Dari Meminang Istri hingga Mendidik Anak

Dapat kiriman di grup admin fasil 11 pagi ini. Awal membaca belum berasa… pas ke akhir pas ke akhir pas banget kehatinya.
Saat ini eka memang belum resmi menjadi ibu tp masih menjadi calon ibu. Eka sempat berfikir tidak mau berhenti bekerja karena eka gak tahan jika hanya dirumah seharian. Tapi hakikat seorang wanita saat dia telah menjadi istri apalagi menjadi ibu adalah dirumah.  Menjaga amanah dari suami, mempersiapkan generasi rabbani yang terbaik.
InsyaAllah eka ingin belajar memperbaiki diri memperbaiki niat memperbaiki yang ada sebelum eka resmi jadi ibu. InsyaAllah semoga Allah memudahkan jalan eka.
Berikut sharenya…

Share dari: Ust Bendrib Jaisyurrahman Udah (Salah satu Pembimbing Kursus Pra Nikah Islami KPNI di AQL Islamic Center Jakarta)

-Acara halal bil halal dilarang bawa pacar. Sebab pacar itu pasangan yg tidak halal.

-Hari ini kamu mau ikut lomba panjat pinang atau panjatkan doa agar dipinang?

-Jomblo itu kaum terjajah. Terjajah oleh impian kapan nikah. Saat akad terucap, itulah proklamasi kemerdekaannya!

-Memilih pasangan yg cakep memang bukan yg utama. Tapi kalau mendapatkan yg jelek membuatmu tak mau pulang ke rumah, untuk apa kamu nikah?

-Carilah pasangan yg sedap dipandang. Jika kurang, kasih masako secukupnya ‪#eh‬

-Suami idaman itu rajin NGAJI dan berlimpah GAJI.

-Ibu, kembalilah ke rumah. Anakmu terkapar oleh peluru zaman. Fisiknya bugar namun jiwanya terkapar. Kembalilah!

-Apa yg kau cari dalam hidup? Jika surga adalah tujuan, maka mendidik anak sungguh2 adalah pintu terdekat yg antarkan kau menuju surga idaman,

-Jika harus bekerja maka itu darurat. Segeralah cari jalan untuk bisa kembali ke rumah. Sebab, anakmu makin tumbuh dan tak bisa ditunda,

-Memang tidak bijak meminta ibu berhenti bekerja. Namun lebih tidak bijak lagi membiarkan anak-anak terlantar tanpa kasih sayang,

-Tundalah dulu obsesi karirmu. Setidaknya ketika anak telah tumbuh dewasa. Setelahnya, kau bisa puas menuai karya,

-Sejatinya, ibu itu profesi utama. Sisanya, sambilan aja.

-Jika mengurus anak, dengan cara sambilan. Maka akan muncul generasi sambel-sambelan (saudara kandung cabe-cabean),

-Bagi seorang suami, jangan tuntut istri bekerja. Sebab, kau telah renggut hak anak yg lebih butuhkan ibunya dibandingkan TV atau galaxy S5.

-Jadilah lelaki pemberani. Berani katakan kepada istri; tinggallah kamu dirumah. Biar aku saja yg penuhi kebutuhan kita.

-Ingatlah…
Anak itu titipan dari Allah. Maka jangan kau titipkan lagi kepada orang lain. Emangnya Allah salah nitip? Wal’iyaadzu billaah…
***

Yaa Allah,
Berilah kami pasangan dan keturunan yang menjadi ‘penyejuk hati’, satukan hati kami (sekeluarga) diatas keta’atan pada-Mu, dan janganlah engkau mematikan kami kecuali dalam keadaan islam dan husnul khatimah…

Allaahumma Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *