Haloha.. kali ini saya ingin membuat jurnal singkat tentang perjalanan saya selama 1bulan mendampingi kelas bunda sayang. Materi pertama kami berjudul ” Komunikasi Produktif”. Sudah pernah dengar tentang komunikasi produktif? Kalau belum yuk intip sekilas.
Komunikasi produktif membahas banyak hal dalam berkomunikasi. Terutama dimateri ini adalah komunikasi kepada anak dan pasangan.
Misalnya sebelum berkomunikasi dengan pasangan kita harus pahami, perbedaan otak laki-laki dan perempuan. Hal ini tentu sudah sering kita dengar. Mulai dari perempuan yang bisa mengeluarkan 20000kata namun laki-laki mengeluarkan tidak lebih dari 7000 kata termasuk kata-kata dalam verbal maupun non verbal. Jadi untuk menciptakan komunikasi produktif kita tidak sekedar butuh bicara tapi memahami lawan bicara. Laki-laki dapat fokus dan terhanyut dalam dunianya setelah 10menit jika perempuan tidak memahami dan tetap berbicara padahal sang lelaki sedang fokus dengan buku, game atau tv apa yang akan terjadi? Si perempuan akan ngomel sendiri. Nah selama mendampingi bunda-bunda dikelas dalam materi ini, saya jadi banyak belajar. Tidak semua cara yang bisa digunakan 1 pasangan bisa ditiru pasangan lain. Intinya cukup deh pahami pasangan kita.
Mana yang lebih penting kata-kata, intonasi atau bahasa tubuh?
Albert Mehrabian menyampaikan tentang kaidah 7-38-55. Yaitu bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling ann attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi. Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Disinilah tantangannya. Saat penerapannya tentu tidak semudah teori. Misalnya saja seorang ibu meminta anaknya untuk mandi tapi ibu tersebut masih mencuci piring dan hanya berteriak dari dapur. “Nak ayok mandi sudah sore” Ini contoh yang saya temui dikelas bunda sayang4# saat menjadi fasilitator. Nah itu yang biasanya dilakukan yak sebelum dapat materi, namun jika telah mendapatkan materi komunikasi produktif hal seperti diatas luar biasanya bisa dikurangi. Apalagi terhadap pasangan kita. Karena kita yang bertanggungjawab pada hasil komunikasi kita. Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab
komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya. Sederhana ya? Kadang kita ingin dipahami dalam berbicara tapi cara penyampaian kita belum pas sehingga orang lain belum mengerti. Sekali lagi komunikasi produktif bukan sekedar bicara, namun bagaimana kita menghadirkan diri dan hati dalam setiap komunikasi apalagi komunikasi terhadap anak ya.
Semua bunda begitu semangat mendapatkan tantangan untuk memperbaiki cara berkomunikasi kepada anak dan pasangan. Sekarang mana yang lebih penting didahulukan memperbaiki komunikasi ke anak atau kepasangan? Hehe atau mau barengan semua diperbaiki.
Sebulan mendampingi meteri pertama, ekspektasi saya pribadi sebagai fasilitator harus diturunkan. Hehehe. Saat matrikulasi mendapatkan kelas yang aktif heboh bin rempong dengan semangat belajar dan menularkan semangat belajar kepada temannya tinggi mungkin karena 1 kota juga, pindah ke kelas yang masih malu-malu dan hanya di tanggapi beberapa peserta saat sesi diskusi dan tanya jawab namun alhamdulillah dapat lulus menyelesaikan tantangan pertama sebanyak 47orang dari 52orang peserta kelas. Mungkin ini karena beda kota dan masih butuh pemanasan agar lebih akrab sesama teman sekelas. Dimateri ke2 semoga makin cair.
Dengan 10orang mendapatkan badge youre excellent dan 7orang mendapatkan badge outstanding performance saya bersyukur teman-teman di tengah sunyi nya suasana kelas dari obrolan tetap saja berhasil lolos banyak. Berarti semangat belajar ibu-ibu ini tinggi.
Tidak lengkap perjalanan jika tiada tantangannya sebagai fasilitator. Tantangan pertama adalah waktu diskusi dikelas. Walaupun waktunya sudah divote dan disepakati tetap saja begitu diskusi banyak yang ketiduran karena waktu terpilih adalah 21.00-22.00. Dan muncuknya diwaktu lain-lain. Maklum yes mak emak yang belajar. Mungkin malamnya niat mo nidurin anak tapi ikutan tidur.
Tantangan selanjutnya adalah tidak aktifnya perangkat kelas dengan berbagai alasan dan tantangan masing-masing pribadi. Setiap kelas ada ketua kelas dan koordinator. Merekalah ibarat roda dan klakson dikelas. Kebetulan mereka banyak tantangannya. Terutama ketua kelas yang memiliki masalah kesehatan akhirnya mundur di ujung tantangan level pertama. Agak berat meminta sekretaris menggantikan posisinya karena sekretaris banyak ketinggalan diskusi peer grup.
Bismillah saja semoga tantangan level berikutnya saya sebagai fasilitator dapat mendampingi kelas lebih baik. Musti banyak-banyak menebar semangat karena semangat itu menular. Kalau fasilnya loyo kelas juga bakal loyo. Kalau fasil over semangat, semoga kelas kami jiga selalu semangat.
Fasilitator Bunda Sayang Batch#4
Eka Mustika Sari
