Hai… apa kabarmu?
Lama aku tak membaca kabarmu. Apa kamu baik-baik aja? Masih suka menuliskan mimpimu? 2026 sekarang, rasanya aku kehilangan dirimu yang dulu selalu jadi teman ceritaku. Apakah karena kamu jauh, makanya aku jadi jarang menulis? Atau karena aku jarang menulis hingga kamu menjauh?
Rasanya aku ingin mengejarmu, tapi kutakut kamu sebenarnya tak di depanku tapi di belakangku. Itu artinya aku harus mundur kebelakang untuk mencarimu. Sepertinya sudah cukup lama waktu kita terpisah. Rasanya sekarang aku tak baik-baik saja. Karena itu kuputuskan untuk menulis ini untukmu.
Aku yakin kau akan sedih dan kecewa jika tau saat ini aku merasa diriku tidak luar biasa. Jika kau tau saat ini aku merasakan perasaan yang dulu mati-matian kau perjuangkan untuk pergi malah bergelantungan dihatiku.
Apakah kau akan kecewa padaku?
Apakah kau akan sedih melihatku?
Atau kau akan berkata tak apa-apa, jika dulu bisa maka sekarang bisa.
Tenang saja, semua hanya sementara, nanti kita lewati ini.
Aku sepertinya sangat merindukanmu. Sekarang aku sedang menyusun peta untuk menemukanmu. Setahun hampir berlalu, kuharap kau tak terlalu jauh.
Aku ingin belajar menerima ini dulu agar nanti saat kita berjumpa, aku merasa aku sudah jadi luar biasa seperti biasa.
Oh iya, aku sudah mengusahakannya, jadi aku yakin nanti ada ujungnya. Aku harap kau tak terlalu kecewa. Dulu titik ini sudah kita lewati berkali-kali. Kali ini mari temani aku lagi. Kau tau, sekarang ada orang kesayanganku yang selalu memintaku menemuimu. Sudah lama dia tanyakan, tapi aku masih enggan. Apakah kau tau kenapa?
Aku merasa kau tak sepenting itu, tapi ternyata kau sangat berharga. Jadi kurasa sekarang belum terlambat bagiku untuk berjumpa lagi denganmu. Bersiaplah, agar versi terbaikku saat ini bisa dengan bangga menjumpaimu.
Hai Diriku
Hai diriku yang dulu, yang rajin menulis dan bercerita, selalu penuh semangat dan percaya diri, yang selalu ingin memberikan hal terbaik yang kamu bisa, yang bersinar bercahaya bagi orang sekitarnya. Mari kita bertemu lagi. Mungkin tidak segera, tapi aku merindukanmu.
Sekarang ada perasaanku, tanpamu aku tidak berharga. Sampai bulan lalu seseorang berkata padaku “Berhentilah sebentar, periksa lagi petamu agar tak tersesat”. Akan kuusahakan hadir sepenuh hati agar bisa menulis setiap hari.
Kesayanganku berkata, mulailah menulis buku. Aku masih takut dan ragu, tapi jika aku tak mulai maka aku tak akan berjumpa denganmu. Jadi inilah titik mulaiku.
Sampai jumpa.