusus dlm perkuliahan martikulasi ini)


Pertanyaan #4:

Bagaimana pengamalan adab ilmu ini untuk anak batita


Pertanyaan #5:

Kl tdk salah ada sebuah hadits dari Rasulullah SAW bahwa “Menuntut ilmu itu fardlu atas setiap muslim”. 

Pertanyaanya: Ilmu apakah yang dianggap fardlu itu? Dan sejauh mana batasan-batasan ilmu yang wajib didapatkan oleh seseorang itu?


*Jawab:*

6⃣wa’alaykumsalam..mb ocid

1.bisa ditanyakan ke yang lebih ahli dibidangnya mb..mohon maaf sy belum bs bantu menjawab

2.lihat skala prioritas menurut mb ocid & lihat mana yg membuat mb ocid berbinar-binar dalam menjalankannya..pilih mana yg dirasa lebih nyaman untuk dijalankan


3. Adab bertanya yang baik adalah… Menggunakan cara yang baik dalam bertanya…

Sebelum bertanya murid haruslah betul2 mempelajari dan materi dan pelajara yang telah diberikan oleh guru kita… Belajarlah bersungguh2…

Setelah berusaha memahami apa yang sudah diajarkan oleh guru meminta izin untuk bertanya…

Setelah diberikan izin bertanya maka ungkapkan pertanyaan tersebut tapi bukan pertanyaan yang sifatnya hanya ingin mengetest guru tersebut…

Tidak boleh pertanyaan yang mendebat atau untuk menjatuhkan guru kita atau untuk mengadu domba… 


Setelah diberikan waktu bertanya berikan guru waktu untuk berfikir dan menjawab pertanyaan, jangan murid meminta guru untuk cepat2 menjawab pertanyaan yang kita ajukan…


4.lihat jawaban no.4 point 1


5. Ilmu yg fardu itu salah satunya ilmu agama.


7⃣Lilik: Assalamualaikum Bunda,


Saya mau tanya ttg adab terhadap sumber ilmu yang poin d, masih belum paham yang tentang ” tidak menyebar luaskan ilmu dengan copas dari grup sebelah ….dst, terima kasih.


*Jawab:*

Waalaikumsalam bunda lilik.


Era broadcast semarak muncul dimana2 didasari satu hal baik yaitu ingin berbagi.

Nah bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tsb?

1. Tidak semua berita baik itu benar, prinsip ini yg harus dipegang pertama kali

2. Telurusi unsur kebenarannya sebelum kita menyebarkan hal baik tersebut

3. Pastikan dari sumber yang terpercaya (mulai dari buku, orang yg langsung mengalami, media kredibel)

4. Hindari kalimat copas dari grup sebelah, krn ini scr implisit *“bukan saya yg bertanggung jawab atas kebenaran berita ini, saya hanya menyebar saja”*

5. Kuasai materi skeptikal thinking dengan baik di era banjirnya informasi ini

6. Apabila kita ingin share hasil resume sebuah grup, mohon tuntas, jangan ada bagian yang dipotong, krn resume merupakan gambaran hasil dari sebuah diskusi. Dan jangan lupa ijin dengan penulis resume tersebut.

7. Apabila ingin mereview sebuah diskusi di group sebaiknya kita kemas dg pola pemikiran dan gaya bahasa kita, tdk hanya sekedar copas hasil diskusi. Jangan lupa cantumkan sumber dengan jelas : nama group dan nama pemateri/narasumber ✅

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *