Kalimat seperti judul diatas hampir setiap kali kudengar jika aku melakukan kesalahan atau tindakan yang dianggap “tidak sholihat” dimata teman-temanku. Tapi teman-temanku ini bukanlah mereka yang saat bertemu mengucapkan salam dan cipika cipiki denganku, bukanlah mereka yang kadang selalu berjumpa dimasjid denganku, juga bukan mereka yang para jilbaber yang selalu membersamaiku. Mereka adalah teman-temanku disini lain, yang bagi mereka berjilbab masih bukan merupakan hal yang wajib dan dosa jika tidak mengenakannya, yang bagi mereka berjilbab hanya ketempat tertentu yang sudah mereka listkan saja, yang bagi mereka berjilbab bukan karena Allah memerintahkan harus berjilbab. Itulah mereka, namun mereka jugalah orang yang selalu menegurku duluan jika aku salah, orang yang mencetarkanku jika aku khilaf. Tanpa pernah menganggap “segan” atau “gak enak”, dan kata-kata yang paling sering terdengar adalah “Muslimah sholihah gak boleh gitu”.
Hmm menarik sekali perjalanannya hingga kata-kata itu seperti menjadi “tredmark” bagi diriku. Hidup disisi lain dengan orang-orang yang mengangap cukuplah menjalankan RUKUN ISLAM dalam keseharian untuk menunjukkan kau islam (selain KTPmu tentunya), mungkin menjadi hal yang kurang mendukung saat diri ini ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dimana saat ingin lebih menutup aurat yang syar’i tetapi malah ditertawakan dan dipanggil “ibu-ibu pengajian” (padahal emang gw ngaji sih). Dimana saat kau datang orang-orang langsung bubar, atau mereka tidak pernah membalas senyumanmu saat kau melihat kewajah mereka. Dimana orang-orang melihat kau aneh dan mengatakan apa yang kau kenakan adalah kampungan dan tidak “update”.
Ingin pergi dari tempat seperti ini, ingin menjauhi tempat seperti ini. Ingin hidup ditempat yang lebih mendukungku dan menerimaku itulah kata-kata yang kuucapkan ditelpon waktu itu kepada satu-satunya orang yang akan kutelpon disaat sulit menghadapi apapun. Tetapi jangankan sebuah persetujuan, dukunganpun tak kudapatkan, dan beliau malah berkata “Surga Allah itu luas dek, dan terlalu luas untuk kita tempati sendiri. Maka ajaklah mereka bersamamu. Jangan tinggalkan mereka dan mencari kebaikan untuk dirimu sendiri”. Cetar…ku terdiam dalam tangisan, sungguh.. sungguh egois sekali.. mungkin itulah kesimpulan dari nasehat yang kudapatkan itu. Ya Rabb bagaimana bisa aku merasa diriku ini lebih baik dari mereka, dan ingin menjauhi mereka karena merasa tidak pantas.
Tidak, aku tidak akan menjadi orang seperi itu. Aku tidak akan menjadi orang seperti itu. Aku akan tetap ada disini dan tinggal disisi lain ini agar sisi ini juga dapat menjadi sisi yang kubanggakan kelak. Walau diawal akan berat, tapi bagaimana bisa aku merasa cobaanku berat jika diluar sana ada yang mendapatkan cobaan jauh lebih berat dariku.
Menyesuaikan diri disisi lain ini, dan dihitung sebagai “akhwat gaul” oleh sisi yang lainnya. Itu adalah opsi yang harus diterima. Tidak apa-apa, jika sedikit dipadndang sebagai “akhwat gaul” asalkan teman-teman gaulku ini mau tersenyum dulu padaku, tidak apa-apa dianggap dulu sebagai “akhwat gaul” asalkan teman-teman gaulku mau sholat bersamaku, tidak apa dipandang sebagai “akhwat gaul” asalkan teman-teman gaulku saat ragu dan bimbang akan islam mereka mencariku, tidak apa dipandang sebagai “akhwat gaul” asalkan terakhir mereka mengatakan “jika kau ingin mengaji lagi, jangan lupa kau ajak aku besok”.
Tidak apa-apa, ternyata setelah beberapa tahun akhirnya aku bisa. Bukan bisa diterima mereka, tapi bisa menerima mereka dihidupku. Mereka-mereka yang datang dari sisi lain hidupku. Mereka yang sekarang selalu menelpon saat ragu bolehkan sholat isya jam 2malam. Mereka yang mengirimkan sms bagaimana jika ketinggalan sholat dari imam.Mereka yang sekarang dengan manisnya berkaca didepanku dan mengatakan “kak, saat ini aku udah pake jilbab syar’i loh lihat deh udah panjang kan didepan dan dibelakang, lihat deh udah menutup dadakan”. Ya, itu mereka yang dulu. Mereka yang dulu saat mengomentariku dan selalu kujawab “saya kan muslimah sholihah, jadi gak boleh gitu”. Mereka yang saat mulai berghibah kan kukomentari “weits, muslimah sholihah gak boleh gitu” Mereka yang ternyata sangat merekam kata-kataku itu. Dan mereka yang selalu mendapatkan tredmark “muslimah sholihah”. Semoga Allah menguatkan mereka dan menguatkan “muslimah sholihat” lainnya dimuka bumi ini.
Terakhir jika kau akan melakukan sesuatu yang kau rasa Allah tidak suka ingatlah bahwa “muslimah sholihah, gak boleh gitu. Karena muslimah sholihah diawasi Allah selalu”
