Umi Journeys

Pengalaman Menggunakan KB UID dan Drama Melepaskan IUD (KB Spiral)

Pengalaman Menggunakan KB UID dan Drama Melepaskan IUD (KB Spiral). Alhamdulillah saya akhirnya bisa melepaskan KB Spiral atau yang sekarang ini lebih dikenal dengan IUD (Intrauterine Device). Setelah menggunakan IUD selama lebih dari 2tahun bahkan mendekati tahun ke3. Bagaimana pengalaman saya menggunakan nya selama ini? Dan kenapa akhirnya dibuka? Baca sampai habis ya.

Sesuai dengan kesepakatan saya dan suami, Senin 18 November 2019 kami berangkat ke dokter kandungan favorit kami sekaligus dokter yang memasang IUD saya sepulang suami saya pulang bekerja. Alhamdulillah belum terlalu terlambat karena saat mendaftar saya mendapat antrian pukul 16.30wib tetapi kami sampai pukul 17.15wib

Kenapa saya menggunakan KB Sprital (IUD)?

Pertanyaan ini Alhamdulillah paling sering mampir jika ada yang tau saya menggunakan KB Spiral atau IUD. Kenapa tidak menggunakan KB alami saja? Nanti gak nyaman pakai IUD. Kenapa tidak menggunakan pil KB atau suntik KB dan banyak pertanyaan yang kurang lebih sama.

Kenapa menggunakan KB?

Setelah melahirkan anak ke 2 dalam kondisi prematur saya masih merasa sedikit bersalah karena merasa tidak menjaga diri dengan baik selama masa kehamilan. Seharusnya lebih banyak bedrest seharusnya begini begitu masih banyak berputar dikepala. Walaupun suami sudah meyakinkan semua adalah rezekinya dan ketentuan Allah jika bayinya harus segera keluar lebih cepat.

Lalu dokter anak menyarankan, karena bayi kami prematur diharapkan dia mendapat full perhatian dan terutama ASI hingga berusia 2tahun. Perawatan bayi prematur harus lebih intensif. Kenapa beliau menyarankan seperti itu? Karena beliau langganan keluarga kami dan tau jika si kakak kesundul adik. Jadi kakak ASI tidak full 2tahun karena saya hamil adik dan tidak kuat tandem. Jadi salah satu saran nya adalah jangan sampai kesundul lagi.

Setelah banyak pertimbangan dan pembicaraan antara saya dan suami akhirnya pilihan jatuh ke KB Spiral atau IUD. Kenapa akhirnya saya memilih KB Spiral, berikut pertimbangan saya dan suami:

  1. KB Spiral ini praktis dan efisien. Sebelum nya saya sudah pernah mencoba KB pil yang diminum setiap hari. Tapi pil tersebut hanya berbaris di rak tanpa pernah teratur diminum satu baris pun. Dengan KB Spiral saya tentu tidak akan lupa lagi. Lalu juga bertahan lama. Ada yang 5tahun dan 10tahun. Praktis sekali.
  2. Demi kesehatan dan keselamatan. Saya lebih ke kesehatan diri. Setelah sebelumnya anak pertama kami jantung bocor dan yang kedua prematur saya dan suami merasa ada yang harus kami periksa lebih detail tentang kesehatan kami berdua. Apa karena suami saya Rhesus negatif atau karena saya terduga auto imun. Semuanya masih dalam dugaan kami. Jadi kami butuh waktu untuk memastikan nya.
  3. Demi bayi dan ibunya. Iya saya ingin fokus dengan bayi kami tanpa takut dia kesundul walaupun itu tetap rezeki dari Yang Kuasa. Tetapi menggunakan KB adalah bagian ikhtiar saya dan suami agar semuanya maksimal. Juga untuk saya pribadi agar tidak ada rasa was-was didiri.
  4. Aman untuk ibu menyusui. Ada beberapa jenis KB yang tidak cocok untuk ibu menyusui. Ada yang membuat ASI berkurang atau malah tidak disarankan untuk ibu menyusui. Sedangkan saya berKB karena ingin tenang mengASIhi selama 2tahun full.

Dengan resiko yang sedikit dan mudah pemasangannya, maka KB Spiral menjadi pilihan saya. Menggunakan KB itu tetap deg-degan karena ada yang bilang gak enak lho saat berhubungan suami-istri. Ada yang ganjel nanti terasa tidak nyaman beraktivitas. Tapi bismillah saja, saya mantap kan diri memasang KB ini karena hanya ingat bayi mungil saya.

Alhamdulillah saya menggunakan sudah hampir 30bulan. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada ganjalan saat beraktivitas apalagi hubungan mesra tetap aman tanpa keluhan. Ada teman yang rajin memeriksakan per 6bulan sedang kan saya tidak pernah selain saat pasang dan buka. Huhu jangan ditiru. Semuanya karena saya merasa nyaman dan tidak ada keluhan. Lah kalau tidak ada keluhan kenapa dibuka?

Drama Melepaskan KB Spiral (IUD)

Kenapa drama? Karena memang drama banget pas mau buka KB ini. Jadi sesuai niat awal saya menggunakan KB ini adalah untuk mengoptimalkan waktu dan diri saya untuk perkembangan dan kesehatan anak kedua kami yang prematur agar tumbuh optimal dan mendapat hak penuh.

Sekarang sudah hampir 3tahun usianya. Tepatnya 4bulan lagi. Berarti juga sudah lewat lama tuntas masa ASI nya. Malah sudah disapih dengan cinta sejak usia tepat 2tahun. Jadi tidak ada alasan saya masih menggunakan KB Spiral ini.

Maka dimulailah drama saya ingin melepaskan KB IUD ini. Karena ternyata tidak semudah itu membujuk suami untuk mengunjungi dokter kandungan yang memasang KB IUD ini. Mulai dari lupa menelpon untuk nomor antrian, sibuk dengan pekerjaan, pergi keluar kota dan banyak alasan lainnya. Sampai akhirnya saya bertanya ” belum siap ya punya anak lagi?” Sambil lirik-lirik manja. Walaupun dia jawabannya langsung tegas “enak aja..siap dong. Umi yang belum siap kali jadinya gagal terus mau nelpon” Bajaj kali yak ngeles.

Bahagianya melepaskan iud

Akhirnya saya akan melepaskan KB IUD yang ada ditubuh saya. Walaupun selama ini tidak ada masalah dan keluhan apapun tetapi tetap saja bahagia. Seperti menanti anak ketiga. Yuhuu.

Tapi ternyata membuka nya tidak sesederhana pikiran saya. Saya salah terlalu menggampangkan masalah membuka iud ini. Seharusnya saya lebih banyak membaca sebelum nya. Seharusnya saya cari tau dulu atau ngobrol lama dengan dokter yang paham. Sehingga tidak terjadi apa yang saya alami 2hari ini.

Saya baru membaca dan mencari tau setelah iud saya dilepaskan dan saya kesakitan.

Jadi membuka KB Spiral (IUD) ini disarankan saat menstruasi dimana vagina kita dalam kondisi yang lunak atau mengembang tapi saya tidak paham persis. Tapi jika tau saya agak jijik. Kasihan dokter nya. Biasanya dokter akan bertanya apa sedang menstruasi. Tetapi saya tidak ada ditanyai. Dokter hanya bertanya apa uid saya baik-baik saja? Saya jawab iya dan sekarang ingin dibuka. Just it. Kenapa saya tidak tanya apa ada kondisi yang disarankan untuk saya membuka nya.

Saya menemui dokter yang langganan yang sudah sepuh dan selalu adem. Pertama masuk selalu disambut senyuman lalu saya mulai diperiksa menggunakan alat usg. Saya pikir mungkin beliau ingin melihat posisi IUD nya. Setelah itu saya pindah ke kasur yang memiliki penyangga kaki seperti saat kita melahirkan.

Lalu beliau mulai memasukkan beberapa alat dan bekerja keras. Saat dibuka terasa perih dan nyeri sampai saya bertanya kedokternya apa memang biasa sakit dan nyeri seperti ini ya buk? Beliau menjawab iya. Kenapa saat dipasang tidak sakit? Beliau jawab IUD itu ibarat kan payung, saat dipasang kan payung ini masih dalam kondisi tertutup. Sedangkan saat dibuka kondisi dalam keadaan seperti payung yang terbuka. Karena itu sedikit nyeri.

Selama proses pelepasan saya hanya menutup wajah dengan tangan. Saya takut sedangkan anak-anak dan suami berada dibalik tirai. Si sulung yang lembut hati menangis karena takut uminya disuntik. Apalagi dia mendengar saya bertanya kenapa sedikit nyeri.

Semua ada ilmunya

Iya walaupun sekedar membuka iud, semua ada ilmunya. Seharusnya saya pahami itu dan bertanya kepada dokter untuk persiapan diri. Jadi setelah IUD saya terbuka dikatakan akan sedikit berdarah. Saya tidak ambil pikir paling darah sedikit karena lecet proses membuka. Jadi saat hanya diberi antibiotik saya juga tidak berfikir akan sakit.

Ternyata tidak. Sampai dirumah saya malah lanjut membersihkan rumah karena sore tadi keburu pergi ke klinik. Dapur dan makan malam suami juga saya bereskan. Ternyata darah yang keluar agak banyak. Dan tidak seperti darah luka bekas melepaskan iud tetapi malah seperti flek dan ada gumpalan kecil-kecil.

Lalu menjelang tidur perut saya sakit sekali. Saat ditanya suami saya hanya jawab tidak apa-apa. Saya fikir mungkin magh karena makan malam telat. Ternyata paginya malah semakin sakit.

Bangun tidur saya kesakitan dan menangis. Mau sholat subuh tidak bisa. Perutnya tersenggol nyeri sekali. Saya hubungi dokter yang saya kenal dan kebetulan bertugas di klinik tempat KB IUD saya dilepaskan. Sakitnya sakit sekali seluruh perut bagian bawah, saya fikir kalau magh pasti dikiri saja. Ini ditengah sakit dikanan pokok nya nyeri semua. Rasanya seperti perut ini jatuh. Kalau ibu bilang “turun perut” atau ada yang bilang “turun peranakan”. Intinya sakit sekali.

Saya disarankan banyak istirahat, lalu diresepkan obat penghilang nyeri oleh dokter. Karena mungkin masih ada luka karena keluarnya IUD. Apalagi saya masih bersih-bersih rumah, menyiapkan makan dan gendong anak.

Alhamdulillah jadi pelajaran berharga untuk saya dan suami. Lebih waspada dan tidak menyepelekan suatu hal terutama yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan diri.

Apakah saya kapok memasang IUD? Tentu saja tidak, hehe karena menurut saya IUD atau spiral adalah alat kontrasepsi teraman. Tetapi saya tidak akan menggunakan alat kontrasepsi jika tidak terpaksa sekali seperti pengalaman yang lalu. Semoga ada manfaat dari tulisan ini.

Exit mobile version