<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Umi Journeys</title>
	<atom:link href="https://www.ekamustikasari.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.ekamustikasari.com/</link>
	<description>The Ultimate Umi Journeys. Home Education, Mom Talk &#38; Family Blogger</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Oct 2026 08:33:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">147527935</site>	<item>
		<title>How Are You</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/10/how-are-you/</link>
					<comments>https://www.ekamustikasari.com/2026/10/how-are-you/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2026 08:33:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Umi Journeys]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3465</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hai&#8230; apa kabarmu? Lama aku tak membaca kabarmu. Apa kamu baik-baik aja? Masih suka menuliskan mimpimu? 2026 sekarang, rasanya aku kehilangan dirimu yang dulu selalu jadi teman ceritaku. Apakah karena kamu jauh, makanya aku jadi jarang menulis? Atau karena aku jarang menulis hingga kamu menjauh? Rasanya aku ingin mengejarmu, tapi kutakut kamu sebenarnya tak di depanku tapi di belakangku. Itu artinya aku harus mundur kebelakang untuk mencarimu. Sepertinya sudah cukup lama waktu kita terpisah. Rasanya sekarang aku tak baik-baik saja. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/10/how-are-you/">How Are You</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hai&#8230; apa kabarmu?<br />
Lama aku tak membaca kabarmu. Apa kamu baik-baik aja? Masih suka menuliskan mimpimu? 2026 sekarang, rasanya aku kehilangan dirimu yang dulu selalu jadi teman ceritaku. Apakah karena kamu jauh, makanya aku jadi jarang menulis? Atau karena aku jarang menulis hingga kamu menjauh?</p>
<p>Rasanya aku ingin mengejarmu, tapi kutakut kamu sebenarnya tak di depanku tapi di belakangku. Itu artinya aku harus mundur kebelakang untuk mencarimu. Sepertinya sudah cukup lama waktu kita terpisah. Rasanya sekarang aku tak baik-baik saja. Karena itu kuputuskan untuk menulis ini untukmu.</p>
<p>Aku yakin kau akan sedih dan kecewa jika tau saat ini aku merasa diriku tidak luar biasa. Jika kau tau saat ini aku merasakan perasaan yang dulu mati-matian kau perjuangkan untuk pergi malah bergelantungan dihatiku.</p>
<p>Apakah kau akan kecewa padaku?<br />
Apakah kau akan sedih melihatku?<br />
Atau kau akan berkata tak apa-apa, jika dulu bisa maka sekarang bisa.<br />
Tenang saja, semua hanya sementara, nanti kita lewati ini.</p>
<p>Aku sepertinya sangat merindukanmu. Sekarang aku sedang menyusun peta untuk menemukanmu. Setahun hampir berlalu, kuharap kau tak terlalu jauh.<br />
Aku ingin belajar menerima ini dulu agar nanti saat kita berjumpa, aku merasa aku sudah jadi luar biasa seperti biasa.</p>
<p>Oh iya, aku sudah mengusahakannya, jadi aku yakin nanti ada ujungnya. Aku harap kau tak terlalu kecewa. Dulu titik ini sudah kita lewati berkali-kali. Kali ini mari temani aku lagi. Kau tau, sekarang ada orang kesayanganku yang selalu memintaku menemuimu. Sudah lama dia tanyakan, tapi aku masih enggan. Apakah kau tau kenapa?</p>
<p>Aku merasa kau tak sepenting itu, tapi ternyata kau sangat berharga. Jadi kurasa sekarang belum terlambat bagiku untuk berjumpa lagi denganmu. Bersiaplah, agar versi terbaikku saat ini bisa dengan bangga menjumpaimu.</p>
<h3>Hai Diriku</h3>
<p>Hai diriku yang dulu, yang rajin menulis dan bercerita, selalu penuh semangat dan percaya diri, yang selalu ingin memberikan hal terbaik yang kamu bisa, yang bersinar bercahaya bagi orang sekitarnya. Mari kita bertemu lagi. Mungkin tidak segera, tapi aku merindukanmu.</p>
<p>Sekarang ada perasaanku, tanpamu aku tidak berharga. Sampai bulan lalu seseorang berkata padaku &#8220;Berhentilah sebentar, periksa lagi petamu agar tak tersesat&#8221;.  Akan kuusahakan hadir sepenuh hati agar bisa menulis setiap hari.</p>
<p>Kesayanganku berkata, mulailah menulis buku. Aku masih takut dan ragu, tapi jika aku tak mulai maka aku tak akan berjumpa denganmu. Jadi inilah titik mulaiku.</p>
<p>Sampai jumpa.</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/10/how-are-you/">How Are You</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.ekamustikasari.com/2026/10/how-are-you/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3465</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Selamat Datang Usia Empat Puluh Tahun</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/03/selamat-datang-usia-empat-puluh-tahun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2026 13:50:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Umi Journeys]]></category>
		<category><![CDATA[2026]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[umijourney]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3448</guid>

					<description><![CDATA[<p>MasyaAllah tabarakallah, hari ini aku sudah memasuki usia ke-40 tahun. Tahun lalu saat melihat di lingkaranku ada yang memasuki usia 40 tahun ustadzahku mengingatkan sebuah doa dan doa itu ku ingat sampai hari ini. Kenapa ada doa menyambut usia 40 tahun? Karena sepenting itu usia 40 tahun menuju gerbang yang lebih penuh tanggung jawab luas. Di saat ustadzah menanyakan apakah kamu sudah membaca doa menyambut usia 40 tahun,&#160; aku pun bertanya-tanya mengapa dalam Islam usia 40 tahun itu sangat penting? [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/03/selamat-datang-usia-empat-puluh-tahun/">Selamat Datang Usia Empat Puluh Tahun</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">MasyaAllah tabarakallah, hari ini aku sudah memasuki usia ke-40 tahun. Tahun lalu saat melihat di lingkaranku ada yang memasuki usia 40 tahun ustadzahku mengingatkan sebuah doa dan doa itu ku ingat sampai hari ini. Kenapa ada doa menyambut usia 40 tahun? Karena sepenting itu usia 40 tahun menuju gerbang yang lebih penuh tanggung jawab luas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat ustadzah menanyakan apakah kamu sudah membaca doa menyambut usia 40 tahun,&nbsp; aku pun bertanya-tanya mengapa dalam Islam usia 40 tahun itu sangat penting? Ternyata karena usia 40 tahun itu Allah catatkan dalam Alquran,&nbsp; Allah ingatkan dalam ayat ini agar semua umat memahami nya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Seharian ini aku mengulang-ngulang ayat tersebut, di bulan Ramadan yang indah ini aku memasuki usia 40 tahun dan aku yakin 40 itu bukan angka biasa. Waktu nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menerima wahyu pertamanya dia berusia 40 tahun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak ku baca ternyata kita diingatkan betapa usia 40 tahun itu merupakan sebuah gerbang baru yang benar-benar luar biasa, bagaimana suamiku juga mengingatkanku bahwa 40 tahun itu tanda aku sudah sangat sangat dewasa maka aku harus lebih tenan, lebih sadar dan lebih memilih hal-hal dengan logika yang bijaksana. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin karena Allah sudah mengingatkan dalam Alquran maka para ulama juga menyampaikan bahwa 40 tahun itu merupakan masa kematangan akal dan kebijaksanaan. Aku merasa bahwa diriku sendiri masih jauh dari kematangan akal dan kebijaksanaan itu terutama dalam menghadapi diriku sendiri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Berapa hari yang lalu aku baru saja resmi 11 tahun bertumbuh menjadi seorang ibu bersama anaknya. Aku berharap dapat menjadi ibu yang bisa mendampingi anak-anak dengan rasa hormat jika Allah tanya nanti. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di usia 40 tahun telah banyak ragam ujian yang aku lewati. Apakah segala ujian-ujian dan kebahagiaan-kebahagiaan yang Allah berikan padaku memberikan aku kebijaksanaan tetap makanan dalam berpikir? Entahlah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang pasti aku tahu memasuki usia 40 tahun ini aku benar-benar telah dibimbing banyak oleh suamiku untuk menjadi sosok pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya.&nbsp; Aku benar-benar di bimbing untuk jadi lebih sabar,&nbsp; lebih tenang serta berusaha sadar dalam setiap tindakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tadi saat santai setelah tarawih (kami punya kebiasaan ngemil ngobrol bareng setelah tarawih), aku mengecek 100 mimpi yang pernah ku tulis di dalam buku harianku.&nbsp; Aku membacakan 100 mimpi itu di hadapan suami dan anak-anakku sambil men ceklis ternyata telah banyak mimpi yang terwujud namun aku lupa menghitung jumlah yang sudah terwujud. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah setelah masuk di usia 40 tahun ini aku akan punya lebih banyak mimpi? Tentu saja karena mimpi itu adalah bagian dari tujuan kehidupan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti aku yang dulu, yang selalu menuliskan impian 5 tahun dan 10 tahunku, maka sekarang Aku ingin menuliskan sebuah pesan untuk diriku yang mungkin&nbsp; ku baca lagi Jika Allah berikan aku kesempatan berusia panjang maka aku ingin baca pesan ini 10 tahun lagi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk diriku 10 tahun ke depan terima kasih sudah terus melangkah di jalan kebaikan.&nbsp; Tak perlu semua orang melihat apa yang telah dilakukan apabila jumlah Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang maha melihat telah memberikanmu banyak ganjaran yang membahagiakan. Terima kasih walaupun terseok-seok engkau tetap bertumbuh dan mencoba untuk bermanfaat dalam hidup mu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu adalah pesan untuk diriku sendiri saat ini angar tetap terus tumbuh dan bermanfaat sehingga jika pada akhir usiaku nanti aku bisa menemui Allah dengan bermartabat. Selanjutnya Tak bisa ku paksakan orang yang tak menyukaiku untuk melihat Apa yang kau lakukan. Dan tak butuh ku pujian dari siapapun, karena jika dia mencintaiku Aku yakin dia akan mendukung ku, apapun yang kulakukan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak ada urusan yang mudah jika tidak Allah yang memudahkan Aku berharap semoga Allah mudahkan segala impian ku untuk terus bertumbuh dan bermanfaat hingga akhir usiaku. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Masuk di usia 40 tahun ini aku ingin mengatakan pada diriku sendiri: tak ada yang perlu kau sesali dalam perjalanan 40 tahun ini. Saat ini kita benar-benar telah tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Tak perlu juga kau tangisi hal-hal kecil yang bisa kau maafkan dengan lapang hati. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Barakallah fii umrik. Semoga diri ini dapat terus menjadi teladan yang baik untuk anak-anak, tempat pulang terbaik bagi suami. Barakallah fii umrik.&nbsp; Mari lebih sering memeluk diri sendiri&nbsp; agar hatimu lebih ringan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Osaka Jepang &#8211; 3 Maret 2026</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/03/selamat-datang-usia-empat-puluh-tahun/">Selamat Datang Usia Empat Puluh Tahun</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3448</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sebelas Tahun Menjadi Ibu</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/03/sebelas-tahun-menjadi-ibu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2026 02:34:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqila]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Umi]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Umi Journeys]]></category>
		<category><![CDATA[2026]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Jadi Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/2026/03/sebelas-tahun-menjadi-ibu/</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, sudah memasuki bulan Maret 2026. Hari ini tanggal 1 Maret, dan kemarin, tanggal 28 Februari, adalah hari ulang tahun Khadijah Aqila Mufasa.Hari lahir Aqila berarti adalah hari pertama aku menjadi ibu. Artinya, kemarin sudah 11 tahun aku resmi menjadi seorang ibu.Sejak lama aku pahami, menjadi ibu dari anak yang menuju baligh dan remaja itu tidak mudah. Saat menghadapinya, hatiku tetap merasa kembang kempis dan bertanya, apakah aku sanggup menjalaninya dengan baik. Sejak lama aku pahami, menjadi ibu dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/03/sebelas-tahun-menjadi-ibu/">Sebelas Tahun Menjadi Ibu</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Bismillahirrahmanirrahim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alhamdulillah, sudah memasuki bulan Maret 2026. Hari ini tanggal 1 Maret, dan kemarin, tanggal 28 Februari, adalah hari ulang tahun Khadijah Aqila Mufasa.<br>Hari lahir Aqila berarti adalah hari pertama aku menjadi ibu. Artinya, kemarin sudah 11 tahun aku resmi menjadi seorang ibu.<br>Sejak lama aku pahami, menjadi ibu dari anak yang menuju baligh dan remaja itu tidak mudah. Saat menghadapinya, hatiku tetap merasa kembang kempis dan bertanya, apakah aku sanggup menjalaninya dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br>Sejak lama aku pahami, menjadi ibu dari anak yang menuju baligh dan remaja itu tidak mudah. Saat menghadapinya, hatiku tetap merasa kembang kempis dan bertanya, apakah aku sanggup menjalaninya dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Banyak sekali obrolan yang aku lakukan dengan suamiku tentang bagaimana kami akan mengarahkan dan mendidik anak-anak kami menuju dewasanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Hal penting yang aku bahas bersama suami adalah jika ada luka di masa lalu (tepatnya mungkin lukaku, karena aku yakin suamiku tak punya luka), maka jangan sampai luka seperti itu diwariskan pada anak-anak kami dan diwariskan ke cucu kami.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Mungkin bagi orang lain ini bukan topik yang berat, tapi bagiku ini cukup menantang dan cukup butuh keberanian besar untuk membahasnya lebih dalam lagi. Rasanya sulit untuk melanjutkan tulisan ini tanpa meneteskan air mata.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Salah satu yang aku takutkan saat anak-anak kami dewasa adalah kami tidak sehati, semakin berkurangnya cinta di antara kami, menipisnya kasih sayang, serta kurangnya interaksi seiring bertambahnya usia mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Sedangkan harapanku adalah semakin dekatnya cinta kami, semakin bertumbuhnya kasih sayang yang kami miliki walaupun anak-anak sudah dewasa, menua, dan hidup bersama pasangan mereka masing-masing. Harapan yang gak muluk-muluk bagiku.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Sama seperti saat mempersiapkan diri saat menikahi suamiku dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendebarkan hati untuk dijawab, saat ini aku juga mempersiapkan diri untuk mendampingi perjalanan anak-anak menuju dewasa dengan menyiapkan banyak pertanyaan untuk diriku.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Satu keyakinan dan satu kepastian yang nyata adalah bahwa tidak mungkin jalanku menjadi ibu bagi anak-anak bisa dilakukan dengan mudah tanpa bimbingan Allah SWT.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Berdoa pada Allah agar dibimbing dalam mendidik anak, agar tetap tumbuh cinta dan kasih sayang di dalam keluarga.<br />Mengapa sampai ada harapan-harapan seperti ini? Karena aku tumbuh di dalam keluarga yang keras. Walaupun begitu, kasih sayang di antara kami tetap tumbuh. Namun tak bisa dipungkiri jika mungkin tetap ada luka yang tak terlihat atau mungkin tak ingin diakui.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Hal-hal seperti itulah yang tak ingin terjadi pada anak-anak kami kelak. Karena itu, selalu jadi obrolan antara aku dan suami bagaimana kami berusaha untuk menjaga atmosfer kasih sayang dan cinta kasih di dalam keluarga.<br /><br />Sekali lagi aku berharap aku bisa bertumbuh menjadi ibu yang lebih baik setiap harinya. Aku tidak tahu apakah indikator ibu yang baik itu sama bagi setiap orang, tapi aku berharap fitrah cintaku sebagai seorang ibu mengakar kepada anak-anakku.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />&#8212; </p>



<p class="wp-block-paragraph"><br />Untuk Khadijah Aqila Mufasa, anakku tersayang, selamat menyambut usia balighmu ya, sayang. Umi berharap kita selalu bisa menjadi sahabat terbaik sepanjang masa.<br /><br />Semoga Allah mudahkan segala langkah, cita-cita, dan impian baik Aqila. Allah terangi jalan Aqila dengan ilmu yang bermanfaat. Allah pertemukan Aqila dengan orang-orang baik yang selalu memberikan cahaya kebaikan di sekeliling Aqila.<br /><br />Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu. Jadikan Allah sebaik-baik penolong dalam segala keadaanmu.<br />Maafkan jika masih banyak salah dan kurangnya Umi sebagai seorang ibu. Sesungguhnya setiap hari adalah hari belajar bagi Umi.<br /><br />I love you, sayangku. <br />Barakallahu Fii Umrik <br /><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/2764.png" alt="❤" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/2764.png" alt="❤" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /><br /><br />Osaka, 1 Maret 2026</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/03/sebelas-tahun-menjadi-ibu/">Sebelas Tahun Menjadi Ibu</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3445</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Persiapan Pindah ke Jepang: Mencari Tiket dan Bekal Berangkat</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/02/persiapan-pindah-ke-jepang-mencari-tiket-dan-bekal-berangkat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 15:41:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3440</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mencari tiket ke pesawat ke Jepang ternyata tidak semudah memilih tiket perjalanan dalam negeri. Walau suamiku sudah di Jepang tapi aku tetap mencari tiket sendiri. Sebenarnya bukan tiket sendiri, tapi tiket berlima untuk ku, tiga anakku dan adikku yang mengantarkan ku ke Jepang dikarenakan suamiku tidak bisa menjemput. Setelah pulang dari mengurus visa aku baru mulai memantau harga tiket setiap hari. Sebelumnya aku masih merasa perjalanan ini belum nyata, dan masih seperti angan-angan bagiku. Pilihan Tiket tak Sesuai Harapan Kota [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/persiapan-pindah-ke-jepang-mencari-tiket-dan-bekal-berangkat/">Persiapan Pindah ke Jepang: Mencari Tiket dan Bekal Berangkat</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Mencari tiket ke pesawat ke Jepang ternyata tidak semudah memilih tiket perjalanan dalam negeri. Walau suamiku sudah di Jepang tapi aku tetap mencari tiket sendiri. Sebenarnya bukan tiket sendiri, tapi tiket berlima untuk ku, tiga anakku dan adikku yang mengantarkan ku ke Jepang dikarenakan suamiku tidak bisa menjemput. Setelah pulang dari mengurus visa aku baru mulai memantau harga tiket setiap hari. Sebelumnya aku masih merasa perjalanan ini belum nyata, dan masih seperti angan-angan bagiku.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Pilihan Tiket tak Sesuai Harapan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kota tempat tinggal kami tepat berada di sebelah Singapura. Hal inilah yang memudahkan ku untuk memilih penerbangan melalui Singapura. Banyak sekali penerbangan menuju Jepang dari Singapura. Sebelumnya karena di biayai keberangkatan suamiku dari Jakarta. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Berangkat dengan membawa tiga orang anak dengan usia beragam dan dibawah 10 tahun membuatku harus memikirkan jam penerbangan yang tepat. Jangan sampai terburu-buru dan jangan sampai juga menghabiskan terlalu banyak waktu di perjalanan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah pencarian beberapa hari, akhirnya pilihan jatuh ke China Eastern Airlines, penerbangan ini berangkat dari Singapura dengan transit di Shanghai lalu menuju Jepang. Waktu penerbangan sore hari, jadi aku bisa berangkat pagi dari kotaku menuju Singapura menggunakan Ferry. Itu adalah rencana yang kususun sebelum berangkat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi ternyata, semua rencana kita belum tentu sesuai kenyataannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Bekal yang Tak Cukup di Perjalanan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu yang paling penting dan terlalu santai ku persiapkan adalah bekal di perjalanan. Aku tidak menghitung dengan tepat kebutuhan makan anak-anak. Aku membawa banyak camilan ringan yang ternyata tidak termakan  dan tidak sempat memakannya. Namun aku kurang banyak membawa makanan berat yang mencukupi nutrisi mereka di perjalanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini menjadi salah satu hal yang paling aku <em>notice </em>ke depannya untuk setiap perjalananku berikutnya, baik perjalanan liburan maupun perjalanan antar negara. Anak-anak terbiasa dengan jam makan teratur dengan makanan berat. Tidak seperti orang dewasa yang  mungkin santai jika jam makan tertunda atau bisa di &#8220;sogok&#8221; dengan camilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi tidak anak-anakku. Mereka rewel karena aku kurang banyak membawa makanan berat. Sedangkan kami transit di negara non muslim dan ternyatanya kami sampaid di jam makan malam dan mereka ingin makanan berat. Kesalahan terbesar Umi sih ini. Maafkan aku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun dari perjalanan itu, aku akhirnya membuat beberapa pegangan sederhana untuk diriku sendiri  dan siapa tahu bisa menjadi pengingat juga bagi ibu lain yang akan bepergian jauh bersama anak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Tips menyiapkan bekal perjalanan bersama anak</h2>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bawa sedikit lebih banyak dari yang terasa perlu.<br>Dalam perjalanan jauh, “kelebihan sedikit” jauh lebih menenangkan daripada kekurangan. </li>



<li>Prioritaskan makanan berat, bukan hanya camilan. (sesuaikan dengan kebiasan anak)<br>Camilan memang praktis, tetapi rasa kenyang memberi efek tenang yang jauh lebih panjang untuk tubuh maupun emosi anak.</li>



<li>Bawa makanan yang sudah familiar.<br>Perjalanan panjang bukan waktu terbaik untuk &#8220;nyoba-nyoba&#8221; atau &#8220;disana aja nanti&#8221;. Makanan yang mereka kenal terasa seperti “rumah kecil” di tengah tempat asing.</li>



<li>Hitung perjalanan berdasarkan jam makan anak.<br>Jika waktu terbang atau transit melewati jam makan utama, anggap itu sebagai waktu makan sungguhan bukan sekadar jeda camilan.</li>



<li>Jangan terlalu bergantung pada makanan bandara atau pesawat. (ini kesalahan aku banget ini).<br>Terutama saat transit di negara non-muslim atau ketika pilihan makanan terbatas.</li>



<li>Simpan makanan di tas kabin, bukan di koper.<br>Lapar tidak bisa menunggu bagasi datang <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></li>



<li>Amati tanda lapar sebelum anak mengatakannya.<br>Anak yang mulai rewel, sensitif, atau sulit diatur sering kali bukan sedang “bermasalah” mereka hanya kehabisan energi.</li>
</ol>



<h2 class="wp-block-heading">Pelajaran Berharga Bagiku</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata persiapan pindah ke Jepang tidak hanya soal visa, tiket, atau koper. Aku justru belajar banyak tentang diriku sendiri. Mulai dari aku yang berangkat pagi dari Batam ke Singapura. Aku dan adikku yang membongkat bagasi di Singapura karena tidak seimbang, koperku ke beratan sedangkan koper anak-anak kurang. Jadi harus di cocokkan pertiket.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makanan yang tidak disukai anak-anak, terlewat tempat sholat di Singapura, hingga kami sholat di kursi ruang tunggu. Aku sadar banget tidak semua hal bisa dipersiapkan dengan sempurna. Akan selalu ada yang terlupa, salah hitung, atau kurang. Tapi di situlah aku mengerti, melewati perjalanan sendiri dengan tiga anak memang bukan hal mudah. Walau sudah ada support system yang menemaniku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di pesawat waktu itu, saat anak-anak akhirnya tertidur, aku menatap mereka sebentar dan berpikir hidup kami benar-benar akan berubah. Rasanya campur aduk. Setelah kami kedinginan di ruang tunggu Shanghai, tertahan lama di imigrasi Shanghai karena aku belum mengisi izin masuk. Akhirnya di perjalanan ke Jepang kami mereka semua tertidur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku bahagia sekarang kami sudah berkumpul sekeluarga di Jepang. Tapi perjuanganku membawa ke tiga anakku menyusul suamiku ke negeri jauh, adalah sesuatu yang kubanggakan sebagai pencapaian ku di 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan untuk para ibu lain yang sedang menyiapkan perjalanan besar bersama keluarganya, aku ingin bilang tidak apa-apa jika kamu masih merasa ragu. Tidak apa-apa jika belum terasa siap. Kita akan belajar sambil berjalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga ada sedikit pelajaran dari tulisanku kali ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eka &#8211; Osaka 6 Februari 2025</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/persiapan-pindah-ke-jepang-mencari-tiket-dan-bekal-berangkat/">Persiapan Pindah ke Jepang: Mencari Tiket dan Bekal Berangkat</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3440</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Persiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/02/persiapan-pindah-ke-jepang-mengurus-visa-mandiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2026 15:25:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3436</guid>

					<description><![CDATA[<p>Persiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri. &#8211; Akhir tahun lalu, aku dan anak-anak menyusul suami untuk pindah ke Jepang. Jika ada yang bertanya apa saja persiapanku untuk pindah ke Jepang? Aku bakal jawab di tulisanku kali ini secara lengkap, insyaAllah. Kupikir dulu yang penting hanyalah visa dan tiket. Setelah itu, semuanya pasti mengalir begitu saja. Ternyata tidak. Persiapan pindah ke negara lain bukan hanya soal dokumen dan koper. Ada banyak hal kecil yang awalnya terlihat sepele tapi justru menentukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/persiapan-pindah-ke-jepang-mengurus-visa-mandiri/">Persiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">P<strong>ersiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri</strong>. &#8211; Akhir tahun lalu, aku dan anak-anak menyusul suami untuk pindah ke Jepang. Jika ada yang bertanya apa saja persiapanku untuk pindah ke Jepang? Aku bakal jawab di tulisanku kali ini secara lengkap, insyaAllah. Kupikir dulu yang penting hanyalah visa dan tiket. Setelah itu, semuanya pasti mengalir begitu saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persiapan pindah ke negara lain bukan hanya soal dokumen dan koper. Ada banyak hal kecil yang awalnya terlihat sepele tapi justru menentukan apakah perjalanan kita akan terasa ringan atau melelahkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Berangkat Ke Konjen Jepang di Medan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mengajukan visa ke Konsulat Jenderal Jepang di Medan. Bermodalkan petunjuk yang dikirimkan suamiku melalui whatsapp, aku berangkat ke Medan sendirian. Sebelum berangkat ada banyak pertanyaan dalam kepalaku. Apakah aku harus membawa anak-anak seperti mengurus pasport? Apakah aku bisa mengurusnya sendiri? Apakah nanti akan ada calo? Bagaimana jika biayanya berubah. Pokoknya banyak sekali itu pertanyaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mencoba mencari di media sosial. Yang aku dapatkan adalah, orang yang mengurus via calo dengan biaya sekian. Tak perlu datang tapi visanya jadi. Minimnya informasi di media sosial, aku mengandalkan informasi dan petunjuk dari suamiku saja. Aku membeli tiket pesawat dari Batam dengan tujuan Kuala Namu. Dari airport aku melanjutkan perjalanan dengan kereta api rencananya menuju hotel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku datang dengan pesawat pagi, sebelum jam makan siang aku sudah sampai di Kuala Namu. Aku memutuskan untuk makan siang di bandara. Suamiku mengatakan aku bisa naik ojek langsung ke tempat pengurusan visa karena tutup jam 4 sore. Tapi zonk nya adalah aku salah alamat. Ini bingung antara mau menangis atau mau ketawa.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Salah Alamat karena Kurang Komunikasi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tanpa bertanya lagi pada suamiku, aku mengetikkan di aplikasi ojek alamat konjen Jepang. Gojekpun sampai dan mengantarkan ku dengan selamat. Aku disambut security yang tidak ramah dan bukan security standar BCA. Aku bertanya di mana konjen Jepang. Mereka mengatan di lantai atas, tapi ada keperluan apa? Aku menjawab ingin mengurus visa izin tinggal. Ternyata, aku mendatangi tempat yang mengurus khusus beasiswa dan mahasiswa yang akan kuliah ke Jepang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lha&#8230; kok salah alamat. Okelah mari kita tuju kantor yang sebenarnya. Ternyata aku miskon dengan pak suami. Selanjutnya aku pesan gojek lagi. Kali ini aku sama ojeknya saling mencari. Aku menuggu di pintu A ternyata terpilih di map pintu B. Karna tak enak hati, akupun berlari ke pintu B. Ternyata ojeknya menyusulku kepintu A. Lalu aku yang bingung di telpon ingin balik lagi ke pintu A. Sampai bang gojeknya bilang &#8220;BU, tolong diam disana aja ya, jangan pindah, biar saya yang nyari ibu&#8221;. Part satu zonk aku di Medan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya sampai jugalah aku di gedung aslinya. Ternyata di mall, aku bertanya pada security di mana tempat pengurusan visa Jepang. Setelah di jelaskan akupun mencari tempatnya. Dan terjadilah zonk yang ke dua. Tepat aku sampai di depan pintu nya tepat security menutup pintu penerimaan layanan karena sudah jam 4. Heeiii aku lho telat semenit.  Akupun tetap diminta untuk datang lagi besok pagi. Akhirnya aku balik kanan dan langsung menuju hotel. Ternyata hotel yang dipilihkan suamiku tepat berada di seberang tempat pengurusan. Besoknya aku agak siang datang ke konsulat, soalnya mau nyari sarapan dulu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesampainya di Konsulat Jenderal Jepang di Medan, ternyata suasananya jauh dari bayanganku. Tidak menakutkan. Tidak rumit. Tidak juga penuh tekanan seperti yang sering diceritakan orang. Alhamdulillah pengurusan visa berjalan mudah, semua COE sudah di siapkan oleh pak suamiku. Semuanya dijadikan dalam 1 folder dan aku tinggal memprint. Aku menyerahkan semua kelengkapan dan tak sampai 1 jam  (dengan antrian) aku sudah menyelesaikan administrasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Biaya sesuai yang tercantum, karena aku diluar kota aku juga membayar biaya ongkir karena pasport akan dikirimkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"> Semuanya terasa mudah karena petugasnya jelas, alurnya rapi, dan yang paling melegakan semuanya transparan. Tidak ada calo yang mendekat, tidak ada biaya tiba-tiba, tidak ada kebingungan yang dibiarkan menggantung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan satu hal yang sempat kupikir akan merepotkan ternyata tidak terjadi yaitu aku tidak perlu membawa anak-anak. Selama dokumen lengkap, pengajuan bisa dilakukan sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Kekhawatiran yang Ku Ciptakan Sendiri</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di ruang tunggu itu aku sempat menarik napas panjang tepatnya napas lega yang mungkin hanya dipahami oleh ibu-ibu yang sedang membawa keluarganya menuju perubahan besar dalam hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat itulah aku sadar, sering kali yang melelahkan bukan prosesnya, melainkan bayangan-bayangan yang kita ciptakan sebelum menjalaninya. Media sosial kadang membuat segalanya terlihat lebih rumit atau lebih mahal dari yang sebenarnya. Padahal beberapa hal dalam hidup memang hanya perlu keberanian kecil untuk memulai. Dan hari itu, aku pulang bukan hanya dengan tanda terima pengajuan visa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku pulang dengan versi diriku yang sedikit lebih berani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedikit lebih percaya bahwa aku bisa mengurus hal-hal besar bahkan ketika harus melangkah sendiri. Good job Eka. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk teman-teman yang sedang mempersiapkan diri menyusul suami ke luar negeri, jangan terlalu bayak melihat media sosial yang informasinya tidak terjamin akurat. Kecuali kamu memang percaya. Jika kita tidak mencoba sendiri kita tidak akan tau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita Perjalanan Ku Lanjutkan di postingan selanjutnya ya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eka &#8211; Osaka 5 Februari 2026</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/persiapan-pindah-ke-jepang-mengurus-visa-mandiri/">Persiapan Pindah ke Jepang: Mengurus Visa Mandiri</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3436</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Merayakan Hari Membacakan Nyaring Sedunia 2026 di Negeri Sakura</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/02/membacanyaring/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2026 12:43:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3428</guid>

					<description><![CDATA[<p>Selamat hari membacakan nyaring sedunia. Pertama kalinya sejak Batam Read Aloud hadir di tahun 2020 lalu, aku merayakan hari membacakan nyaring sedunia jauh dari komunitas. Tahun 2020 begitu banyak komunitas membaca nyaring hadir di Indonesia, termasuk Komunitas Batam Read Aloud. Merayakan hari membacakan nyaring jauh dari komunitas yang kucintai terasa sungguh sunyi dan berbeda. Biasanya perayaan hari membaca nyaring sedunia kami rayakan dengan berbagai acara dan kegembiraan. Hari Membacakan Nyaring Sedunia Mengapa orang-orang merayakan hari membacakan nyaring sedunia? Hari Membaca [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/membacanyaring/">Merayakan Hari Membacakan Nyaring Sedunia 2026 di Negeri Sakura</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Selamat hari membacakan nyaring sedunia. Pertama kalinya sejak Batam Read Aloud hadir di tahun 2020 lalu, aku merayakan hari membacakan nyaring sedunia jauh dari komunitas. Tahun 2020 begitu banyak komunitas membaca nyaring hadir di Indonesia, termasuk <a href="https://www.instagram.com/readaloudbatam">Komunitas Batam Read Aloud.</a> Merayakan hari membacakan nyaring jauh dari komunitas yang kucintai terasa sungguh sunyi dan berbeda. Biasanya perayaan hari membaca nyaring sedunia kami rayakan dengan berbagai acara dan kegembiraan.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Hari Membacakan Nyaring Sedunia</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa orang-orang merayakan hari membacakan nyaring sedunia? Hari Membaca Nyaring Sedunia (World Read Aloud Day) 2026 selalu diperingati pada hari Rabu pertama bulan Februari setiap tahunnya, yang di tahun 2026 ini jatuh pada tanggal 4 Februari 2026. Perayaan ini merupakan perayaan global yang menyoroti pentingnya membaca dengan suara nyaring sebagai cara membangun literasi, koneksi, dan kecintaan terhadap cerita. Sehingga lama kelamaan bisa menumbuhkan cita pada buku dan membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun perayaan ini di persembahkan bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk seni dan praktik membaca nyaringitu sendiri. Aku percaya membaca nyaring ini merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak sebelum tulisan yang kita gunakan saat ini ditemukan sehingga menjadikan membaca nyaring sebagai salah satu cara manusia mewariskan pengetahuan. Saat membayangkan setiap peristiwa ini di zaman dulu aku selalu merasa kagum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perayaan WRAD ini sendiri di inisiasi oleh organisasi literasi <strong>LitWorld </strong>pada tahun 2010 untuk merayakan kekuatan cerita, membangun komunitas, serta memperjuangkan dan mendukung literasi sebagai hak dasar manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><em>Celebrate Learning</em> (Rayakan Pembelajaran)</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tema tahun ini sungguh luar biasa, yaitu <em>Celebrate Learning</em>” (Rayakan Pembelajaran). Tema ini sungguh berkesan buatku sebagai ibu yang menjalani <em>homeschooling </em>dan mendampingi anak-anakku belajar dirumah dengan selalu di iringi kegiatan membacakan nyaring. Membaca nyaring memang bukanlah hanya kegiatan membaca yang menyenangkan tapi juga menjadi sarana yang ampuh untuk belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku sungguh merasakan betapa membacakan nyaring memberikan banyak dampak dalam aktivitas belajar anak-anak dirumah. Mulai dari meningkatkan kosakata pada anak-anak, keterampilan anak untuk  mendengar yang dibangun secara bertahap, empatinya terbentuk, dan ikatan kasih sayang antara aku dan anak-anak juga semakin kuat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak yang selalu dibacakan buku cerita, menjadi ketagihan dalam mendengarkan cerita-cerita yang menyenangkan. Karena itulah, jika sehari tanpa dibacakan nyaring, anak-anak mulai nggak tahan dan menagih terus menerus.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Batam Read Aloud Tempat Tumbuhku</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang aku merindukan komunitas tercintaku, Batam Read Aloud. Komunitas ini hadir karena mimpi harapan dan cita-citaku. Dulu, aku hanya seorang ibu yang membacakan buku untuk anak-anakku setiap hari. Tidak ada niat besar, tidak ada rencana apa-apa. Pokoknya aku hanya ingin menemani anak-anakku. Membaca buku menjadi salah satu kegiatan yang sering kulakukan, kadang sebelum tidur, kadang di sela sore yang tenang, kadang pagi setelah sarapan. Aktivitas membaca nyaring selalu menjadi bagian dalam keseharian kami.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi semakin sering kami membaca, aku mulai menyadari sesuatu. Membaca nyaring bukan cuma tentang buku. Ada percakapan kecil setelahnya, ada tawa, ada beragam pertanyaan polos yang tak terpikirkan oleh ku, bahkan ada diam yang terasa hangat. Sampai akhirnya aku mengikuti pelatihan membacakan nyaring. Di situ aku paham, banyak sekali manfaat dari kegiatan yang kulakukan ini. Kelak juga, mungkin yang diingat anak-anakku malah bukan judul bukunya. Bisa jadi yang tinggal mereka ingat justru adalah suaraku, kedekatan kami, kehangatan dan tawa, serta perasaan bahwa mereka ditemani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah pelatihan ku selesai, aku berpikir, kalau membaca bisa sehangat ini untuk anak-anakku… mungkin ada anak-anak lain yang juga membutuhkannya.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Tidak semua anak punya akses pada buku bermutu.<br>Tidak semua anak terbiasa dibacakan cerita.<br>Dan tidak semua anak punya moment tenang untuk sekadar mendengarkan dan tatapan menyenangkan.</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Dari pikiran sederhana itu, pelan-pelan muncul keberanian untuk bermimpi: bagaimana kalau ada komunitas membaca nyaring? Tempat anak-anak bisa datang, duduk bersama, mendengarkan cerita, lalu pulang dengan hati yang sedikit lebih penuh. Dulu memimpikan ini saja hatiku sudah bahagia sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tidak membayangkan akan mengejar sesuatu yang besar (seperti yang saat ini ada). Jujur saja, aku hanya ingin bisa membacakan lebih banyak cerita tapi kali ini dengan lebih banyak anak dan banyak tempat. Aku ingin anak-anak itu bisa ikut merasakan dibacakan buku itu semenyenangkan ini. Aku ingin lebih banyak anak yang mendengar buku-buku seru dan bermutu yang mungkin tak bisa mereka beli.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena aku percaya, membaca nyaring itu bukan tentang terdengar pintar atau terlihat edukatif. Ini tentang hadir. Tentang memberi waktu. Tentang mengatakan tanpa banyak kata, “aku di sini bersamamu.”. Saat Batam Read Aloud tumbuh akhirnya aku bisa melihatnya sendiri, binar-binar dimata anak-anak itu sungguh terasa hangat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga suatu hari nanti, semakin banyak anak yang tumbuh dekat dengan buku, dekat dengan cerita, dan dekat dengan orang-orang yang mau meluangkan suara untuk mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan kalau ada yang bertanya kenapa ini penting bagiku, jawabannya sederhana: sering kali, harapan anak-anak tumbuh dari hal-hal kecil salah satunya dari seseorang yang bersedia duduk dan membacakan cerita untuk mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selamat hari membacakan nyaring sedunia dari Osaka, Jepang. Walaupun aku tidak merayakan dengan hiruk pikuk keseruan itu disini aku tetap merasakan kebahagiaannya. Teruslah membacakan buku, teruslah menebarkan semangat ini. Percayalah setiap suara dan waktu yang kau sediakan untuk anak-anakmu akan jadi memori indah untuk mereka. Lalu pengetahuan, perkembangan sosial-emosional, kemampuan berpikir kritis, dan kecintaan pada buku dan membaca itu adalah bonusnya saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hai teman-teman komunitas Batam Read Aloud, walau kadang langkahmu tak mudah,semangatmu naik turun tapi percayalah akan hadir kebahagian-kebahagian kecil dari anak-anak yang dibacakan nyaring, dari ibu-ibu yang baru mengenal membacakan nyaring dan itu akan Allah hitung sebagai pahala yang mengalir tiada hentinya untukmu. <strong>Ganbatte ne-がんばってね</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Eka- Osaka 2 Februari 2026</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/membacanyaring/">Merayakan Hari Membacakan Nyaring Sedunia 2026 di Negeri Sakura</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3428</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kadang Kita Terlalu Keras Pada Diri Sendiri</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/02/kadang-kita-terlalu-keras-pada-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2026 16:05:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3425</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kadang Kita Terlalu Keras Pada Diri Sendiri. Menjadi dewasa ku kira itu mudah. Tapi saat kujalani ternyata semua berliku, bahkan untuk memahami emosiku sendiri kadang aku masih kesulitan. Dewasa yang kumaksud adalah dewasa secara emosi. Hingga tahun lahirku memasuki tahun ke 40 ini aku masih merenungkan ada arti kedewasaan emosi itu. Saat menulis inipun aku masih sulit menjelaskan emosiku hari ini. Aku tak suka, tapi tak sepenuhnya bisa mengungkapkannya. Apa benar aku belum dewasa secara emosi? Kurasa sepertinya iya. Jika [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/kadang-kita-terlalu-keras-pada-diri-sendiri/">Kadang Kita Terlalu Keras Pada Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Kadang Kita Terlalu Keras Pada Diri Sendiri. Menjadi dewasa ku kira itu mudah. Tapi saat kujalani ternyata semua berliku, bahkan untuk memahami emosiku sendiri kadang aku masih kesulitan. Dewasa yang kumaksud adalah dewasa secara emosi. Hingga tahun lahirku memasuki tahun ke 40 ini aku masih merenungkan ada arti kedewasaan emosi itu.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menulis inipun aku masih sulit menjelaskan emosiku hari ini. Aku tak suka, tapi tak sepenuhnya bisa mengungkapkannya. Apa benar aku belum dewasa secara emosi? Kurasa sepertinya iya. Jika kedewasaan emosi diangkap bisa hadir dalam setiap perasaan yang dirasakan tanpa dikuasai dan tanpa menyangkalnya maka iya aku kurang dewasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semakin banyak kubaca semakin banyak label yang kuterima tentang perasaan dan emosi ini. Jadi lebih baiknya ku tuliskan saja dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari ini Alhamdulillah aku berhasil pergi sendiri mengurus sekolah Faqih di Jepang. Aku peri ke kantor City Hall Toyonaka Osaka dengan bermodalkan google map. Sesampainya disana aku bermodalkan google translate.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegalauanku akan sekolah TK terdekat yang sudah penuh membuatku ingin mengajukan formulir di sekolah yang masih terbuka peluangnya untuk masuk  ditahun ajaran ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepulangnya dari City hall aku rencananya ingin belanja, maka aku bersepeda hampir 6KM pulang pergi. Kelelahan sekali kerena jalur pulang ku mendaki. Mungkin ini yang membuat emosiku jadi kurang stabil. Sepulang belanja aku memasak makan malam, aku tak sempat menyimak semua celotehan anak-anakku. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat mereka tidur, aku lanjut food prep untuk besok pagi agar tidak ada yang terlambat kesekolah. Salah satu tantangan sekolah di Jepang ini adalah, kami tidak bisa ikut menikmati MBG di sekolah karena sudah pasti hampir semua menu utamanya tidak halal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah kelelahan fisik  bisa menimbulkan kelelahan mental? Mungkin juga itu yang membuat emosiku campur aduk. Mungkin hari aku terlalu cepat menilai diriku sedang tidak baik secara emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal aku tahu mungkin tubuhku hanya sedang kelelahan. Ternyata, aku lelah dan butuh istrirahat.&#8221; Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri tanpa mau menerima sinyal tubuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sinyal tubuhku sudah menyerah dan mengibarkan bendera putih tapi masih tetap kupaksakan. Seperti tadi saat aku pulang berbelanja. Setelah mengayuh sepeda 1.5KM aku kelelahan melalui tanjakan yang cukup terjal. Aku tetap berusaha mengayuh sepedaku walau pahaku panas, napasku ngos ngosan dan keringat ku bercucuran. Padahal suhu Jepang saat ini 3 derajat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Osaka- 3 April 2026</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/kadang-kita-terlalu-keras-pada-diri-sendiri/">Kadang Kita Terlalu Keras Pada Diri Sendiri</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3425</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menghadapi Anak yang Suka Mengadu Tanpa Mematahkan Kepercayaan Mereka</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/02/menghadapi-anak-yang-suka-mengadu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2026 16:02:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3417</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Umi&#8230; Adik pakai barang kakak tanpa izin!&#8221;Belum sempat aku menjawab, suara lain ikutan menyusul.&#8220;Cuma pakai sebentar lho..&#8221;. Pagi hari, kalimat seperti ini bisa kudengar berkali-kali, sahut menyahut. Aku yang memasak di dapur, kadang baru duduk sejenak untuk menyeruput kopiku yang mulai dingin pun bahkan tak sempat langsung meriubah ekspresi wajahku. Adegan selanjutnya, kakak mulai berlari mengejar adik, adiknya lari ke arahku di dapur. Tidak pernah ada masalah yang mendesak (dimataku) tapi kenapa kejadian seperti ini membuat tenagaku terkuras. &#8211; Menghadapi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/menghadapi-anak-yang-suka-mengadu/">Menghadapi Anak yang Suka Mengadu Tanpa Mematahkan Kepercayaan Mereka</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Umi&#8230; Adik pakai barang kakak tanpa izin!&#8221;<br>Belum sempat aku menjawab, suara lain ikutan menyusul.<br>&#8220;Cuma pakai sebentar lho..&#8221;. <br>Pagi hari, kalimat seperti ini bisa kudengar berkali-kali, sahut menyahut. Aku yang memasak di dapur, kadang baru duduk sejenak untuk menyeruput kopiku yang mulai dingin pun bahkan tak sempat langsung meriubah ekspresi wajahku. Adegan selanjutnya, kakak mulai berlari mengejar adik, adiknya lari ke arahku di dapur. Tidak pernah ada masalah yang mendesak (dimataku) tapi kenapa kejadian seperti ini membuat tenagaku terkuras. &#8211; Menghadapi Anak yang Suka Mengadu Tanpa Mematahkan Kepercayaan Mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sering aku berfikir, bagaimana ya cara merespon ini dengan baik, namun yang bisa ku lakukan akhirnya hanyalah menarik nafas panjang. Jika napas panjang tak sempat lagi ku lakukan maka tahap selanjutnya adalah wajah tak bahagiaku. Kadang hatiku kacau bukan karena ini bukan masalah besar, tapi karena aku merasa ini kok nggak habisnya ya.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Menghadapi anak yang suka mengadu, membuat hatiku sering bertanya <br>&#8220;Apakah ini karena mereka bergantung padaku?&#8221;<br>&#8220;Gimana kalau mereka mengadu karena mereka yakin aku pasti mendengarkan?&#8221;<br>&#8220;Bagaimana kalau aku yang membuat mereka suka mengadu?&#8221;<br>&#8220;Kapan mereka berhenti&#8230;&#8221;</p>



<h2 class="wp-block-heading">Aku dan Cerita-ceritaku</h2>



<p class="wp-block-paragraph"> Aku suka sekali bercerita, kepada ayahku, kepada ibuku dan kepada suamiku. Bahkan aku sering mengatakan pada suamiku, aku ingin anak-anak tumbuh dengan kebiasaan bercerita. Mereka mau menceritakan segala hal yang mereka alami hari ini di meja makan saat makan malam. Mereka mau berbaring di kamarku sebelum tidur untuk bercerita. Bukankah aku yang ingin anakku menceritakan segala hal padaku. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang, saat mereka mengadukan ini itu aku kesal. Saat adik menceritakan kakaknya melakukan salah atau kakak menceritakan adiknya merepotkan guru di sekolah kenapa aku kesal. Malah di dalam hatiku, aku ingin mereka berhenti dengan aduan-aduan ini. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana jika responku yang salah malah membuat mereka tidak mau banyak bicara dan malah tidak mau menceritakan apa-apa sama sekali.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mengadu vs Bercerita</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menulis paragraf diatas, akhirnya aku pahami. Ternyata ada beberapa ketakutanku sehingga aku tidak totalitas dalam bersikap dan kejadian ini berulang dan berulang terus terjadi. Lalu bagaimana bersikap bijak dan tidak terlalu membesarkan dalam menghadapi aduan dan laporan-laporan kecil?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku ingin merefleksikan apa yang telah terjadi selama ini. </p>



<ul class="wp-block-list">
<li><strong>Pertama, aku merespon terlalu cepat setiap aduan. Sehingga langsung berpikir anak mengadu itu melelahkan. </strong></li>



<li><strong>Kedua</strong>,<strong> karena aku lelah mendengarnya akhirnya aku menilai setiap laporan kecil sebagai kebiasaan mengadu yang harus dihentikan.</strong> Padahal setelah kupikir lagi, tidak semua cerita lahir dari keinginan menjatuhkan. Ada yang hanya karena anak-anakku ingin didengar, ingin ditemani, atau belum tahu bagaimana menyampaikan perasaannya dengan tepat. </li>
</ul>



<h3 class="wp-block-heading">Jadi… Apa Bedanya?</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Aku mencoba mencari cara untuk menjelaskan kepada anak-anakku tentang sikap mereka selama ini. Apa itu bercerita dengan seru dan apa itu bercerita untuk mengadukan orang lain. Berikut beberapa catatan yang ku buat untuk ku bahas bersama anak-anak. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mengadu karena ingin menjatuhkan</strong>. Apa itu mengadukan karena ingin menjatuhkan? ika ada anak yang mengadukan anak lain biasanya tujuannya:<br>1. Ingin membuat orang lain dimarahi.<br>2. Mencari posisi “aku yang benar”.<br>3. Ingin menang.<br>Contoh: “Umi, Kakak tadi nggak sikat gigi!” Padahal tidak berdampak langsung. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bercerita karena ingin berbagi</strong>. Apa itu bercerita karena ingin berbagi? Yaitu saat kamu hanya ingin:<br>1. Umi mendengarkanmu.<br>2. Kamu ingin Umi tahu hal yang kamu lakukan/ terjadi.<br>3. Kita bisa ngobrol seru dan berbagi pengalaman.<br>Contoh: “Umi, tadi aku dan Kakak ada ujian dadakan!”<br>Tidak ada agenda tersembunyi, apalagi yang membuat orang lain tidak nyaman<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>



<p class="wp-block-paragraph">Terus gimana caranya agar anak-anak selalu ingat? Aku membuatkan catatan dan kutempel di dinding. Ini berlaku beberapa hari ini. Jadi saat ada kejadian, aku hanya menunjuk dinding itu. Kata yang ku tuliskan.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau kamu cerita supaya seseorang dimarahi, itu namanya mengadu.<br>Tapi kalau kamu cerita karena butuh bantuan atau ingin berbagi, itu namanya bercerita.<br>Umi selalu mau dengar cerita.”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Aku nggak tahu apakah cara ini tepat dan akan bekerja dengan baik. Tapi aku ingin mereka bisa membedakan mana cerita yang perlu kupeluk sebagai bentuk kepercayaan, dan mana yang perlu perlahan kuarahkan agar mereka belajar menyelesaikan hubungan, bukan sekadar melaporkan kesalahan orang lain gitu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Terima kasih untuk diriku dan tulisan yang kupaksakan untuk hadir ini. Malam ini aku sadar, apa ketakutanku, apa yang telah ku lakukan dan apa yang akan terus ku usahakan.Aku akan terus belajar, bagaimana caranya anak-anak tetap mau mengadu. Tapi mengadukan hal hal baik, hingga mereka yakin ada niat baik di balik kata-katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ternyata dalam setiap aduan mereka itu tidak hanya hal buruk tapi hal hal kecil tapi bermakna. Seperti memahani niat sendiri saat bercerita/mengadu. Karena kelak di dunia yang luas ini , nggak hanya kemampuan berbicara yang harus menjaga mereka tapi juga kejujuran di dalam setiap kata-kata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Osaka- 2 Februari 2026</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/menghadapi-anak-yang-suka-mengadu/">Menghadapi Anak yang Suka Mengadu Tanpa Mematahkan Kepercayaan Mereka</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3417</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ujian yang Berbeda Setiap Levelnya</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/02/ujian-yang-berbeda-setiap-levelnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 14:58:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Jadi Ibu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3411</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ujian yang Berbeda Setiap Levelnya. Rumahku surgaku. Kita mungkin sering mendengar kalimat itu. Saat mendengar istilah ini pasti yang terefleksikan adalah rumah sebagai tempat yang penuh kasih sayang, menjadi pusat spiritual, hingga mwmbawa banyak keberkahan. Itu adalah harapan bagi semua orang yang membangun rumah tangga, yaitu bisa menciptakan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Tapi adakah rumah tangga tanpa ujian? Tidak ada rumah tangga yang benar-benar tanpa ujian. Dulu aku memahami kalimat ini sebagai sesuatu yang jauh sekali, kayak seolah-olah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/ujian-yang-berbeda-setiap-levelnya/">Ujian yang Berbeda Setiap Levelnya</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ujian yang Berbeda Setiap Levelnya.</strong> Rumahku surgaku. Kita mungkin sering mendengar kalimat itu. Saat mendengar istilah ini pasti yang terefleksikan adalah rumah sebagai tempat yang penuh kasih sayang, menjadi pusat spiritual, hingga mwmbawa banyak keberkahan. Itu adalah harapan bagi semua orang yang membangun rumah tangga, yaitu bisa menciptakan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Tapi adakah rumah tangga tanpa ujian?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada rumah tangga yang benar-benar tanpa ujian. Dulu aku memahami kalimat ini sebagai sesuatu yang jauh sekali, kayak seolah-olah ujian itu datang dalam bentuk peristiwa besar. Tapi sekarang aku mengerti, ujian sering hadir dalam bentuk yang sangat sehari-hari. Tidak selalu mengguncang rumah tangga, hanya datang mungkin datangnya berulang… sampai menguras hati.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Diantara Hal yang Ku Sebut Ujian</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Beragam ujian yang ada dalam rumah tangga, aku sempat berfikir apa kira-kira ujian rumah tanggaku? Ternyata tak lama setelah ku bertanya Allah dengan mudah menjawabnya &#8220;Ujianmu saat ini ada pada anak-anak mu sendiri.&#8221; Mungkin ada yang berfikir ujian pada anak itu biasa saja. Itu sudah sewajarnya. Namun tidak bagiku, saat tadi mengalaminya aku merasa dadaku menjadi penuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari ini mereka bertengkar lagi. Tepat saat akan berangkat bepergian. Hal kecil seperti biasanya. Tapi entah mengapa, dadaku terasa lebih penuh dari biasanya. Entah hal ini kecil hanya bagiku tapi bagi mereka tidak, tapi tetap rasanya aku yang ingin menangis meraung-raung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan karena mereka anak-anak yang sulit. Tapi karena menjadi ibu ternyata jauh lebih menguji daripada yang pernah kubayangkan. Makin bertambahnya usia mereka, makin tak terbayangkan olehku apa yang harus kulakukan. Segala teori <em>parenting </em>yang dulu ku pelajari sekarang terasa hambar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat telah sampai di fase seperti ini ternyata yang diuji bukan hanya kesabaranku, tapi juga caraku memahami mereka dan memahami diriku sendiri sebagai ibu. Kadang ada pertanyaan, kenapa sesulit ini? Apa ibu lain bisa melewatinya? Aku bertanya apakah hanya aku yang kurang persiapan sehingga merasa tergopoh di ujian ini? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku yakin tidak hanya aku. Banyak juga ibu yang lelah diluar sana. Namun kali ini aku lelah menenangkan hati mereka sementara hatiku sendiri belum tentu tenang. Kadang aku ingin diam saja tapi hatiku tidak bisa. Apa harusnya aku memang diam saja? Tapi semakin aku diam, semakin mereka mendekatiku dengan beragam aksi. Ku kira dengan bertambahnya anak bertambah juga <em>skill</em> ku dan ini mudah ku lewati. Ternyata tidak begitu. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Ternyata Aku (juga) Butuh Ruang Tenang</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tadi siang akhirnya kami menunda untuk pergi. Setelah segala kehebohan dan akhirnya anak-anak menangis dan akupun menangis karena tak tahu lagi harus bersikap apa. Suamiku mendampingi mereka dengan tenang. Aku juga diminta menenangkan diri sendiri. Setiap kejadian seperti ini, maka suamiku lah teman terbaik karena dia tetap bisa bersikap tenang, mengambil <em>view </em>yang berbeda dan mendengarkan semua orang dengan bijak. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menenangkan diri, ku hidupkan setrika dan ku setrika baju mereka yang rencananya ku lakukan setelah pulang bepergian. Diam menyetrika, aku tak tahu apa yang mereka bahas, tapi yang pasti hatiku sibuk sendiri seperti tanganku yang sibuk. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah tanganku yang sibuk, hatiku yang kelelahan ini mulai tenang, perlahan aku coba melihat dari <em>point of view</em> yang berbeda untuk memahami situasi ini. Bahwa mungkin ujian ku bukan tentang anak-anakku yang bertengkar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun lebih tentang diriku sendiri. Beberapa pekan ini suamiku sudah mengingatkan aku untuk lebih bertumbuh, dan lebih dewasa menyikapi banyak hal. <strong>Sekarang aku serasa diuji, seberapa luas hatiku bisa bertumbuh.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak bertengkar itu biasa. Tapi diriku, seberapa sabar aku menghadapinya. Jika aku belum cukup sabar maka aku belajar lagi dan lagi. Anak saling mengadu itu juga biasa. Tapi diriku, seberapa tenang aku merespon? Apakah aku bisa tetap lembut memilih untuk koneksi dulu, bukan reaksi. Seberapa kuat aku menahan suara agar tidak berubah menjadi luka bagi mereka.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Ternyata (lagi) Ini Tentang Aku</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menulis malam ini, makin aku sadari ternyata ini bukan tentang pertengkaran anak-anak. Ternyata ini tentang aku yang diuji dengan kemampuan ku sendiri. Seberapa banyak aku belajar hari ini. Sampai pada setrikaanku yang nomor sekian aku masih terisak. Terisak dalam diam itu sungguh tak enak. Lalu suamiku masuk kamar dan menyampaikan perasaan anak-anaknya. Beberapa poin yang ternyata tak terlihat olehku. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku diam mendengarkan suamiku, ternyata benar ini tentang aku. Sungguh apakah sikap dewasa dan tenang itu masih jauh dariku. Aku makin pahami, menjadi ibu ternyata bukan hal yang mudah. Ternyata yang ku ketahui masih kurang. Ada banyak hal-hal baru yang harus ku pelajari sesuai umur mereka. Aku harus bersedia melihat dari cara mereka.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hari ini, aku belajar lagi dan lagi, agar bisa memperbaiki diri setiap hari. Lebih cepat meminta maaf ketika salah. Lebih cepat belajar lagi ketika merasa salah. Hingga akhirnya ku putuskan untuk menulis surat yang berbeda untuk mereka. Masing-masing ku tuliskan surat, bukan nasehat. Hanya surat tentang aku yang hadir disini. Ku berikan kepada masing-masing, lalu aku berjalan ke dapur. Tak berapa lama mereka keluar berlarian memelukku. Pas bersamaan dan tetap bertengkar siapa yang memeluk duluan. Ternyata pelajaran ini memang tanpa akhir.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Apa Layak Kutuliskan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kadang hal seperti ini takut untuk ku tuliskan. Padahal semakin ku tuliskan semakin aku pahami dan banyak yang kupelajari. Seperti malam ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam ini aku sadar… Mungkin anak-anakku adalah ujianku. Tapi anak-anakku tidak sedang mengujiku untuk menjatuhkanku atau membuatku gagal. Faktanya, mereka sedang membesarkanku. </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Anak-anakku sedang melatih hatiku agar lebih lapang.<br>Melatih emosi ku agar lebih tenang.<br>Melatih cintaku agar tidak bersyarat.</em></strong></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, Allah tidak sedang memberiku ujian karena aku kuat. Tapi karena melalui anak-anakku, Dia sedang menguatkanku. Jadi jika tadi seharian ini aku merasa lelah, bingung, atau sedih tidak apa-apa, semua ku terima dan ku tuliskan dengan tenang disini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Malam ini aku yakini aku tetap ibu yang bertumbuh. Jika ada yang kurang maka besok… aku akan mencoba lagi. Tetap ku ucapkan terima kasih untuk anak-anakku. Bukan mereka yang belajar dariku, tapi aku yang belajar setiap hari dari mereka. Semoga Allah mudahkan langkah-langkah ku dan juga kamu untuk mendidik anak-anak kita hingga tumbuh menjadi anak yang bisa kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT dengan wajah tegak sambil berkata &#8220;Aku sudah di versi yang terbaikku ya Allah.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Osaka- 1 Februari 2026<br>@umi.journey</p>



<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph"></p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/02/ujian-yang-berbeda-setiap-levelnya/">Ujian yang Berbeda Setiap Levelnya</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3411</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tentang Jarak yang Pernah Aku Minta Sendiri</title>
		<link>https://www.ekamustikasari.com/2026/01/tentang-jarak-yang-pernah-aku-minta-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ekamustikasari]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jan 2026 14:58:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.ekamustikasari.com/?p=3401</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tentang Jarak yang Pernah Aku Minta Sendiri. Pernahkah kau punya doa, yang kadang kau takut saat doa itu dikabulkan? Itulah yang ku alami selama 8 tahun ini dan beberapa bulan lagi akan menjadi 9 tahun. Ada fase dimana hatiku terluka, luka yang aku sendiri tidak ingin menerimanya dan ingin mengabaikannya. Namun, yang namanya luka dia akan selalu ada jika tak kau obati. Saat hatiku terluka di kelahiran putri kedua ku, 9 tahun lalu, aku meminta kepada Allah dengan air mata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/01/tentang-jarak-yang-pernah-aku-minta-sendiri/">Tentang Jarak yang Pernah Aku Minta Sendiri</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tentang Jarak yang Pernah Aku Minta Sendiri</strong>. Pernahkah kau punya doa, yang kadang kau takut saat doa itu dikabulkan? Itulah yang ku alami selama 8 tahun ini dan beberapa bulan lagi akan menjadi 9 tahun. Ada fase dimana hatiku terluka, luka yang aku sendiri tidak ingin menerimanya dan ingin mengabaikannya. Namun, yang namanya luka dia akan selalu ada jika tak kau obati. Saat hatiku terluka di kelahiran putri kedua ku, 9 tahun lalu, aku meminta kepada Allah dengan air mata dan menyampaikannya dengan terisak kepada kekasih hatiku bahwaku aku ingin jarak yang jauh sekali. </p>



<h2 class="wp-block-heading">Pikiran dan Hati yang Tak Sepakat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Memang manusia itu layak ditertawakan untuk menjadi pilihan, kadang dia egois sekali, kadang dia tamak, sering juga dia berbuat baru menyesali. Semuanya dengan dalih &#8220;namanya juga manusia tempatnya khilaf&#8221;. Terdengar ringan bagi yang mengucapkan tapi belum tentu ringan bagi yang menjadi &#8220;korban&#8221; dari dalih tersebut. Seperti itulah saat kita terluka. Sulit sekali menerima dalih dan juga merasa diri sebagai korban. Namun ada kalanya kita di posisi sebaliknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat hatiku terluka, aku sering kali mengambil sisi yang berbeda untuk melihat lukaku. Contohnya saat aku marah dan benci karena ada yang melukai perasaan ku, maka aku akan berfikir &#8220;Mungkin aku pernah juga melukai perasaannya, tapi dia tidak menyampaikan amarahnya padaku. Mungkin dia memaafkan ku karena kasih sayang di hatinya. Maka kali ini aku juga tidak akan menyampaikan rasa amarahku dan akan ku maafkan&#8221;. Terdengar baik ya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi ternyata tidak seperti ini, kurasa. Tidak membicarakan perasaan kita ternyata tidak membuat semua hal menjadi baik-baik saja. Aku sempat mengira, memaafkan tanpa bicara adalah jalan terbaik. Mari kita lupakan saja luka-luka seperti angin yang baru berembus dan berlalu. Namun ternyata pikiran dan hatiku tidak sepakat tentang itu.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Perlukah Luka diberi Ruang Bicara?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menulis ini, aku mulai berfikir apakah benar aku seperti yang kutulis diatas? Apakah aku orangnya yang memilih untuk diam dan melupakan tanpa memberikan ruang bicara untuk luka-luka ku. Hampir sembilan tahun berlalu dan air mataku masih ada saat aku menceritakannya. Haruskah sekarang kuberi dia ruang agar air mataku berhenti dan luka ku sembuh?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang mengenal ku saat usia belia ku mungkin tak akan percaya membaca aku sekarang memilih diam. Yang tak tahan melihat orang lain di pojok dan tak diajak saat bersama, yang tak tahan melihat sesuatu yang tak adil berlaku sekarang memilih diam. Ternyata sembilan tahun bisa mengubah banyak hal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Luka yang tidak diberikan ruang untuk bicara kurasa dia bisa berubah bentuk. Kadang mungkin bisa berubah bentuk menjadi jarak, kadang berubah bentuk untuk pergi menjauh atau mungkin menjadi doa dan harapan yang membuat itu bisa dengan mudah terkabul.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Doa yang Dikabulkan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dilukai oleh orang yang kau yakin akan mencintaimu sepanjang napasmu dan orang yang selalu kau doakan dalam sholatmu itu adalah hal yang tak mudah. Banyak pertanyaan yang muncul, kenapa mereka bersikap seperti itu, kenapa semuanya terasa aneh bagiku, bukankah katanya setelah melahirkan perempuan itu harus dijaga dan dirawat tapi kenapa aku berbeda. Dimana salahnya? Dan puluhan pertanyaan lainnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat hatimu terluka, sahabat terbaik yang bisa kamu genggam salah satunya mungkin adalah doa. Paling tidak itu yang dulu ku rasakan. Meratapi perasaan ku dalam doa. Lalu saat kekasih hatiku pulang bekerja dan dia sampai dirumah maka dia akan mendengarkan celoteh istrinya yang berurai air mata menceritakan kembali isi doa-doanya. Sambil mendengarkan dia akan mengusap kepala istrinya ini sambil berkata &#8220;Oke nanti kita pergi jauh ya ke negara yang indah&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, harapan pergi jauh itu Allah kabulkan. Melewati tiga negara, Allah memudahkan perjalananku menjauh dan terbang. Allah tetapkan negara indah, dengan perantara suamiku tercinta. Tentu saja rasa bahagianya tak terhingga. Tapi apakah dengan pergi ke negara yang jauh ini, otomatis mengobati lukaku?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku tak bisa jawab sekarang, saat ini aku akan mengobati lukaku dengan doa serta jarak yang telah Allah bentangkan ini sesuai dengan apa yang kuminta. Apakah aku egois semuanya ku minta dengan doa? Aku yakin Allah suka. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang jarak itu sudah menjadi nyata. Aku malah tak mengerti perasaanku sendiri, aku juga tak paham untuk melabelinya dengan kata-kata. Apakah bahagia?. Rindu, sedih tapi juga ada perasaan lain yang masih tidak kupahami. Aku rasa itu mungkin tak apa-apa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Aku akan memberikan ruang nyaman itu untuk hatiku memahaminya. Seperti dengan berani menuliskannya disini setelah hampir sembilan tahun berlalu. Aku merasa cukup baik dengan progres ku ini.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Mendekat ke Diri Sendiri</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ditempat nan jauh dan indah ini, Allah berikan aku waktu, kesempatan dan ruang yang nyaman untuk aku  melihat ke dalam diriku sendiri. Saat ini akan ku nikmati proses ini dengan perlahan. Akan ku bujuk hatiku dan akan ku rangkai lagi doa-doa untuk meminta pada Allah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan ku pulihkan diri dan akan ku pilihkan kata-kata indah agar Allah melirik ku. Aku akan melihat kasih sayang Allah itu begitu nyata, kuat dan dekat. Aku akan mengambil banyak kesempatan untuk bermanja-manja.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Luka dihatiku mungkin tidak langsung sembuh, dan aku juga tak ingin bersegera dia untuk sembuh. Aku akan coba memahami segala perasaanku yang ada ini. Mungkin tidak semua perasaan itu harus dinamai. Terima kasih untuk waktu yang kumiliki ini. Semoga Allah selalu menyayangiku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Osaka &#8211; 31 Januari 2026<br>@Umi.Journey</p>
<p>The post <a href="https://www.ekamustikasari.com/2026/01/tentang-jarak-yang-pernah-aku-minta-sendiri/">Tentang Jarak yang Pernah Aku Minta Sendiri</a> appeared first on <a href="https://www.ekamustikasari.com">Umi Journeys</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">3401</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Object Caching 0/180 objects using Memcache
Page Caching using Disk: Enhanced 
Database Caching using Disk (Request-wide modification query)

Served from: www.ekamustikasari.com @ 2026-10-11 04:39:52 by W3 Total Cache
-->