Hari-Hari Mendatang Anak Kita

Written by M. Fauzil Adzim   
Wednesday, 06 June 2012 08:25
Kalau hari ini kita masih ingat agama, dan merelakan keringat kita di jalan-Nya, maka itu boleh jadi bukan keberhasilan kita. Kalau hari ini kita ingat tentang tanggungjawab sesudah mati, sangat mungkin bukan karena kebaikan yang sepenuhnya lahir dari kesadaran kita. Boleh jadi semua buka karena prestasi kita sendiri, melainkan orangtua kita. Mereka menanamkan benih-benihnya, lalu tumbuh mengakar di dada kita. Atau para guru kita yang tulus menyemainya, lalu Allah kokohkan dalam hati kita.

Historia Vitae Magistra, begitu kata pepatah, sejarah atau pengalaman adalah guru terbaik kehidupan. Orang-orang yang mengambil pelajaran dari mereka yang telah mendahului kita, insya Allah akan tahu bagaimana memaknai tugas hidup sebagai orangtua. Seringkali kita menganggap suatu kreativitas dan kecerdasan anak merupakan sebuah kebanggaan, tetapi itu semua menjadi tidak berguna sama sekali, ketika anak-anak kita tidak tahu jalan hidup yang harus ditempuh. Bahkan ilmu agama yang tinggipun akan sia-sia kalau mereka tidak mempunyai harga diri yang bersih serta tujuan hidup yang pasti. Betapa banyak anak-anak yang memiliki keleluasaan ilmu agama, tetapi karena kita salah menanamkan tujuan, mereka justru membawa kesesatan dengan ilmu yang ada pada dirinya.

Ada hadist yang sering kita ingat, tetapi sangat jarang menjadi landasan kita dalam berbuat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah mengingatkan kita,”Sesungguhnya setiap amal tergantung dari niatnya dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan, barangsiapa yang hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya (diniatkan) kepada dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang akan dinikahinya, maka (nilai) hijrahnya adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi & An-Nasa’i).

Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, melainkan karena doa-doa yang tulus yang mereka panjatkan. Banyak orang tua yang caranya menddik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya penghargaan orangtua. Diantara mereka ada yang selalu membasahi penghujung malam dengan air mata untuk merintih kepada Allah Azza wa jalla. Di antara mereka ada pula yang menyertai  langkah-langkahnya dengan niat yang lurus dan bersih.

Kadang seperti tak terkait langsung, tetapi amal bergantung pada niatnya, seorang ibu menyedekahkan hartanya karena mengharap ridha Allah dan penjagaan iman atas anak-anaknya, lalu Allah tegakkan dinding di hati anak sehingga tak terjangkau oleh kerusakan yang ada di sekitarnya. Boleh jadi seorang istri bersikeras meminta suaminya mensucikan harta, lalu Allah sucikan hati anak mereka dari keruhnya hati dan kotornya pikiran. Boleh jadi pula ada bapak-bapak yang sibuk dengan agama, tetapi sesungguhnya ia sedang menolong agama Allah, sehingga Allah memberikan pertolongan kepada mereka dengan jalan yang tak terduga.

Seperti dalam firman Allah,”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama) Allah, pasti dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Ya Allah, alangkah masih sering lalai hati kita. Kita berbuat, tapi tanpa berniat. Bahkan di saat kita sedang sibuk berbicara agama pun, yang memenuhi hati seringkali bukan niat yang bersih. Akibatnya hati kita risau dan jiwa kita gelisah. Alih-alih membincangkan agama, yang ada justru perdebatan yang mengeraskan hati.

Astaghfirullahal ‘adzim. laa haula wa laa quwwata ila billah

Di zaman yang seperti ini, rasanya kita perlu menguatkan hati anak-anak kita. Semoga Allah mengampuni kelalaian kita. Semoga pula Allah menggerakkan hati kita untuk lebih mengingat-Nya, sehingga apapun yang kita kerjakan mempunyai nilai dihadapan Allah.

Telah berlalu masa orang-orang terdahulu. Setiap saat masa beralih pada zaman dan zaman bertukar. Orang-orang terdahulu berteriak lantang, sekarang mungkin sudah tinggal tulang belulang. Anak-anak yang dulu lucu-lucu, sekarang mungkin sudah menjadi penyejuk kalbu yang membawa haru karena tulusnya perjuangan mereka. Tetapi sebagian lagi mungkin justru  menjadi penyebab air mata pilu para orangtua. Anak-anak yang dulu mengeja a-ba-ta, sekarang mungkin sedang aktif berdakwah. Tetapi sebagian lagi justru sibuk menjual agama.

Masa berganti, zaman bertukar. Hanya hukum Allah yang tak pernah berubah, meskipun kita menggantinya setiap saat. Allah menyuruh kita mengambil pelajaran dari mereka yang telah pergi, baik mereka yang meninggalkan kebaikan maupun mereka yang membawa keburukan. Kita tidak bisa meminta anak-anak untuk menjadi seperti kita. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu, kita didik anak-anak kita untuk zaman yang bukan zaman kita. Terserah mereka akan menjadi apa, yang penting aqidah, iman, dan komitmen mereka sama dengan kita atau lebuh teguh lagi.

Kita mungkin bisa mencegah dengan kekuasaan atas anak-anak itu. Tetapi apa yang sanggup kita kerjakan sesudah kita tiada? Tak ada. Itu sebabnya kita perlu mulai berpikir tentang bekal buat anak-anak kita sesudah jasad terkubur tanah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengingatkan,”Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah mereka dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar).” (QS An-Nisaa: 9)

Ketakwaan dan perkataan yang benar, ya.. dua hal itulah yang dapat kita harapkan menjadi bekal bagi anak-anak kita kelak. Semoga Allah kuatkan iman kita. Semoga pula Allah memperjalankan kita dalam takwa kepada-Nya. Semoga setiap langkah kita membawa kepada ridha-Nya dan meninggalkan bekas yang mantap di hati anak-anak dan keturunan kita, sehingga mereka senantiasa menenangkan bisikan takwanya.

sumber : http://anaksaleh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *