Umi Journeys

Sebelas Tahun Menjadi Ibu

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, sudah memasuki bulan Maret 2026. Hari ini tanggal 1 Maret, dan kemarin, tanggal 28 Februari, adalah hari ulang tahun Khadijah Aqila Mufasa.
Hari lahir Aqila berarti adalah hari pertama aku menjadi ibu. Artinya, kemarin sudah 11 tahun aku resmi menjadi seorang ibu.
Sejak lama aku pahami, menjadi ibu dari anak yang menuju baligh dan remaja itu tidak mudah. Saat menghadapinya, hatiku tetap merasa kembang kempis dan bertanya, apakah aku sanggup menjalaninya dengan baik.


Sejak lama aku pahami, menjadi ibu dari anak yang menuju baligh dan remaja itu tidak mudah. Saat menghadapinya, hatiku tetap merasa kembang kempis dan bertanya, apakah aku sanggup menjalaninya dengan baik.


Banyak sekali obrolan yang aku lakukan dengan suamiku tentang bagaimana kami akan mengarahkan dan mendidik anak-anak kami menuju dewasanya.


Hal penting yang aku bahas bersama suami adalah jika ada luka di masa lalu (tepatnya mungkin lukaku, karena aku yakin suamiku tak punya luka), maka jangan sampai luka seperti itu diwariskan pada anak-anak kami dan diwariskan ke cucu kami.


Mungkin bagi orang lain ini bukan topik yang berat, tapi bagiku ini cukup menantang dan cukup butuh keberanian besar untuk membahasnya lebih dalam lagi. Rasanya sulit untuk melanjutkan tulisan ini tanpa meneteskan air mata.


Salah satu yang aku takutkan saat anak-anak kami dewasa adalah kami tidak sehati, semakin berkurangnya cinta di antara kami, menipisnya kasih sayang, serta kurangnya interaksi seiring bertambahnya usia mereka.


Sedangkan harapanku adalah semakin dekatnya cinta kami, semakin bertumbuhnya kasih sayang yang kami miliki walaupun anak-anak sudah dewasa, menua, dan hidup bersama pasangan mereka masing-masing. Harapan yang gak muluk-muluk bagiku.


Sama seperti saat mempersiapkan diri saat menikahi suamiku dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendebarkan hati untuk dijawab, saat ini aku juga mempersiapkan diri untuk mendampingi perjalanan anak-anak menuju dewasa dengan menyiapkan banyak pertanyaan untuk diriku.


Satu keyakinan dan satu kepastian yang nyata adalah bahwa tidak mungkin jalanku menjadi ibu bagi anak-anak bisa dilakukan dengan mudah tanpa bimbingan Allah SWT.


Berdoa pada Allah agar dibimbing dalam mendidik anak, agar tetap tumbuh cinta dan kasih sayang di dalam keluarga.
Mengapa sampai ada harapan-harapan seperti ini? Karena aku tumbuh di dalam keluarga yang keras. Walaupun begitu, kasih sayang di antara kami tetap tumbuh. Namun tak bisa dipungkiri jika mungkin tetap ada luka yang tak terlihat atau mungkin tak ingin diakui.


Hal-hal seperti itulah yang tak ingin terjadi pada anak-anak kami kelak. Karena itu, selalu jadi obrolan antara aku dan suami bagaimana kami berusaha untuk menjaga atmosfer kasih sayang dan cinta kasih di dalam keluarga.

Sekali lagi aku berharap aku bisa bertumbuh menjadi ibu yang lebih baik setiap harinya. Aku tidak tahu apakah indikator ibu yang baik itu sama bagi setiap orang, tapi aku berharap fitrah cintaku sebagai seorang ibu mengakar kepada anak-anakku.


—


Untuk Khadijah Aqila Mufasa, anakku tersayang, selamat menyambut usia balighmu ya, sayang. Umi berharap kita selalu bisa menjadi sahabat terbaik sepanjang masa.

Semoga Allah mudahkan segala langkah, cita-cita, dan impian baik Aqila. Allah terangi jalan Aqila dengan ilmu yang bermanfaat. Allah pertemukan Aqila dengan orang-orang baik yang selalu memberikan cahaya kebaikan di sekeliling Aqila.

Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jadikan Allah sebaik-baik penolong dalam segala keadaanmu.
Maafkan jika masih banyak salah dan kurangnya Umi sebagai seorang ibu. Sesungguhnya setiap hari adalah hari belajar bagi Umi.

I love you, sayangku.
Barakallahu Fii Umrik
❤️❤️

Osaka, 1 Maret 2026

Exit mobile version