Umi Journeys

Catatan (Anti) Panik saat Anak Kejang Demam

Anti Panik Anak Kejang Demam. Ini adalah catatan panik saat anak kami mengalami kejang demam. Anak kejang demam biasa masyarakat sekitar menyebutnya kena STEP, namun saat terjadi saya tidak bisa menghadapinya dengan tidak dengan panik. Kali ini saya ingin berbagi cerita saat anak kami harus di rawat karena anak kejang demam.

Kejang demam kali ini merupakan kejang demam yang ke empat dialami oleh si kecil kami. Sebelumnya dia sudah pernah kejang demam sebanyak tiga kali namun kami hanya membawa ke IGD klinik terdekat dari rumah bukan ke rumah sakit besar. Saat terakhir ke klinik para dokter jaga menyarankan jika terjadi lagi kejang demam harap langsung bawa ke rumah sakit yang lebih besar agar dapat ditangani dengan lebih baik.

Mengenali Kejang Demam

Menurut web IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) disebutkan kejang demam adalah kondisi kejang pada anak yang dipicu oleh demam atau kenaikan suhu tubuh diatas 38°.

Kejang demam terjadi 2-4% pada anak berusia 6bulan-5tahun. Diluar usia itu dipertimbangkan penyakit lainnya. Ini silahkan tanyakan pada dokter anak untuk lengkapnya ya. Lebih lanjut juga disampaikan jika belum ada data kematian karena kejang demam (web IDAI) . Tapi saat terjadi ini asli emak-emak seperti saya bawaannya over thinking.

Pertolongan Pertama saat Anak Kejang

Si kecil kami sendiri mengalami kejang pertama kalinya di usia 1tahun lebih beberapa hari. Saya ingat karena belum lama kami merayakan milad pertamanya. Namun saat itu dokter tidak memasukkan ke dalam kategori kejang demam karena suhunya dibawah 38°. Kami diminta mengobservasi anak jika terjadi lagi kejang dibawah suhu 38° kemungkinan akan dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Setelah itu setiap dia demam adalah saat yang menegangkan untuk saya. Jika si kecil kami demam maka tidur adalah hal yang paling saya tahan. Kejang keduanya terjadi tengah malam. Kira-kira pukul 00.30 saya selesai memberinya obat lalu saya susui, namun belum 5menit dia sudah kejang.

Selasa pekan lalu tepatnya tanggal 14 Juni 2022 si Kecil kami yang sudah panas tinggi sejak minggu malam tiba-tiba kembali kejang. Kejadiannya sama, saya berikan obat lalu saya susui, setelah itu tiba-tiba kejang. Saya yang aslinya sudah waspada sejak dia mulai panas tetap merasa salah memberikan pertolongan pertama. Berikut yang saya lakukan terakhir kali.

Beberapa kesalahan saya saat anak kejang demam:

1. Panik. Iya ini tidak bisa saya atasi. Saya panik karena saya tidak menyangka bahwa kejang demam bisa terjadi kapan saja. Kejadian sebelumnya selalu terjadi malam hari.

2. Tidak meletakkan anak di tempat yang rata dan aman. Saya selalu diedukasi ini oleh petugas medis dan dokter. Tetapi tetap saja saat anak kejang saya malah menggendongnya. Yang benar adalah letakkan anak ditempat keras dan rata serta jauh dari barang.

3. Lupa memberikan obat kejang. Saya sudah dibekali stok obat kejang dirumah. Bahkan sudah 2x dibekali oleh rumah sakit. Namun saat kejadian berlangsung saya malah panik.

4. Tidak sabar menunggu bantuan. Ini seking paniknya saya cuma lari-lari keluar rumah dan teriak padahal tetangga saya itu semua pekerja dan rumah pada kosong. Saya tidak menelpon bantuan tapi malah ambil motor dan gendong anak yang kejang lalu ngebut ke rumah sakit. Padahal saya tingal telpon teman yang bisa mengantar.

5. Over thinking. Ini saya karena masih kurang ilmu ya, saya tidak tahu anak yang kejang demam biasa akan lemas setelah kejang. Padahal sudah kali ketiga tapi setelah kejang melihat anak saya tiba-tiba lemas membuat saya over thinking.

Yang Harus dilakukan saat Anak Kejang Demam

Setelah anak kami ditangani dan mendapatkan kamar serta perawatan saya di datangi lagi oleh perawat serta di edukasi kembali tentang kejang demam, serta hal yang harus saya lakulan saat anak kejang.

  1. Tetap tenang (jangan panik dan histeris)
  2. Letakkan anak di tempat yang keras dan rata. Juga jauh dari barang yang bisa membahayakannya.
  3. Miringkan anak untuk menghindari tersedak.
  4. Longgarkan pakaian anak.
  5. Catat berapa lama anak kejang.
  6. Selalu sediakan obat kejang di rumah dan berikan obat segera.
  7. Jangan tahan gerakan anak dan jangan di gendong saat kejang berlangsung.
  8. Segera menuju IGD setelah diberikan obat.

Dari edukasi ini, ternyata saya sudah melakukan hal baik juga yaitu dengan mencatat lama anak kami kejang sehingga dokter dapat mengambil tindakan yang sesuai serta menjadi catatan medis anak. .

Catatan lain, saya diminta tidak over thinking. Karena over thinking yang berlebihan saat saya sampai di IGD maka tangisan saya pecah. Saya panik, kebetulan suami sedang di luar kota dan saya membawa ketiga anak ngebut naik motor ke rumah sakit. Anak kami akhirnya ditangani dengan cepat dan para medis juga harus menenangkan saya yang sudah sesegukan. Padahal saya bukan ibu penangis lho. Ciyus ini.

Sungguh semua pengalaman kali ini menjadi catatan penting untuk saya kedepannya. Juga ilmu baru yang saya dapat, menjadi nasehat supaya lebih bersikap tenang jika terjadi lagi. Menurut dokter anak kejang demam akan mudah mengalaminya lagi hingga usia 5 tahun. Saya juga mengedukasi kakak-kakak karena mereka bisa jadi alarm hidup yang bisa mengingatkan saya jika saya panik.

Apakah teman-teman juga ada pengalaman saat anak kejang demam? Yuk berbagi cerita semoga jadi tambahan ilmu buat saya

Exit mobile version